Umum

Tokoh Pers Aceh Sjamsul Kahar Meninggal Dunia

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Dunia pers Aceh kembali berduka. Tokoh pers senior Aceh, H. Sjamsul Kahar bin M. Daham Nuh, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh, Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 02.20 WIB.

Sjamsul Kahar yang lahir di Sigli, 9 Oktober 1945, meninggal dunia setelah beberapa hari menjalani perawatan karena penyakit yang dideritanya. Kabar wafatnya tokoh yang selama puluhan tahun mewarnai perjalanan pers Aceh itu segera menyebar dan mendapat perhatian luas dari kalangan wartawan, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen di Aceh.

Almarhum yang juga mantan Ketua PWI Aceh meninggal dunia dalam usia 80 tahun setelah beberapa hari sebelumnya menjalani perawatan intensif di RSUDZA.

Dari RSUDZA, jenazah kemudian dibawa ke kediaman keluarga di Jalan Utama Keutapang–Mata Ie, Lorong Hikmah, Gampong Gue Gajah, Kabupaten Aceh Besar.

Menurut informasi keluarga, jenazah dijadwalkan dimakamkan di TPU Taman Abadi, Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Sebelum pemakaman, jenazah akan disalatkan di Masjid Al-Anshar Gampong Mulia setelah waktu zuhur.

Almarhum meninggalkan istri, anak-anak, menantu dan cucu. Salah seorang putranya adalah Nezar Patria, yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.

Baca Juga:  Rekaman CCTV Perlihatkan Tgk Agam Diserang Wanita Berhijab Pink di Sabang

Nama Sjamsul Kahar tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan pers modern di Aceh.

Ia dikenal sebagai wartawan Kompas yang bertugas di Aceh sebelum kemudian bersama M. Nourhalidyn mengembangkan media yang kelak menjadi salah satu surat kabar paling berpengaruh di Aceh, Harian Serambi Indonesia.

Tiga Periode Memimpin PWI Aceh

Selain membangun media, Sjamsul Kahar juga memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi profesi wartawan.

Ia pernah dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode, yakni 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1998.

Hubungannya dengan PWI Aceh bahkan tetap tercatat dalam struktur organisasi setelah masa kepemimpinannya. Pada 2021 mencatat Sjamsul Kahar sebagai penasihat PWI Aceh periode 2021–2026.

Pada 2021, PWI Aceh juga pernah memberikan penghargaan kategori Tokoh Pers kepada Sjamsul Kahar atas kiprahnya dalam dunia jurnalistik.

Tetap Aktif di Dunia Pers hingga Usia Senja

Memasuki usia lanjut, Sjamsul Kahar tidak sepenuhnya meninggalkan dunia pers. Ia masih aktif dalam kegiatan organisasi kewartawanan dan keumatan. Ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) dan mengukuhkan pengurus KWPSI periode 2017-2022 dan 2023–2026.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapan agar wartawan tidak hanya menjalankan tugas jurnalistik, tetapi juga terus meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap persoalan syariat Islam di Aceh.

Baca Juga:  Revisi UUPA Ditetapkan Jadi Usul Inisiatif DPR RI, 27 Ketentuan Akan Diubah

Kehadirannya di berbagai kegiatan organisasi menunjukkan bahwa pengaruh Sjamsul Kahar tidak berhenti pada ruang redaksi. Ia juga menjadi bagian dari ekosistem pembinaan wartawan dan organisasi profesi di Aceh.

Puluhan tahun berada di dunia jurnalistik membuat Sjamsul Kahar menjadi saksi berbagai perubahan besar di Aceh.

Ia menjalani masa ketika pers bekerja dalam situasi konflik, menghadapi ancaman terhadap kebebasan pers, melewati kehancuran akibat tsunami, hingga menyaksikan perubahan besar industri media dari koran cetak menuju era digital.

Ia tidak hanya menjalani profesi sebagai wartawan, tetapi juga ikut membangun institusi pers dan organisasi kewartawanan di Aceh.

Kepergian Sjamsul Kahar pada usia 80 tahun menutup perjalanan panjang salah seorang tokoh penting dalam sejarah pers Aceh.

Ia meninggalkan jejak di Serambi Indonesia, PWI Aceh, dunia jurnalistik nasional, serta berbagai organisasi yang pernah melibatkan dirinya.

Bagi Aceh, kepergian tersebut bukan sekadar kehilangan seorang wartawan senior. Ia merupakan kehilangan salah satu saksi hidup perjalanan pers Aceh melewati konflik, ancaman terhadap wartawan, bencana tsunami, hingga perubahan zaman media.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait