Ekonomi

Listrik Aceh Pulih Pascablackout Sumatera, PLN Pastikan Sistem Kembali Normal

Banda Aceh, Infoaceh.net – Setelah mengalami pemadaman listrik massal (blackout) yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh dan sejumlah provinsi di Sumatera, PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh memastikan sistem kelistrikan di Provinsi Aceh telah berhasil dipulihkan sepenuhnya pada Ahad (24/5/2026) dini hari.

Informasi tersebut disampaikan PLN UID Aceh melalui pembaruan resmi pada 24 Mei 2026 pukul 05.07 WIB, yang menyebutkan bahwa seluruh sistem kelistrikan di Aceh kini kembali beroperasi normal pascagangguan besar yang terjadi pada jaringan interkoneksi Sumatera.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Dalam keterangan resminya, PLN Aceh menyampaikan bahwa pemulihan berhasil dilakukan setelah proses penanganan intensif selama lebih dari satu hari penuh sejak terjadinya blackout yang menyebabkan ribuan pelanggan di berbagai kabupaten/kota mengalami pemadaman.

“Sistem kelistrikan di wilayah Provinsi Aceh saat ini telah berhasil dipulihkan seluruhnya pascagangguan,” ujar Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, Ahad pagi.

PLN juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Aceh yang dinilai tetap bersabar selama proses pemulihan berlangsung, termasuk dukungan dari pemerintah daerah, aparat keamanan, instansi terkait, hingga seluruh pemangku kepentingan yang ikut membantu percepatan normalisasi sistem.

“PLN UID Aceh menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh stakeholder serta kesabaran masyarakat selama proses pemulihan berlangsung,” lanjut pernyataan tersebut.

Sebelumnya, blackout besar yang melanda Aceh dan sebagian wilayah Sumatera dipicu oleh gangguan pada jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kilovolt (kV) Muara Bungo–Sungai Rumbai di Provinsi Jambi pada Jum’at (22/5/2026).

Baca Juga:  Mualem Instruksikan Percepat Penyediaan Lahan Eks Kombatan GAM dan Penataan HGU

Gangguan pada transmisi utama tersebut menyebabkan sistem interkoneksi Sumatera mengalami ketidakseimbangan beban yang berujung pada pelepasan sejumlah pembangkit listrik secara otomatis untuk melindungi sistem dari kerusakan lebih besar.

Akibatnya, pasokan listrik di berbagai wilayah seperti Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh ikut terdampak.

Di Aceh sendiri, blackout terjadi secara meluas dan menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh selama berjam-jam.

Sejumlah wilayah di Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Lhokseumawe, Bireuen, Langsa hingga pantai Barat Selatan Aceh dilaporkan mengalami pemadaman total.

Kondisi tersebut mengganggu berbagai aktivitas penting, mulai dari layanan pemerintahan, fasilitas kesehatan, operasional perbankan, jaringan telekomunikasi, hingga sektor usaha masyarakat.

Bahkan, tidak sedikit warga yang mengeluhkan kesulitan memperoleh air bersih karena pompa listrik tidak dapat berfungsi. Banyak pelaku usaha kecil seperti warung kopi, UMKM makanan, hingga toko kelontong juga mengalami kerugian akibat terganggunya aktivitas ekonomi.

Di sejumlah titik di Banda Aceh dan daerah lainnya, masyarakat tampak memadati warung kopi atau tempat usaha yang memiliki genset hanya untuk mengisi daya telepon seluler dan mendapatkan akses internet.

PLN sebelumnya menyatakan telah mengerahkan ratusan personel teknis guna mempercepat pemulihan sistem kelistrikan Aceh. Pemulihan dilakukan secara bertahap dan terukur guna menjaga stabilitas jaringan agar tidak kembali mengalami gangguan saat beban listrik meningkat.

Pada Sabtu (23/5/2026), PLN sempat melaporkan bahwa sebagian gardu induk telah berhasil diaktifkan, sementara pasokan listrik dipulihkan secara bertahap ke sejumlah daerah prioritas seperti rumah sakit, fasilitas pelayanan publik, dan pusat pemerintahan.

Baca Juga:  LPS Sosialisasikan Peran Strategis dalam Menjaga Kepercayaan Masyarakat

Petugas PLN disebut bekerja selama 24 jam penuh untuk melakukan sinkronisasi sistem, pemeriksaan transmisi, hingga memastikan kestabilan frekuensi jaringan sebelum listrik dinyalakan secara penuh ke seluruh wilayah Aceh.

Pulihnya listrik di Aceh tentu membawa kelegaan bagi masyarakat setelah mengalami blackout besar yang berlangsung cukup lama. Namun di sisi lain, peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan serius mengenai ketahanan energi Aceh yang masih sangat bergantung pada sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).

Ketergantungan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor utama mengapa gangguan transmisi di provinsi lain dapat langsung berdampak besar terhadap Aceh. Ketika sistem utama terganggu, daerah yang berada di ujung jaringan seperti Aceh cenderung menjadi wilayah yang paling terdampak.

Sejumlah kalangan, termasuk anggota legislatif dan pengamat energi, sebelumnya telah mendorong pemerintah pusat serta PLN agar Aceh memiliki penguatan sistem kelistrikan yang lebih mandiri melalui optimalisasi pembangkit lokal, penambahan cadangan energi, hingga penguatan jaringan transmisi internal.

Blackout Aceh-Sumatera ini menjadi alarm penting bahwa sistem kelistrikan nasional memerlukan penguatan infrastruktur dan mitigasi risiko yang lebih matang agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.

Kini, setelah lebih dari sehari masyarakat hidup dalam keterbatasan akibat padamnya listrik, Ahad pagi menjadi kabar baik bagi warga Aceh.

Lampu kembali menyala, aktivitas mulai normal, namun evaluasi besar terhadap sistem kelistrikan diyakini baru saja dimulai.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait