Aceh Besar, Infoaceh.net — Aktivitas belanja barang dan jasa di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar sepanjang tahun anggaran 2025 menunjukkan dominasi kuat pengadaan berbasis digital.
Dari total 187 paket yang tercatat, nilai keseluruhan pengadaan mencapai Rp18,84 miliar dengan mayoritas transaksi dilakukan melalui mekanisme E-Purchasing atau katalog elektronik.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan sektor pertanian tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga didominasi belanja barang penunjang operasional, distribusi bantuan, hingga kebutuhan pendukung program pertanian daerah.
Berdasarkan hasil telaah data pengadaan, kategori barang menjadi sektor dengan porsi terbesar. Sebanyak 140 paket tercatat berada pada kelompok ini dengan nilai akumulasi mencapai Rp10,43 miliar.
Sementara itu, pekerjaan konstruksi menempati posisi kedua dengan 44 paket senilai Rp8,29 miliar. Paket konstruksi ini diperkirakan berkaitan dengan pembangunan maupun rehabilitasi sarana pendukung pertanian.
Adapun kategori jasa lainnya hanya mencatat tiga paket dengan total anggaran sekitar Rp123,99 juta.
Jika dilihat dari metode pengadaan, penggunaan sistem digital menjadi tulang punggung transaksi. E-Purchasing mendominasi dengan 143 paket dan nilai mencapai Rp10,56 miliar.
Metode ini jauh meninggalkan skema Pengadaan Langsung yang digunakan pada 39 paket senilai Rp4,89 miliar. Sementara jalur tender hanya muncul pada lima paket, namun tetap menyerap anggaran besar hingga Rp3,40 miliar.
Dominasi E-Purchasing ini menunjukkan perubahan pola belanja pemerintah yang semakin bergeser ke mekanisme elektronik untuk mempercepat proses sekaligus meningkatkan efisiensi administrasi pengadaan.
Di sisi penyedia, terdapat sejumlah rekanan yang mencatat nilai kontrak cukup signifikan sepanjang tahun berjalan. Posisi teratas ditempati CV. Delta Arakundo Indonesia dengan akumulasi kontrak sebesar Rp1,22 miliar.
Di bawahnya terdapat Putra Bungfui yang memperoleh nilai pekerjaan Rp1,17 miliar, disusul CV. Karya Pemuda dengan kontrak mencapai Rp1,04 miliar.
Sementara dua nama lain yang masuk daftar penyerap kontrak terbesar yakni Meurah Jaya Muantep Jiwa dengan nilai Rp587,48 juta dan Cuco Raja sebesar Rp548,81 juta.
Jika ditinjau dari progres pelaksanaan, sebagian besar paket masih berada pada tahap berjalan. Sebanyak 143 paket dengan nilai Rp10,56 miliar tercatat berstatus on process, mayoritas berasal dari pengadaan barang melalui E-Purchasing.
Sedangkan paket yang telah selesai mencapai 44 kegiatan dengan total nilai Rp8,29 miliar, didominasi pekerjaan konstruksi.
Komposisi ini menunjukkan bahwa belanja fisik cenderung lebih cepat memasuki tahap penyelesaian, sementara pengadaan barang masih berlangsung seiring proses distribusi dan realisasi program pertanian di lapangan.
Dengan total belanja mendekati Rp19 miliar dan dominasi transaksi elektronik, pola pengadaan Dinas Pertanian Aceh Besar tahun 2025 memperlihatkan pergeseran arah belanja yang lebih terpusat pada kebutuhan barang serta pemanfaatan sistem digital sebagai instrumen utama pengadaan pemerintah.


















