Opini

“Woe Gampong Bak Uroe Lahee Pidie”: Pulang untuk Menagih Perubahan

Jangan sampai seruan “Woe Gampong” hanya dimaknai ajakan agar para perantau membawa uang ke kampung halaman. Kalau mereka pulang membawa gagasan, jangan sampai gagasan itu mati di meja birokrasi.

Oleh: Drs. M. Isa Alima (Mantan Anggota DPRK Pidie)

ADVERTISMENT
Pelantikan Panglima Kodam Iskandar Muda

Lima ratus lima belas tahun bukan waktu yang pendek. Ia adalah perjalanan sejarah yang sangat panjang. Generasi datang dan pergi, pemerintahan berganti, pembangunan silih berganti, sementara anak-anak Pidie terus menyebar ke berbagai penjuru negeri dan bahkan ke mancanegara.

Kini, pada momentum Hari Lahir Pidie ke-515, sebuah seruan kembali menggema: “Woe Gampong Bak Uroe Lahee Pidie.” Pulanglah ke kampung halaman pada hari lahir Pidie.

Seruan ini terdengar sederhana, bahkan romantis. Tetapi sesungguhnya ia mengandung pertanyaan besar: untuk apa anak-anak Pidie diminta pulang jika kampung halamannya belum benar-benar berubah?

Pertanyaan inilah yang harus kita jawab dengan jujur. Sebab kepulangan anak rantau jangan hanya dijadikan dekorasi perayaan Hari Jadi. Jangan pula sekadar menjadi kerumunan untuk foto bersama, makan bersama, lalu setelah acara selesai semua kembali kepada rutinitas masing-masing.

Woe Gampong harus menjadi panggilan untuk membangun. Bukan sekadar pulang membawa rindu, tetapi pulang membawa gagasan.

Bukan sekadar bernostalgia dengan masa lalu, tetapi berani membicarakan masa depan. Dan bukan sekadar memuji Pidie sebagai “Pusat Segala Pusat”, tetapi bertanya: di mana pusat kemajuan itu hari ini?

Kepada seluruh putra-putri Pidie yang berada di manapun berada, di seluruh Indonesia hingga negeri seberang, dengarlah panggilan ini.

Pidie memanggil kalian pulang. Kampung halaman tidak pernah melupakan anak-anaknya. Sejauh apapun seseorang pergi, tanah kelahiran tetap mempunyai tempat tersendiri di dalam hati. Di sanalah kita dilahirkan, dibesarkan, mengenal bahasa, budaya, adat, agama dan nilai-nilai kehidupan.

Karena itu, momentum Hari Jadi Pidie ke-515 seharusnya menjadi momentum untuk mempertemukan kembali seluruh keluarga besar Pidie.

Yang sudah puluhan tahun merantau, pulanglah. Yang baru beberapa tahun meninggalkan kampung, pulanglah. Yang sudah lama tidak pernah menginjak tanah kelahiran, pulanglah.

Yang berhasil di Jakarta, Medan, Batam, Surabaya, Bandung, Malaysia, Singapura, Australia, bahkan di berbagai belahan dunia, pulanglah.

Namun ada satu pesan penting: Jangan pulang hanya untuk melihat apa yang dibanggakan. Pulanglah juga untuk melihat apa yang harus diperbaiki.

Sebab mencintai kampung halaman bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya.

Justru orang yang benar-benar mencintai Pidie harus berani bertanya, berani mengkritik, dan berani menawarkan solusi.

515 Tahun: Sudah Sejauh Mana Pidie Bergerak?

Kita tentu patut bersyukur atas perjalanan panjang Pidie. Tetapi sejarah tidak boleh hanya dijadikan alasan untuk berbangga.

Sejarah juga harus menjadi cermin. Setelah 515 tahun, apakah masyarakat sudah benar-benar merasakan kemajuan?

Apakah anak-anak Pidie mendapatkan pendidikan yang semakin berkualitas?

Apakah anak muda memiliki lapangan kerja yang cukup sehingga tidak semuanya harus meninggalkan kampung? Apakah petani dan nelayan mendapatkan kehidupan yang layak? Apakah pelaku UMKM mendapatkan ruang tumbuh?

Apakah investasi benar-benar menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal?

Apakah pelayanan publik sudah cepat, transparan dan adil? Dan yang paling penting, apakah pembangunan Pidie sudah mampu membuat anak-anak mudanya berkata: “Saya ingin tinggal dan membangun kampung halaman saya”?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa pahit. Tetapi Pidie tidak akan maju hanya dengan tepuk tangan.

Baca Juga:  Kapolri Baru, Ujian Penegakan Hukum dan Penghormatan Kekhususan Aceh

Pidie membutuhkan keberanian untuk bercermin. “Pusat Segala Pusat” Jangan Hanya Menjadi Slogan

Pidie dikenal dengan julukan “Pusat Segala Pusat.” Julukan itu indah.

Tetapi sebuah julukan tidak akan memberi kesejahteraan kepada rakyat apabila tidak diwujudkan dalam karya nyata.

Pusat segala pusat harus dibuktikan dengan kualitas pendidikan. Dengan ekonomi yang kuat. Dengan pemerintahan yang bersih. Dengan infrastruktur yang memadai. Dengan pelayanan kesehatan yang baik. Dengan lapangan kerja.

Dengan perlindungan terhadap petani dan nelayan. Dengan ruang yang luas bagi anak muda untuk berkreasi. Dan dengan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

Karena itu, saya ingin mengatakan dengan tegas: Jangan panggil anak-anak Pidie pulang hanya untuk mendengarkan pidato tentang kejayaan masa lalu. Panggillah mereka untuk ikut membangun masa depan.

Kalau mereka pulang membawa modal, pemerintah harus memberikan kepastian.

Kalau mereka pulang membawa ilmu, daerah harus membuka ruang. Kalau mereka pulang membawa jaringan, daerah harus menyambutnya dengan kebijakan yang transparan.

Kalau mereka pulang membawa gagasan, jangan sampai gagasan itu mati di meja birokrasi.

Perantau Bukan ATM Pembangunan

Ada hal lain yang harus diperhatikan. Jangan sampai seruan “Woe Gampong” hanya dimaknai sebagai ajakan agar para perantau membawa uang ke kampung halaman. Perantau bukan ATM pembangunan.

Mereka adalah manusia yang memiliki pikiran, pengalaman, jaringan, keahlian dan idealisme.

Ada pengusaha. Ada akademisi. Ada dokter. Ada insinyur. Ada profesional. Ada ulama. Ada seniman. Ada aktivis. Ada birokrat. Ada pekerja. Mereka adalah aset intelektual dan sosial Pidie.

Maka yang harus disiapkan bukan hanya panggung penyambutan, tetapi ruang kolaborasi.

Pemerintah daerah harus mampu membuat mekanisme yang jelas: bagaimana para perantau dapat berinvestasi, bagaimana tenaga profesional dapat mentransfer ilmu, bagaimana anak muda di kampung dapat terhubung dengan jaringan nasional dan internasional, serta bagaimana diaspora Pidie dapat berkontribusi tanpa harus tersandera oleh birokrasi yang berbelit-belit.

Kita juga jangan berpikir terlalu sempit. Pulang tidak selalu berarti meninggalkan Jakarta, Medan, Batam atau negara lain untuk menetap di Pidie.

Tidak semua orang bisa melakukan itu. Tetapi mereka tetap bisa pulang secara gagasan.

Seorang pengusaha bisa membuka jaringan pasar bagi produk Pidie. Seorang akademisi bisa membantu meningkatkan kualitas pendidikan. Seorang dokter bisa memberikan pengabdian. Seorang profesional bisa menjadi mentor anak-anak muda. Seorang perantau bisa membantu membuka akses investasi. Seorang tokoh masyarakat bisa menjadi jembatan Pidie dengan dunia luar.

Inilah makna Woe Gampong yang lebih substantif. Pulang dengan cara masing-masing, tetapi memberikan arti bagi tanah kelahiran.

Jika pemerintah benar-benar ingin membangkitkan semangat pulang, maka pintu Pidie harus terbuka bagi semua.

Tidak boleh ada pengecualian berdasarkan jabatan. Tidak boleh ada sekat berdasarkan kelompok. Tidak boleh ada perbedaan antara yang kaya dan miskin. Tidak boleh ada kasta antara pejabat dan rakyat.

Tidak boleh pula anak rantau hanya dicari ketika diperlukan. Pidie adalah rumah bersama.

Yang sukses memiliki tempat. Yang sedang berjuang juga memiliki tempat. Yang memiliki modal memiliki tempat.

Yang hanya memiliki tenaga dan gagasan pun memiliki tempat. Sebab membangun daerah bukan pekerjaan segelintir orang. Pembangunan adalah pekerjaan bersama.

Baca Juga:  Emas Digali, Rakyat Dapat Apa? Menguji Arah Legalisasi Tambang Rakyat Aceh

Jangan Takut Dikritik Anak Rantau

Ada satu hal yang tidak kalah penting. Ketika anak-anak Pidie pulang, jangan hanya meminta mereka memuji pemerintah.

Berikan mereka kesempatan untuk mengkritik. Biarkan mereka bertanya. Biarkan mereka menyampaikan pengalaman dari daerah lain. Biarkan mereka membandingkan.

Sebab kritik yang jujur jauh lebih berguna daripada pujian yang membuat kita terlena.

Jika ada pembangunan yang tidak tepat, katakan. Jika pelayanan publik buruk, perbaiki. Jika ada kebijakan yang keliru, koreksi. Jika anggaran belum memberi dampak kepada masyarakat, evaluasi.

Jika anak muda masih sulit mendapatkan pekerjaan, cari jawabannya. Jangan alergi terhadap kritik.

Sebab Pidie tidak akan menjadi pusat kemajuan dengan budaya saling memuji.

Pidie akan maju dengan budaya berani memperbaiki diri.

Hari Jadi ke-515 jangan sampai hanya menjadi agenda tahunan: upacara, spanduk, panggung, sambutan dan seremonial.

Setelah itu selesai. Tahun depan kita ulangi lagi. Padahal momentum seperti ini seharusnya menjadi rapor perjalanan daerah.

Apa yang berhasil? Apa yang gagal? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang harus dihentikan? Apa yang harus diteruskan? Dan apa yang harus dimulai?

Kalau pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah dijawab, maka 515 tahun hanya menjadi angka yang terus bertambah tanpa perubahan yang berarti.

Pulang untuk Menagih Masa Depan

Karena itu, saya mengajak seluruh anak Pidie di perantauan: Woe Gampong! Pulanglah. Tetapi jangan pulang hanya membawa nostalgia.

Bawalah ilmu. Bawalah pengalaman. Bawalah jaringan. Bawalah investasi. Bawalah keberanian. Dan yang paling penting, bawalah kepedulian.

Sementara kepada pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di Pidie, saya juga menyampaikan pesan:

Jika kita memanggil anak-anak Pidie pulang, maka kita harus siap mendengar suara mereka.

Jangan hanya meminta mereka datang. Berikan mereka ruang untuk berbuat. Jangan hanya meminta mereka berinvestasi.

Berikan mereka kepastian. Jangan hanya meminta mereka mencintai Pidie. Tunjukkan bahwa Pidie layak dicintai dan diperjuangkan. Pulanglah, Pidie Menanti

“Woe Gampong Bak Uroe Lahee Pidie” bukan sekadar kalimat indah.

Ia harus menjadi gerakan. Gerakan untuk mempertemukan yang pergi dengan yang tinggal. Gerakan untuk mempertemukan pengalaman perantauan dengan kebutuhan kampung.

Gerakan untuk mempertemukan modal dengan peluang. Gerakan untuk mempertemukan ilmu dengan pendidikan. Gerakan untuk mempertemukan gagasan dengan kebijakan.

Dan akhirnya, gerakan untuk mempertemukan seluruh anak Pidie dalam satu kepentingan: membangun tanah kelahiran.

Lima ratus lima belas tahun adalah usia yang panjang. Namun usia panjang tidak otomatis berarti kemajuan.

Kemajuan harus diperjuangkan. Kesejahteraan harus dibangun. Kepercayaan harus dijaga.

Dan masa depan harus direncanakan.

Karena itu, pada Hari Jadi Pidie ke-515 ini, mari kita kumandangkan kembali:

“Woe Gampong Bak Uroe Lahee Pidie.”

Pulanglah ke kampung halaman.

Tetapi kali ini, pulang bukan sekadar untuk merayakan Pidie. Pulanglah untuk bertanya, mengkritik, bekerja dan membangun.

Sebab Pidie tidak membutuhkan anak-anaknya hanya untuk datang dan berfoto.

Pidie membutuhkan anak-anaknya untuk ikut menentukan masa depannya.

Dari julukan menuju kenyataan. Dari kebanggaan menuju karya. Dari nostalgia menuju perubahan.

Dan dari “Pusat Segala Pusat” menuju pusat kemajuan dan kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya.

Selamat Hari Jadi Pidie ke-515.

Woe Gampong!

Pidie memanggil. Pidie menanti. Dan kali ini, mari kita pulang untuk menagih perubahan.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait