Banda Aceh, Infoaceh.net — Ribuan warga menghadiri pembukaan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Tahun 2026 yang berlangsung di Taman Sulthanah Safiatuddin, arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), Lampriet, Kota Banda Aceh, Jum’at malam (9/10/2026).
Kegiatan keagamaan berskala internasional tersebut berlangsung aman dan tertib. Para ulama, tamu undangan, serta masyarakat dari berbagai kalangan hadir untuk mengikuti pembukaan kegiatan yang mempertemukan ulama dan peserta dalam forum pembahasan keilmuan Islam, khususnya tauhid dan tasawuf.
Hadir saat pembukaan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy, Plt Sekda Aceh Taufik, Dirintelkam Polda Aceh Kombes Pol Said Anna Fauza,
Pembukaan muzakarah diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum MPTT-I, Abi Sahal Tastari Wali. Rangkaian acara berikutnya diisi sambutan Gubernur Aceh yang disampaikan Plt Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, serta pemutaran video yang menampilkan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy.
Selanjutnya, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy menyampaikan khutbah iftitah dan doa sebagai bagian dari rangkaian pembukaan muzakarah yang berlangsung dalam suasana religius.
Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, Polda Aceh mengerahkan sebanyak 1.820 personel guna mengamankan lokasi acara dan mendukung terciptanya situasi yang kondusif selama muzakarah berlangsung.
Pengamanan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya kepolisian memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat, sekaligus memastikan para ulama dan tamu undangan dapat mengikuti kegiatan dengan aman dan nyaman.
Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Joko Krisdiyanto mengatakan, pengerahan personel merupakan bentuk komitmen Polri dalam mendukung kelancaran kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak peserta, termasuk ulama dari berbagai negara.
“Polda Aceh siap hadir untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. Kami ingin para ulama, tamu undangan, serta masyarakat dapat mengikuti kegiatan ini dengan nyaman, tanpa merasa khawatir terhadap gangguan keamanan,” ujar Joko dalam keterangannya pada pembukaan muzakarah.
Joko menjelaskan, pengamanan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi dilaksanakan dengan mengedepankan pendekatan humanis, sikap santun, serta kesiapsiagaan personel dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan keamanan.
Menurutnya, kegiatan yang menghadirkan ulama dan peserta dari berbagai negara membutuhkan kesiapan aparat, koordinasi lintas instansi, serta pelayanan yang baik agar seluruh agenda dapat berjalan sesuai rencana.
Pengamanan tidak hanya diarahkan untuk menjaga situasi di sekitar lokasi kegiatan, tetapi juga untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat yang datang menghadiri acara tersebut.
Polda Aceh, lanjut Joko, turut berkoordinasi dengan TNI dan unsur terkait lainnya dalam mendukung pengamanan. Sinergi tersebut diharapkan dapat menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung, terutama ketika masyarakat memadati arena acara.
“Kami dari Polda Aceh, dengan dukungan TNI dan unsur terkait lainnya, berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Melalui pengamanan yang profesional dan humanis, kami berharap kegiatan Muzakarah Internasional ini dapat berlangsung dalam suasana damai, penuh kekhusyukan, dan membawa manfaat bagi umat,” tambahnya.
Joko juga mengajak seluruh pihak, termasuk peserta dan masyarakat yang menghadiri kegiatan, untuk bersama-sama menjaga ketertiban serta memelihara situasi keamanan yang kondusif.
Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat penting dalam mendukung kelancaran kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dengan menjaga ketertiban dan mengikuti arahan petugas, seluruh peserta diharapkan dapat mengikuti rangkaian acara dengan nyaman.
Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Tahun 2026 menjadi salah satu kegiatan keagamaan yang menghadirkan perhatian masyarakat di Banda Aceh. Pelaksanaan kegiatan ini juga menempatkan kesiapan pengamanan sebagai unsur penting dalam mendukung kelancaran agenda keagamaan berskala internasional.
Polda Aceh menyatakan akan terus memberikan pelayanan pengamanan selama rangkaian kegiatan berlangsung, dengan mengedepankan profesionalitas, pendekatan humanis, dan koordinasi bersama seluruh unsur terkait.
Dengan dukungan aparat dan kesadaran masyarakat untuk menjaga ketertiban, kegiatan tersebut diharapkan dapat berlangsung aman hingga seluruh rangkaian muzakarah selesai.
Dihadiri Ulama dari 13 Negara
Berdasarkan laporan sejumlah media lokal, muzakarah tahun ini mengusung tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat”. Kegiatan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 9 – 11 Oktober 2026.
Delegasi ulama dari 13 negara hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Indonesia, Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Kamboja, Mesir, Palestina, Filipina, dan Suriah.
Jumlah jamaah yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 10.000 orang berdasarkan pantauan media itu di lokasi.
Rangkaian pembukaan diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat, sambutan, khutbah iftitah, peluncuran buku, serta zikir dan doa bersama.
Ketua Umum Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-Indonesia), Abi Sahal Tastari Waly, sebelumnya menyampaikan muzakarah menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali khazanah tasawuf Aceh kepada masyarakat internasional.
Melalui pertemuan tersebut, para peserta diharapkan dapat memperkuat silaturahmi ant ulama, memperdalam pemahaman keislaman, serta mendorong nilai-nilai persatuan dan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, dari sisi pengamanan, Polda Aceh menyiapkan personel gabungan TNI-Polri dan unsur pemerintah daerah untuk bertugas selama seluruh rangkaian kegiatan pada 9–11 Oktober 2026.
Kesiapan tersebut ditandai dengan apel gelar pasukan di Aula Meuligoe Polda Aceh pada Jumat pagi, dipimpin Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Teguh Priyambodo Nugroho.
Dengan dukungan pengamanan terpadu dan keterlibatan masyarakat, penyelenggaraan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II diharapkan berjalan lancar serta memperkuat pesan persaudaraan, kedamaian, dan persatuan umat dari Aceh kepada dunia.


















