Banda Aceh, Infoaceh.net – Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar ST mengajak generasi muda meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai perilaku yang dinilai berisiko terhadap kesehatan, menyusul meningkatnya jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh.
Ajakan tersebut disampaikan Farid saat menggelar Reses II Masa Persidangan III DPRK Banda Aceh Tahun 2026 bersama kalangan pemuda di Aula Bapelkes Aceh pekan lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Farid menyoroti data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh yang mencatat hingga akhir Mei 2026 terdapat 909 kasus HIV/AIDS, terdiri atas 745 kasus HIV dan 164 kasus AIDS.
Menurutnya, mayoritas kasus terjadi pada kelompok usia produktif sehingga memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat.
Farid menyebut peningkatan kasus HIV/AIDS dipengaruhi oleh perilaku seksual berisiko. Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan fenomena LGBT yang menurutnya perlu diwaspadai oleh generasi muda.
“Pemuda Banda Aceh harus waspada. Peningkatan kasus HIV/AIDS yang signifikan ini menjadi ancaman bagi ketahanan sosial dan moral bangsa. Budaya LGBT bertentangan dengan nilai Pancasila dan budaya bangsa kita. Karena itu, generasi muda tidak boleh terjebak dalam perilaku berisiko,” ujar Farid dalam keterangannya, Jum’at (10/7/2026).
Ia juga mengungkapkan, berdasarkan informasi yang disampaikannya, penanganan kasus oleh Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Banda Aceh pada Februari 2026 menemukan tiga orang yang terkonfirmasi positif HIV dalam sebuah kasus yang berkaitan dengan aktivitas LGBT.
Farid menilai kondisi tersebut menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi, penguatan nilai agama, serta pembinaan terhadap generasi muda.
Selain itu, ia mengatakan ajakan tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 yang menurutnya memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nonmiliter terhadap ketahanan negara.
Menurut Farid, pemuda memiliki posisi strategis dalam membantu pemerintah menekan laju penyebaran HIV/AIDS.
Peran tersebut dapat diwujudkan melalui edukasi kepada teman sebaya di lingkungan sekolah, kampus, maupun komunitas, serta menyebarkan informasi kesehatan yang benar kepada masyarakat.
Ia juga mengajak generasi muda menerapkan pola hidup sehat dengan menghindari perilaku berisiko serta mendukung berbagai program Pemerintah Kota Banda Aceh, termasuk skrining kesehatan secara dini.
“Saya percaya pemuda Banda Aceh adalah garda terdepan dalam menjaga moralitas dan kesehatan masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemuda harus menjadi mitra strategis dalam menekan angka HIV/AIDS melalui edukasi sebaya, kampanye hidup sehat, dan keterlibatan aktif dalam program skrining,” katanya.
Menurut Farid, kolaborasi antara pemerintah, keluarga, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan kalangan pemuda menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari berbagai perilaku yang berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit menular.
Sementara itu, salah seorang peserta reses dari Gampong Lambaro Skep, Firdausi, menyatakan dukungannya terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS yang melibatkan generasi muda.
“Kami sebagai pemuda merasa punya tanggung jawab besar. Apa yang disampaikan Pak Farid menjadi pengingat bahwa kami harus ikut turun tangan. Kami siap membantu pemerintah dengan cara sederhana, seperti mengedukasi teman sebaya, ikut kampanye hidup sehat, dan menjauhi perilaku berisiko. Ini bukan hanya untuk diri kami, tetapi juga untuk masa depan Banda Aceh,” ujarnya.
Kegiatan reses tersebut tidak hanya menjadi forum penyerapan aspirasi masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, memperkuat nilai-nilai agama, serta meningkatkan kesadaran generasi muda agar menjauhi perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV/AIDS.


















