Aceh Utara, Infoaceh.net – Aktivitas eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Aceh kembali bergerak. PT Pema Global Energi (PGE) bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara.
Pengeboran atau spud-in sumur tersebut dimulai pada Sabtu (31/10/2026) pukul 18.00 WIB. Rayeu D-1 menjadi sumur eksplorasi pertama yang ditajak di wilayah Aceh sepanjang 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PGE dalam mengembangkan potensi hidrokarbon di Wilayah Kerja (WK) Blok B sekaligus mencari tambahan cadangan migas untuk mendukung keberlanjutan produksi energi di Aceh.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa pengeboran Rayeu D-1 diharapkan membuka peluang penemuan cadangan hidrokarbon baru di wilayah tersebut.
“Alhamdulillah, Aceh mulai bergeliat lagi. KKKS PGE telah melakukan tajak sumur eksplorasi Rayeu D-1,” ujar Djoko dalam laporannya kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sebagaimana dikutip, Ahad (1/11/2026).
Menurutnya, pengeboran tersebut menjadi langkah strategis untuk mengonfirmasi potensi hidrokarbon berdasarkan hasil survei seismik 3D yang sebelumnya telah dilakukan di kawasan prospek Rayeu D.
Dalam pelaksanaannya, pengeboran Rayeu D-1 menggunakan metode pengeboran berarah (directional drilling) untuk mencapai zona reservoir yang menjadi sasaran eksplorasi.
Pengeboran menggunakan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 tenaga kuda (HP) yang dioperasikan oleh PT Bina Mitra Artha (BMA), perusahaan kontraktor nasional.
Sumur tersebut direncanakan mencapai kedalaman akhir 6.953 kaki (measured depth/ftMD) atau sekitar 6.894 kaki (true vertical depth/ftTVD).
Adapun target utama dan sekunder pengeboran berada pada reservoir batu pasir Formasi Lower Seurula, khususnya lapisan LS dan LS-2.
Deputi Perencanaan dan Operasi BPMA, Geferdi, menjelaskan bahwa rancangan pengeboran dilakukan berdasarkan pemetaan geologi dan geofisika untuk mengoptimalkan penetrasi pada zona target.
Melalui pengeboran ini, PGE berupaya memastikan keberadaan kandungan hidrokarbon pada struktur Rayeu D sekaligus mengetahui potensi keekonomian pengembangannya.
Bidik Potensi Gas 11 MMSCFD
Dari hasil evaluasi awal, sumur eksplorasi Rayeu D-1 memiliki target potensi produksi gas sekitar 11 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).
Selain gas bumi, sumur tersebut juga ditargetkan memiliki potensi produksi kondensat sekitar 300 barel per hari (barrels of oil per day/BOPD).
Target tersebut menjadi salah satu alasan penting dilakukannya pengeboran eksplorasi di struktur Rayeu.
Namun, potensi produksi tersebut masih harus dibuktikan melalui hasil pengeboran, evaluasi reservoir, serta pengujian sumur (well testing).
Apabila hasil eksplorasi sesuai dengan target, penemuan hidrokarbon di Rayeu D diharapkan dapat memberikan tambahan potensi produksi bagi WK Blok B yang selama ini menjadi salah satu wilayah kegiatan hulu migas di Aceh.
Pengembangan reservoir Lower Seurula juga dinilai strategis dalam menjaga keberlanjutan produksi hidrokarbon di kawasan tersebut.
Untuk merealisasikan pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1, PGE menyiapkan investasi sebesar US$17,53 juta berdasarkan persetujuan Authorization for Expenditure (AFE).
Seluruh rangkaian pekerjaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 50 hari operasi rig atau total 74 hari operasi hingga seluruh tahapan pekerjaan selesai.
Tahapan tersebut meliputi pengeboran, komplesi, pembersihan sumur hingga pengujian produksi.
Besarnya investasi tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam meningkatkan kegiatan eksplorasi serta mengoptimalkan potensi sumber daya migas di wilayah Aceh.
SKK Migas bersama BPMA dan PGE memastikan seluruh tahapan pekerjaan dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan lingkungan, serta efektivitas biaya operasi.
Dimulainya pengeboran Rayeu D-1 diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kembali kegiatan eksplorasi migas di Aceh, khususnya di wilayah Aceh Utara.
Selain berpotensi menambah cadangan dan produksi migas, keberhasilan eksplorasi tersebut juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui aktivitas operasional, keterlibatan tenaga kerja, serta peluang usaha pendukung industri hulu migas.
Dalam jangka panjang, pengembangan sektor migas di Aceh juga diharapkan berkontribusi terhadap penerimaan daerah dan memperkuat peran Aceh dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Djoko Siswanto turut mengharapkan dukungan dan doa agar pengeboran sumur eksplorasi tersebut menghasilkan temuan hidrokarbon yang lebih besar dari target awal.

















