Komunitas

Langkah PLN Aceh Bantu Gaza Cetak Karya Seni

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Setiap anak terlahir dengan keunikan dan potensi terbaiknya masing-masing. Bukti nyata bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) mampu berdaya dan berprestasi kembali terlihat dalam perjalanan Gaza, seorang anak berusia 11 tahun dengan spektrum autisme di Banda Aceh.

Ketika pertama kali bergabung dengan Aceh Flexi School (AFS) pada 2021, Gaza menghadapi berbagai tantangan perkembangan, terutama terkait regulasi emosi.

Ia sangat sensitif dan kesulitan menangani ketidaknyamanan saat mendengar suara bising. Namun, melalui pendampingan yang konsisten, personal dan inklusif, perkembangan Gaza kini menunjukkan lompatan luar biasa.

Saat ini, Gaza tidak hanya belajar mengontrol dan meregulasi emosinya, tetapi juga mulai aktif bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Keberaniannya tumbuh pesat, mulai dari tampil percaya diri di atas panggung hingga menari di hadapan banyak orang.

Tidak berhenti di situ, bakat luar biasa Gaza di bidang seni rupa dan menggambar berhasil ditransformasikan menjadi beragam produk kreatif bernilai ekonomis, di antaranya: dua buku cerita anak dengan ilustrasi mandiri, kaos dengan kreasi desain khas Gaza, produk merchandise seperti tumbler, mug, gantungan kunci dan set stiker.

Baca Juga:  Seluruh Desa Sudah Berlistrik, PLN Aceh Kejar Target Elektrifikasi 100 Persen

Puncaknya terjadi pada Pameran Karya (PAKAR) Aceh Flexi School periode 2025–2026 yang digelar Juni lalu. Deretan produk karya Gaza menjadi salah satu koleksi best seller yang paling diminati oleh para pengunjung pameran.

Keberhasilan Gaza mengolah potensi diri tidak lepas dari metode belajar adaptif yang diterapkan di Aceh Flexi School, seperti asesmen Talents Mapping dan penyusunan Individual Learning Plan (ILP).

Perwakilan Aceh Flexi School, Esti Wulansari, mengungkapkan bahwa kunci utama pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus terletak pada ruang belajar yang aman dan pemahaman emosional yang tepat.

“Pendampingan untuk anak-anak seperti Gaza berfokus pada ruang yang menerima mereka apa adanya. Ketika emosi dan sensitivitas mereka dapat teregulasi dengan baik, bakat alami yang tersembunyi akan keluar dengan sendirinya. Karya-karya Gaza adalah wujud dari proses panjang mendampingi anak mengenali warnanya sendiri,” kata Esti.

Ia menambahkan, keterlibatan orang tua melalui pendekatan Home-Centric Parenting juga menjadi pilar penting agar perkembangan anak di sekolah dapat terus berlanjut di rumah.

Baca Juga:  Maulidar Yusuf, Guru Alam Bergaji Langit: Mengajar 120 Anak Pemulung di TPA Gampong Jawa

Komitmen TJSL PLN untuk Ekosistem Inklusif

Pendampingan berkelanjutan bagi anak-anak di Aceh Flexi School ini juga disokong oleh program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero).

Dukungan berupa pembangunan gedung sekolah dan ruang terapi permanen menjadi katalis penting yang memungkinkan AFS berkembang pesat.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menyampaikan keberhasilan Gaza menjadi bukti nyata betapa pentingnya akses pendidikan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Pencapaian Gaza adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Melalui program TJSL, PLN ingin memastikan hadirnya ruang yang tepat dan inklusif agar anak-anak seperti Gaza dapat mengenali, mengasah, dan mengoptimalkan potensi terbaik mereka,” ujar Eddi Saputra dalam keterangannya, Jum’at (31/7).

Dukungan infrastruktur dari PLN tidak hanya menaikkan kapasitas tempat belajar hingga menampung 56 siswa.

Pencapaian Gaza menegaskan pesan penting bagi masyarakat luas bahwa kondisi sebagai anak berkebutuhan khusus bukanlah halangan untuk produktif dan berprestasi.

Dengan ekosistem yang tepat, setiap anak dapat bersinar dengan caranya sendiri.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait