Banda Aceh, Infoaceh.net — Pemerintah Aceh menegaskan pentingnya percepatan pemanfaatan kayu gelondongan hanyut yang terbawa banjir bandang di sejumlah wilayah Aceh.
Kayu-kayu tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber daya material untuk mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, terutama bagi masyarakat terdampak.
Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun, saat memimpin Rapat Koordinasi Tim Pemanfaatan Kayu Hanyutan di Ruang Rapat Potensi Daerah, Sekretariat Daerah Aceh, Senin (26/1/2026).
Dalam arahannya, M. Nasir menekankan perlunya aktivasi segera tim pemanfaatan kayu hanyutan agar proses identifikasi, pendataan, hingga pemanfaatan kayu dapat berjalan optimal.
Menurutnya, keterlambatan penanganan berpotensi menyebabkan kayu mengalami kerusakan, hanyut kembali, atau bahkan hilang, sehingga tidak lagi dapat dimanfaatkan.
“Tim ini harus segera diaktifkan. Optimalisasi kerja sangat penting, mengingat volume kayu hanyutan saat ini cukup masif di beberapa daerah terdampak banjir,” ujar M. Nasir.
Ia menambahkan, percepatan tersebut harus dibarengi dengan mekanisme kerja yang jelas, terukur, dan terkoordinasi dengan baik lintas instansi.
Hal ini bertujuan agar seluruh tahapan pemanfaatan kayu hanyutan dapat dilakukan secara cepat, efektif, dan akuntabel.
Lebih lanjut, M. Nasir menargetkan agar seluruh proses pemanfaatan kayu hanyutan ini dapat diselesaikan sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Ia juga menegaskan bahwa kayu hanyutan tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat terdampak bencana, bukan untuk tujuan komersial atau keuntungan pribadi.
“Kayu ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, terutama untuk pembangunan kembali rumah dan fasilitas umum yang rusak. Seluruh prosesnya harus dikawal dengan baik agar tidak terjadi penyalahgunaan,” tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, A. Hanan menjelaskan bahwa Tim Pemanfaatan Kayu Hanyutan memiliki tiga tugas utama.
Pertama, melakukan identifikasi dan pendataan kayu yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber daya material.
Kedua, menetapkan status kayu terbawa banjir menjadi kayu hanyutan melalui deklarasi bersama lintas pihak.
Ketiga, mengurus penerbitan surat keterangan legalitas kayu hanyutan agar dapat dimanfaatkan secara sah.
“Kayu hanyutan ini hanya akan digunakan untuk pembangunan fasilitas umum serta rumah masyarakat terdampak bencana. Tidak untuk diperjualbelikan,” jelas Hanan.
Ia melaporkan, hingga saat ini proses identifikasi telah dilakukan di sekitar 50 titik lokasi terdampak banjir di berbagai kabupaten/kota di Aceh. Proses tersebut masih terus berlanjut guna memastikan seluruh potensi kayu hanyutan dapat didata secara menyeluruh dan akurat.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Aceh, Kombes Pol Wahyudi, mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk segera membentuk tim aksi di tingkat daerah.
Tim tersebut diharapkan mampu mempercepat proses identifikasi, verifikasi, serta penetapan status hukum kayu hanyutan.
“Perlu dibentuk tim khusus di masing-masing sektor serta melibatkan lebih banyak tenaga ahli. Dengan begitu, proses identifikasi dan penentuan status kayu dapat berjalan lebih cepat dan akurat,” ujarnya.
Wahyudi mengimbau para kepala daerah agar tidak mendistribusikan kayu kepada masyarakat sebelum status hukumnya benar-benar jelas.
Langkah ini dinilai penting untuk menghindari potensi penyalahgunaan, pemanfaatan yang tidak tepat, hingga konflik terkait kepemilikan kayu.
“Distribusi harus menunggu kejelasan status hukum. Ini penting agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” tegasnya.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pascabencana secara bertanggung jawab, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan wilayah terdampak sekaligus meningkatkan efektivitas penanganan bencana di Aceh secara menyeluruh.

Kayu Gelondongan Hanyut Saat Banjir Aceh Harus Cepat Dimanfaatkan Sebelum Hilang
Artikel Terkait
LBH Banda Aceh Desak Proses Hukum Penembakan Warga Tiro Pidie,…
Banda Aceh, Infoaceh.net — Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Aulianda…
KontraS Aceh Kecam Penembakan Warga dalam Peringatan Maulid di Tiro
Tiro, Infoaceh.net -- Peristiwa penembakan di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten…
Mualem Jumpai Presiden Prabowo, Bahas Dana Otsus dan Sejumlah Isu…
JAKARTA, Infoaceh.net – Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) bertemu Presiden Prabowo…
Bentrokan TNI dengan Warga Saat Pengibaran Bulan Bintang di Tiro…
PIDIE, Infoaceh.net – Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Kenari,…
Kajati Aceh Minta Arahan Wali Nanggroe, Perkuat Regulasi dan…
Banda Aceh, Infoaceh.net – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh Teuku Rahmatsyah SH MH…
Kecewa Mualem di Luar Kota, Mahasiswa Bakar Ban dan Rusak Pagar Kantor…
BANDA ACEH, Infoaceh.net — Ratusan mahasiswa yang mayoritas berasal dari Universitas Islam…
Mualem Temui Kapolri, Apresiasi Pemberantasan Narkoba di Aceh
JAKARTA, Infoaceh.net – Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) melakukan silaturahmi dengan…
Aceh Desak Pusat Segera Tuntaskan Tiga Persoalan: Dana Otsus, Bendera…
JAKARTA, Infoaceh.net – Pemerintah Aceh mendesak Pemerintah Pusat segera memberikan…
Pidie Jaya Dikepung Banjir Luapan, 18 Gampong Terendam
PIDIE JAYA, Infoaceh.net – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah…
Digerebek Istri di Rumah Dinas, Dugaan Perselingkuhan Ketua DPRK Nagan…
Nagan Raya, Infoaceh.net — Jagat maya dan masyarakat Aceh dihebohkan dengan kabar…
Perang Narkoba Minim Dana, Belanja Kantor BNNP Aceh Tembus Rp1,48…
Anggaran penindakan narkoba BNNP Aceh disebut hanya Rp1 miliar. Data RUP menunjukkan tiga…
Anggaran Makan Minum DPRA Capai Rp55,98 Miliar
BANDA ACEH, Infoaceh.net — Anggaran makanan dan minuman di lingkungan Dewan Perwakilan…

















