BANDA ACEH, Infoaceh.net — Satuan Tugas Percepatan Pemulihan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (PRR) pascabencana di Provinsi Aceh memaparkan capaian signifikan dalam proses pemulihan lintas sektor.
Hingga awal April 2026, berbagai indikator menunjukkan tren positif, mulai dari pembersihan wilayah terdampak, perbaikan infrastruktur, hingga pemulihan layanan dasar masyarakat.
Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA mengungkapkan progres pembersihan lumpur telah mencapai 92 persen dari total 519 titik terdampak bencana.
“Sebanyak 480 titik sudah selesai dibersihkan atau sekitar 92 persen, sementara 39 titik lainnya masih dalam proses penyelesaian,” ujar Safrizal dalam kegiatan media gathering bertajuk Perkembangan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Provinsi Aceh yang digelar di The Pade Hotel, Aceh Besar, Selasa siang (7/4/2026).
Di sektor infrastruktur, pemerintah mencatat kemajuan pesat. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Posko Satgas PRR per 6 April 2026, seluruh jalan nasional dan jembatan nasional di Aceh telah diperbaiki sepenuhnya atau mencapai 100 persen.
Sementara itu, perbaikan jalan daerah telah mencapai 92 persen, dan jembatan daerah berada di angka 54 persen.
Untuk mempercepat pemulihan konektivitas, TNI dan Polri turut dilibatkan dalam pembangunan jembatan darurat.
Hingga kini, TNI telah menyelesaikan 97 unit jembatan, yang terdiri dari 39 jembatan Bailey, 44 jembatan Aramco, dan 14 jembatan perintis.
Di sisi lain, Polri membangun 22 unit jembatan darurat, dengan 21 unit di antaranya telah rampung atau sekitar 95 persen.
Satu jembatan di Desa Samarena, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah masih dalam tahap pengerjaan dengan progres sekitar 60 persen.
Pemulihan layanan kesehatan menunjukkan hasil maksimal. Seluruh rumah sakit daerah terdampak, sebanyak 23 unit, kini telah kembali beroperasi atau mencapai 100 persen.
Hal serupa juga terjadi pada 309 puskesmas yang telah berfungsi normal sepenuhnya. Dari 860 puskesmas pembantu yang terdampak, sebanyak 848 unit (99,60 persen) telah kembali melayani masyarakat, sementara 12 unit masih dalam tahap pemulihan.
Di sektor pendidikan, sebanyak 3.120 satuan pendidikan yang terdampak telah kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Mayoritas sekolah, yakni 3.046 unit, telah menggunakan gedung asal, sementara sisanya masih menggunakan fasilitas darurat seperti tenda, kelas sementara, atau menumpang di lokasi lain.
Huntara Capai 91,08 Persen, Kendala Listrik Masih Dihadapi
Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak juga terus dikebut. Hingga saat ini, realisasinya telah mencapai 91,08 persen.
Meski demikian, Safrizal ZA mengakui masih terdapat sejumlah kendala teknis di lapangan, terutama terkait penyediaan listrik.
“Di Desa Keude Bungkah, Aceh Utara, dari 46 unit huntara yang sebelumnya belum teraliri listrik, kini 23 unit sudah terpasang. Sisanya sedang dalam proses penyelesaian,” jelasnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang juga mengusulkan tambahan 97 unit huntara. Usulan ini muncul seiring kembalinya warga yang sebelumnya mengungsi ke luar daerah.
Satgas PRR memastikan usulan tersebut akan diverifikasi terlebih dahulu, termasuk memastikan lokasi pembangunan aman dari potensi bencana seperti banjir dan longsor.
“Jika sudah diverifikasi, pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat pekan,” tambahnya.
Huntap Masih Rendah, DTH Jadi Solusi Sementara
Untuk hunian tetap (huntap), progresnya masih relatif rendah. Dari total rencana 26.418 unit, baru 104 unit yang telah selesai dibangun.
Sebagai solusi sementara, pemerintah menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp1,8 juta untuk tiga bulan pertama bagi warga yang memilih tinggal di luar huntara.
Bantuan ini dapat diperpanjang hingga hunian tetap selesai.
Pemerintah juga telah menggelontorkan bantuan sosial dan ekonomi bagi masyarakat terdampak dengan total nilai mencapai Rp355,9 miliar.
Bantuan tersebut meliputi jaminan hidup (jadup), isi hunian, hingga dukungan stimulasi ekonomi.
Selain itu, progres pembersihan dan pemanfaatan kayu sisa bencana telah mencapai 70 persen.
Sementara pemulihan rumah ibadah juga hampir rampung. Dari total 918 unit terdampak, sebanyak 906 unit atau 98,69 persen telah kembali digunakan.
Sisanya, sebanyak 12 masjid dan mushalla, masih dalam tahap rehabilitasi di sejumlah daerah seperti Bireuen, Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Aceh Utara.
Safrizal menegaskan komitmen Pemerintah untuk menuntaskan seluruh proses rehabilitasi dan rekonstruksi secara menyeluruh, agar masyarakat terdampak dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Dengan capaian yang terus menunjukkan tren positif, Satgas PRR optimistis pemulihan pascabencana di Aceh dapat diselesaikan secara bertahap, meskipun sejumlah tantangan teknis di lapangan masih harus diatasi.


















