Banda Aceh, Infoaceh.net – Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga besar Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh.
Satu lagi taruna korban ledakan KMP Aceh Hebat 2, Muhammad Zulfikar, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rabu (1/7/2026) dini hari.
Dengan berpulangnya Muhammad Zulfikar, jumlah korban meninggal dunia akibat insiden ledakan di ruang mesin KM Aceh Hebat 2 kini menjadi tiga orang.
Korban pertama yang meninggal adalah Fakhri Herdieco, yang mengembuskan napas terakhir pada 20 Juni 2026.
Selanjutnya, Muhammad Bilal Ramzi meninggal dunia pada 25 Juni 2026 setelah hampir dua pekan menjalani perawatan intensif akibat luka bakar serius. Kini, korban ketiga, Muhammad Zulfikar, meninggal pada 1 Juli 2026 setelah kondisinya terus menurun di ruang ICU RSUDZA.
Wakil Direktur Pelayanan RSUDZA, dr Novita Sp.JP membenarkan kabar duka tersebut. “Zulfikar meninggal tadi malam. Dia dirawat di ICU,” ujarnya.
Korban yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, itu menghembuskan napas terakhir pada pukul 01.00 WIB di hadapan keluarganya.
Kepala Bidang Humas RSUDZA, Rahmadi, mengatakan kondisi Muhammad Zulfikar mulai menurun sekitar pukul 00.00 WIB. Tim dokter sempat memberikan penanganan maksimal dan menyampaikan perkembangan kondisi pasien kepada pihak keluarga.
Namun, saat pemeriksaan kembali sekitar pukul 00.30 WIB, kondisi korban tidak menunjukkan perbaikan hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Keluarga besar BPSDMP Kementerian Perhubungan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Muhammad Zulfikar yang merupakan Taruna Program Diploma IV Pembentukan Jurusan Teknika Angkatan XIII Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh.
Pihak kampus mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.
Hingga saat ini, 11 korban lainnya masih menjalani perawatan, sementara satu korban telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.
Kronologi Ledakan
Ledakan KMP Aceh Hebat 2 terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026, ketika kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, usai berlayar dari Sabang.
Setelah seluruh penumpang dan kendaraan turun, 16 taruna Poltekpel Malahayati mengikuti praktik lapangan di ruang mesin kapal bersama instruktur mereka, Kepala Kamar Mesin (KKM) Agus Widodo.
Sebanyak 14 taruna berada di ruang mesin, sementara dua lainnya berada di bagian atas kapal.
Sekitar pukul 11.13 WIB, terjadi ledakan yang diduga berasal dari salah satu pompa di ruang mesin. Akibat ledakan tersebut, 14 taruna dan seorang Kepala Kamar Mesin mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Bertambahnya jumlah korban meninggal dunia menjadi tiga orang semakin memperdalam duka keluarga besar Poltekpel Malahayati Aceh sekaligus memunculkan harapan agar investigasi penyebab ledakan dapat segera dituntaskan.
Penyelidikan Polisi
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Aceh Kombes Pol Andre Librian mengatakan penyidik telah memeriksa 12 orang saksi terkait ledakan di KMP Aceh Hebat 2.
Saat ini, kata dia, polisi masih menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor) untuk memastikan penyebab pasti ledakan tersebut.
“Kasus ledakan di KMP Aceh Hebat 2 sudah dalam tahap penyidikan. Tim telah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi, juga beberapa korban yang sudah bisa dimintai keterangan,” kata Andre saat konferensi pers di Meuligoe Polda Aceh, Senin (29/62026).
Ia menjelaskan, sebanyak 12 saksi yang telah diperiksa tersebut terdiri dari pihak ASDP sebagai petugas, dua pelajar yang menjadi saksi, serta pihak sekolah.
“Dari pihak ASDP, yaitu sebagai petugas yang ada di kapal pada saat itu. Kemudian dari pihak saksi dua anak sekolah yang memang dia kebetulan tidak ikut turun ke dalam ruangan mesin tersebut, kemudian dari pihak sekolah,” ujar Andre.
Selain memeriksa saksi, penyidik juga telah meminta bantuan laboratorium forensik untuk memeriksa lokasi kejadian guna mengungkap penyebab ledakan. Namun, katanya, hingga saat ini hasil uji laboratorium tersebut masih belum diterima.
“Kami masih menunggu hasil uji Labfor. Nanti setelah hasilnya keluar akan kami informasikan,” ujarnya.
Andre mengatakan penyidik masih mendalami seluruh kemungkinan penyebab ledakan, termasuk apakah terdapat unsur kelalaian. “Itu masih kita dalami dulu,” kata Andre.
Meski hasil Labfor belum diterima, Andre memastikan proses olah tempat kejadian perkara (TKP) telah selesai dilakukan.
Kemudian, garis polisi di lokasi juga akan segera dicabut dan kapal dapat diserahkan kembali kepada pihak ASDP untuk pemeriksaan teknis serta perbaikan apabila diperlukan.
“Untuk olah TKP telah selesai, langkah berikutnya kita akan copot police line, karena olah TKP sudah selesai. Untuk penggunaannya silakan nanti kami serahkan kepada ASDP,” katanya
Ia menjelaskan, kapal sudah bisa diperbaiki sebelum hasil pemeriksaan Labfor keluar. Sebab, katanya, proses olah tempat kejadian perkara telah rampung dan seluruh alat bukti yang diperlukan penyidik telah dikumpulkan.
Hasil penyelidikan diharapkan menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan praktik taruna di atas kapal, sehingga tragedi serupa tidak kembali terulang.

















