Banda Aceh, Infoaceh.net — Di tengah dunia yang bergerak di atas kalkulasi untung-rugi yang lazim, kisah Maulidar Yusuf di TPA Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh, hadir sebagai sebuah anomali yang menampar kesadaran kita semua.
Ketika mayoritas manusia mengukur setiap tetes peluh dengan nominal rupiah, perempuan asal Sigli ini justru memilih jalan tidak lazim: mengabdi tanpa slip gaji, bergerak tanpa pamrih duniawi. Jalan yang tidak diajarkan di bangku kuliah manajemen mana pun.
Namanya lengkap Maulidar Yusuf, istri dari Aiyub Bustamam, ibu dari tiga cahaya hati yang masih belia: Muzzammil Kaarim 7 tahun, Zaheeda Amiena 4 tahun, dan Arivian Moestafa 3 tahun.
Di usia yang bagi banyak ibu lain disibukkan dengan urusan domestik semata, ia memilih membagi kasihnya untuk 120 anak lain agar mendapatkan kesempatan belajar.
Sejak 2012, semasa masih berstatus mahasiswa, ia sudah menggelar tikar ilmu di TPA Gampong Jawa. Bukan di gedung mewah ber-AC, bukan pula di ruang kelas dengan papan tulis putih bersih. Tapi di balai sederhana beralas tanah, berdinding bambu, yang dipinjamkan penuh keikhlasan. Di situlah Taman Edukasi itu berdiri.
Kini, 13 tahun berselang, Taman Edukasi yang ia rintis menampung lebih kurang 120 anak pemulung.
Modenya bukan pendidikan formal yang kaku. Ia menyebutnya mode belajar alam. Merampingkan pendidikan formal sekolah, membantu, menjembatani anak-anak yang putus dan tidak sekolah agar bisa kembali bersekolah.
Ia menjadi jembatan pertama mereka menuju bangku SD. Apa yang ia lakukan setiap akhir pekan, di waktu libur dan waktu luangnya?
Ia sudah terbiasa berkarib dengan aroma sampah yang menyengat demi sebuah misi sakral: menyalakan pelita ilmu di jiwa anak-anak yang kerap luput dari pandangan dunia.
Ia mengajari mereka mengeja alfabet, berhitung dasar, mengaji Iqra, hingga adab dan kebersihan diri. Hal-hal sederhana yang bagi anak kota adalah hal biasa, tapi bagi anak TPA adalah kemewahan.
Ia mengubah jemari yang setiap hari memilah plastik dan botol bekas menjadi jemari penulis cita-cita masa depan. Dari yang hanya tahu harga kiloan kardus, kini tahu cara menuliskan namanya sendiri.
Tidak hanya mengajar sendiri, kecerdasan sosialnya terlihat di sini: kami juga menggerakkan relawan untuk ikut membantu.
Sambil mengajar, ia mengajak kawan-kawan anak muda, mahasiswa, dan komunitas untuk ikut berpartisipasi mencerdaskan kehidupan anak bangsa yang terpinggirkan. Ia tidak membangun eksklusivitas, ia membangun gerakan.
Tentu, suka dukanya tidak ringan. Inilah bagian yang sering tidak dilihat orang. Terkadang anak didiknya tidak datang karena harus ikut orang tua memulung untuk makan hari itu.
Logika mereka sederhana: ilmu tidak bisa dimakan hari ini, tapi botol plastik bisa dijual sore ini. Kadang balainya kebanjiran saat hujan, tikarnya berlumpur, dan buku tulis bantuan orang baik basah kuyup.
Pernah pula ia dicibir, untuk apa mengajar anak pemulung yang tidak menghasilkan uang? Untuk apa capek-capek di tempat bau?
Namun semua itu dijawab Maulidar dengan senyum ikhlas dan semangat yang tak pernah padam.
Bagi Maulidar, absennya seorang anak bukan alasan untuk terengkuh kecewa, melainkan panggilan untuk menjemput langsung ke tumpukan sampah dan merangkul mereka kembali ke tikar ilmu dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
Ketulusan sekuat ini tidak lahir sendiri. Di belakangnya berdiri kokoh dukungan suaminya, Aiyub Bustamam. Sosok yang jarang disebut media, namun menjadi kunci.
Sang suami bukan hanya merestui dari rumah, tapi ikut mengantar di tengah tumpukan sampah, ikut menjaga balai, ikut mengasuh ketiga anak mereka yang masih kecil saat istrinya mengajar.
Jika Maulidar adalah cahaya di dalam balai, suaminya adalah dinding yang menjaga agar cahaya itu tidak padam diterpa angin cibiran dan lelah.
Pasangan ini memang keren, tangguh, dan patut diapresiasi. Mereka membuktikan bahwa pernikahan bukan hanya soal nafkah, tapi soal menyamakan visi,misi dan persepsi dalam pengabdian.
Menariknya, semua ikhtiar ini berjalan lancar karena masyarakat pemulung di sana dan pihak gampong sangat mendukung.
Mereka bergerak tanpa terikat birokrasi. Membantu tanpa harus melewati administrasi berbelit yang melelahkan dan seringkali mematikan niat baik.
“Kami tidak pernah mengajukan bantuan dari pemerintah. Tapi pemerintah tahu kami ada di sana,” sebutnya, Kamis (22/10/2026).
Sebuah kalimat jujur yang menggambarkan kemandirian yang perih sekaligus gagah berani. Ia tidak mengemis, tapi ia ada. Tapi Tuhan tidak tidur. Orang baik tetap ada dan hadir silih berganti.
Ia menambahkan, “Banyak yang bantu, secara pribadi atau pun lembaga. Seperti Ibu Darwati yang membantu membangun balai. Ada yang membangun toilet dari Alumni Poltekpel Malahayati. Ada juga membuat pagar dari karyawan BPJS. Ada yang memberikan alat sekolah. Sedangkan tanah dibeli waktu masih ada Alm Ayah saya, tahun 2018.”
Dari pengakuan itu kita melihat: balai itu berdiri bukan dari APBA atau APBK, tapi dari gotong royong orang-orang yang hatinya masih hidup.
Inilah potret institusi warga untuk warga yang sesungguhnya. Ia bertahan tanpa bantuan struktural pemerintah, hanya dari uang pribadi seorang ibu dan dari tanah warisan almarhum ayahnya yang ia wakafkan.
Tujuanny satu dan mulia: mencoba mengangkat derajat anak pemulung agar tidak mewarisi kemiskinan yang sama, dengan jalan satu-satunya yang abadi: bekal ilmu dan tekad yang melekat.
Lalu apa yang paling dibutuhkan di sana? Jawabannya menampar kita semua yang berpikir bantuan adalah uang.
“Sebenarnya yang paling dibutuhkan di sana pendampingan ilmu. Pentingnya pendidikan. Sebab uang bisa didapat mudah dengan mengumpulkan dan menjual barang bekas,” ujarnya.
Inilah puncak anomali itu. Di tempat di mana orang mengais uang, seorang guru justru berkata bahwa uang bukan yang utama. Anak-anak di sana sudah jago mencari uang, tapi mereka miskin teladan tentang mengapa harus sekolah. Mereka butuh sosok yang meyakinkan bahwa sekolah lebih penting dari sekarung botol.
Dan di sinilah institusi kompeten harus malu, atau memilih pura-pura menutup mata dan telinga.
Sebab pasti akan ada orang-orang kritis yang bertanya lantang: di mana Dinas Pendidikan? Di mana pemerintah ketika 120 anak bangsa belajar di atas tanah wakaf pribadi di tengah tumpukan sampah?
Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, Dinas Sosial, Balai Pemasyarakatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong, hingga Kampus-kampus PGSD dan FKIP di Banda Aceh, jangan biarkan Maulidar dan Aiyub berjuang sendiri.
Jangan biarkan 120 anak itu hanya bergantung pada waktu luang akhir pekan seorang ibu tiga anak.
Mereka juga adalah warga negara, mereka berhak atas pendidikan formal yang layak, atas Program Indonesia Pintar, atas Kejar Paket A, B, C, atas guru pendamping yang digaji negara.
Selama ini, negara dengan segala perangkat dananya yang besar belum hadir secara sistemik di sana.
Yang hadir adalah Maulidar yang bergaji langit. Jika negara tidak hadir, maka kisah ini hanya akan menjadi cerita haru musiman yang viral sesaat lalu hilang.
Yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan semen dan buku. Yang dibutuhkan adalah SK pengakuan sebagai Taman Baca atau PKBM binaan, pendampingan guru-guru PPL mahasiswa untuk mengajar bergilir setiap hari, bukan hanya akhir pekan, dan jembatan administrasi agar 120 anak itu bisa memiliki NISN dan bisa masuk sekolah negeri tanpa terkendala akta dan KK.
Di atas tanah TPA Gampong Jawa yang bau dan becek, pasangan suami istri ini, Maulidar Yusuf dan Aiyub Bustamam, telah membuktikan satu hal: kekayaan sejati bukan di rekening bank, melainkan terukir abadi dalam senyum binar anak pemulung yang kini bisa mengeja masa depannya sendiri.
Tugas kita selanjutnya adalah memastikan senyum itu tidak padam ketika tikar usang itu akhirnya lapuk.
Penulis: NA. Riya Ison


















