Olahraga

Gol Garudayaksa Menit 102 Gagalkan Kemenangan Persiraja, Wasit Picu Kontroversi 

Banda Aceh, Infoaceh.net — Kemenangan yang sudah di depan mata bagi Persiraja Banda Aceh buyar secara dramatis—dan kontroversial.

Keputusan wasit Bangkit Sanjaya yang memberi tambahan waktu 10 menit justru memicu kontroversi setelah laga berakhir dengan skor 2-2 melawan Garudayaksa FC dalam pekan ke-25 Pegadaian Championship Liga 2 musim 2025/2026 di Stadion H Dimurthala Lampineung, Banda Aceh Ahad (19/4/2026) malam.

ADVERTISMENT
Pelantikan Panglima Kodam Iskandar Muda

Bukan sekadar hasil imbang, tetapi cara pertandingan ini berakhir yang memantik kemarahan.

Gol penyama kedudukan yang dicetak pemain Garudayaksa Christian Frydek pada menit ke-90+12—atau menit ke-102—menjadi titik ledak kekecewaan.

Pasalnya, tambahan waktu yang diberikan hanya 10 menit, namun gol lahir tiga menit melewati batas tersebut tanpa kejelasan yang transparan.

Ribuan suporter yang memadati stadion sontak meluapkan emosi. Official tim Persiraja pun tak mampu menyembunyikan kekecewaan.

Mereka menilai keputusan wasit tidak hanya merugikan secara teknis, tetapi juga mencederai rasa sportivitas dalam pertandingan.

Sejak awal laga, Garudayaksa FC tampil lebih dominan, memanfaatkan absennya tiga pilar lini tengah Persiraja—Fitra Ridwan (sakit), Fava Sheva (akumulasi kartu), dan Omid Popalzay (kartu merah). Ketimpangan itu terlihat jelas di babak pertama.

Tekanan tim tamu akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-24. Christian Frydek mencetak gol pembuka untuk Garudayaksa setelah memanfaatkan bola muntah dari kiper M. Reza. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Baca Juga:  PGE, BPMA dan Koperasi Keuramat Jaya Teken Kerja Sama Kelola Sumur Minyak Masyarakat di Aceh Utara

Namun memasuki babak kedua, Persiraja menunjukkan wajah berbeda. Tekanan tinggi dan permainan agresif mulai merepotkan Garudayaksa.

Hasilnya terlihat pada menit ke-57 ketika Faris Adit mencetak gol spektakuler dari luar kotak penalti, mengubah skor menjadi 1-1.

Momentum sepenuhnya berpihak kepada Laskar Rencong. Puncaknya terjadi pada menit ke-87 saat Aditya Angga menanduk bola hasil umpan matang Asgal Habib.

Stadion H Dimurthala bergemuruh—Persiraja unggul 2-1 dan kemenangan tampak tinggal menunggu peluit akhir.

Alih-alih menjadi penutup manis, laga justru berubah menjadi panggung kontroversi. Tambahan waktu 10 menit yang diberikan wasit dianggap tidak memiliki dasar yang jelas.

Lebih dipertanyakan lagi, pertandingan terus berjalan melewati batas tambahan waktu tanpa penjelasan resmi.

Pada menit ke-102, petaka datang. Tendangan bebas Christian Frydek meluncur mulus ke gawang Persiraja, menyamakan skor menjadi 2-2. Gol tersebut disahkan wasit.

Keputusan tambahan waktu 10 menit sempat menyulut protes keras dari pemain dan official tuan rumah.

Pertanyaan besar pun muncul: dari mana tambahan waktu ekstra itu berasal? Mengapa peluit tidak ditiup tepat waktu.

Baca Juga:  M. Ridwan Ditunjuk sebagai Pelatih Baru Persiraja

Apakah ada insiden krusial yang layak menambah durasi hingga melewati 10 menit.

Tidak ada jawaban di lapangan malam itu—yang ada hanya rasa dirugikan di kubu tuan rumah.

Hasil ini membuat Persiraja tertahan di posisi kelima klasemen sementara dengan 38 poin, gagal meraih tiga angka penting di kandang sendiri.

Sementara Garudayaksa FC tetap bertahan di posisi kedua dengan 46 poin.

Namun bagi Persiraja, kerugian ini bukan sekadar angka. Ini tentang momentum yang dirampas, kepercayaan kepada wasit yang terkikis, dan pertanyaan besar terhadap integritas pertandingan.

Kontroversi ini dipastikan tidak akan berhenti di peluit akhir. Publik sepak bola Aceh kini menunggu sikap tegas dari operator liga dan PSSI.

Evaluasi terhadap kepemimpinan wasit menjadi tuntutan yang tak bisa diabaikan.

Jika tidak ada transparansi dan akuntabilitas, maka kejadian seperti ini akan terus menjadi “penyakit laten” sepak bola nasional—di mana hasil pertandingan bukan hanya ditentukan oleh permainan di lapangan, tetapi juga oleh keputusan yang sulit dipertanggungjawabkan.

Malam itu di Lampineung, Persiraja tidak hanya kehilangan dua poin. Mereka kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: rasa keadilan dan sportivitas yang terkoyak.

Editor: Muhammad Saman 

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait