Opini

Muswil ICMI Aceh: Saatnya Cendekiawan Bicara, Bekerja dan Mengubah Aceh

Aceh membutuhkan cendekiawan yang tidak hanya mampu membaca persoalan, tetapi juga berani ikut menyelesaikannya.

Oleh: Drs M Isa Alima (Pengurus ICMI Orwil Aceh)

ADVERTISMENT
Pelantikan Panglima Kodam Iskandar Muda

Sabtu, 12 September 2026, para cendekiawan Muslim Aceh akan berkumpul dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Orwil Aceh di Kota Banda Aceh.

Muswil tentu bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, menyusun program kerja, lalu ditutup dengan tepuk tangan dan foto bersama.

Lebih dari itu, Muswil seharusnya menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa yang dapat diberikan kaum cendekiawan kepada Aceh?

Aceh tidak kekurangan orang pintar. Aceh juga tidak kekurangan forum, seminar, diskusi, kajian maupun rekomendasi. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana pengetahuan dan gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan, inovasi serta solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Di sinilah ICMI harus mengambil posisi. Cendekiawan tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan. Cendekiawan harus menjadi bagian dari perubahan.

Ia dituntut mampu membaca persoalan lebih awal, menawarkan gagasan yang berani, sekaligus ikut mengawal agar arah pembangunan tetap berpihak kepada kepentingan manusia dan kemaslahatan masyarakat.

Aceh hari ini menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Kemiskinan, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, lapangan kerja, pembangunan ekonomi, tata kelola pemerintahan, lingkungan hidup hingga persoalan pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar wacana.

Baca Juga:  Diklat Laskar Gerindra Aceh: Menyatukan Kekuatan dan Pengabdian

Kita membutuhkan pengetahuan yang bekerja. Kita membutuhkan gagasan yang dapat diterapkan.

Dan kita membutuhkan orang-orang yang bersedia mengawal gagasan tersebut sampai menjadi kenyataan.

Dalam konteks inilah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga tidak boleh hanya dibicarakan sebagai teknologi masa depan.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa manfaat AI bagi rakyat Aceh hari ini?

Bagaimana AI dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil? Bagaimana teknologi dapat mempercepat pelayanan kesehatan?

Bagaimana petani dapat memperoleh informasi yang lebih akurat tentang cuaca, harga komoditas dan produktivitas? Bagaimana pelayanan publik dapat dibuat lebih cepat, transparan dan mudah diakses masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang semestinya menjadi bagian dari agenda kecendekiawanan Aceh.

Teknologi bukan tujuan. Teknologi adalah alat. Tujuannya tetap manusia: meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperluas kesempatan, mengurangi kesenjangan dan menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif.

Karena itu, ICMI Aceh perlu mendorong lahirnya ekosistem gagasan yang tidak berhenti pada ruang seminar. Perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas dan masyarakat sipil harus dapat dipertemukan dalam kerja-kerja nyata.

Cendekiawan harus berani keluar dari menara gading. Pengetahuan harus turun ke lapangan.

Kajian harus berujung pada rekomendasi yang operasional. Dan rekomendasi harus dikawal hingga melahirkan perubahan.

Baca Juga:  Bendera Aceh Identitas, Bukan Aib

Muswil ICMI Aceh karena itu jangan berhenti pada rumusan program kerja yang indah di atas kertas. Harus ada keberanian menetapkan agenda yang konkret, terukur dan berkelanjutan.

Misalnya, ICMI dapat mengambil beberapa persoalan strategis Aceh untuk dikaji secara serius, menghadirkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu, kemudian menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan pemerintah dan pemangku kepentingan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Dengan demikian, ICMI tidak hanya hadir ketika pemerintah membutuhkan seremoni atau ketika masyarakat membutuhkan forum diskusi. ICMI hadir sebagai kekuatan intelektual yang secara konsisten memberikan solusi dan mengawal kepentingan publik.

Aceh membutuhkan cendekiawan yang tidak hanya mampu membaca persoalan, tetapi juga berani ikut menyelesaikannya.

Kita tidak membutuhkan lebih banyak gagasan yang hanya bagus ketika disampaikan dari podium. Kita membutuhkan gagasan yang mampu bertahan ketika berhadapan dengan realitas.

Besok, insya Allah, kita semua akan hadir pada pembukaan Muswil ICMI Aceh.

Harapannya sederhana: dari forum ini lahir gagasan-gagasan besar yang tidak hanya terdengar hebat di ruang Muswil, tetapi benar-benar bekerja di tengah masyarakat.

Sebab ukuran kecendekiawanan bukan seberapa tinggi seseorang berbicara tentang perubahan.

Ukuran yang sesungguhnya adalah seberapa jauh ilmunya mampu mengubah keadaan. Dan mungkin, inilah saatnya ICMI Aceh membuktikannya.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait