Ekonomi

Ironi Aceh Penghasil Migas, Masih Impor Gas dari Amerika dan Aljazair

Banda Aceh, Infoaceh.net – Provinsi Aceh yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia ternyata masih bergantung pada pasokan gas dari luar negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat impor Aceh pada April 2026 didominasi oleh gas propana dan butana dengan nilai mencapai 45,91 juta dolar Amerika Serikat (USD) atau setara Rp820 miliar.

ADVERTISMENT
Pelantikan Panglima Kodam Iskandar Muda

Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Banda Aceh, Selasa (2/6/2026).

Menurut Agus, nilai impor Aceh pada April 2026 mencapai 49,25 juta USD atau meningkat 14,09 persen dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 43,17 juta USD.

Dari total impor tersebut, sekitar 93 persen berasal dari komoditas bahan bakar mineral berupa gas propana dan butana.

“Komoditas impor terbesar selama April 2026 adalah gas propana dan butana senilai 45,91 juta USD. Selain itu terdapat impor bahan kimia anorganik sebesar 2,99 juta USD dan garam, belerang serta kapur sebesar 0,36 juta USD,” kata Agus.

Data BPS menunjukkan gas yang masuk ke Aceh sebagian besar berasal dari Amerika Serikat dan Aljazair.

Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dengan nilai impor mencapai 27,17 juta USD, disusul Aljazair sebesar 18,74 juta USD.

Sementara impor dari Tiongkok sebesar 2,99 juta USD berupa bahan kimia anorganik dan dari Thailand sebesar 0,36 juta USD berupa garam dan bahan mineral lainnya.

Baca Juga:  Bank Aceh Peduli Salurkan Bantuan Tangan Palsu untuk Suhairi di Montasik

Tingginya impor gas tersebut menjadi ironi tersendiri mengingat Aceh memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil migas nasional.

Bahkan saat ini wilayah Aceh masih memiliki sejumlah kawasan migas potensial, termasuk blok-blok migas lepas pantai yang sedang dikembangkan di kawasan Andaman.

Meski demikian, kebutuhan energi dan industri di Aceh masih mengandalkan pasokan gas dari luar negeri sehingga impor tetap dilakukan dalam jumlah besar.

Di sisi lain, kinerja perdagangan luar negeri Aceh masih menunjukkan hasil positif. Pada April 2026, nilai ekspor Aceh mencapai 56,99 juta USD, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar 49,25 juta USD.

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Aceh tetap mencatat surplus sebesar 7,74 juta USD.

Ekspor Aceh masih didominasi komoditas nonmigas, terutama batubara. Nilai ekspor batubara pada April 2026 mencapai 45,57 juta USD atau berkontribusi sekitar 79,95 persen terhadap total ekspor Aceh.

Selain batubara, komoditas unggulan lainnya adalah kopi dan rempah-rempah dengan nilai ekspor sebesar 9,05 juta USD atau sekitar 15,87 persen dari total ekspor. Berbagai produk kimia juga menyumbang nilai ekspor sebesar 1,30 juta USD.

Menurut sektor usaha, ekspor Aceh masih sangat bergantung pada sektor pertambangan.

Nilai ekspor hasil pertambangan mencapai 45,67 juta USD atau sekitar 80,13 persen dari total ekspor.

Sementara sektor pertanian menyumbang 9,04 juta USD dan industri pengolahan sebesar 2,28 juta USD.

Baca Juga:  OJK dan APH di Aceh Perkuat Sinergi Tangani Tindak Pidana Sektor Jasa Keuangan

India masih menjadi negara tujuan utama ekspor Aceh. Selama April 2026, ekspor ke negara tersebut mencapai 38,14 juta USD atau sekitar 66,92 persen dari total ekspor Aceh.

Komoditas yang paling banyak diekspor ke India adalah batubara dan berbagai produk kimia.

Thailand berada di posisi kedua dengan nilai ekspor sebesar 4,49 juta USD, disusul Vietnam sebesar 4,29 juta USD.

Amerika Serikat berada di peringkat berikutnya dengan nilai ekspor 3,92 juta USD yang didominasi kopi dan rempah-rempah.

BPS juga mencatat sebagian besar ekspor komoditas Aceh dilakukan melalui pelabuhan yang berada di wilayah Aceh sendiri.

Nilainya mencapai 45,58 juta USD atau sekitar 79,97 persen dari total ekspor. Sementara sisanya sebesar 11,42 juta USD dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain, terutama Sumatera Utara.

Secara kumulatif selama Januari hingga April 2026, nilai ekspor Aceh mencapai 228,54 juta USD, sedangkan impor sebesar 166,01 juta USD. Dengan demikian, Aceh masih membukukan surplus perdagangan sebesar 62,52 juta USD.

Meski neraca perdagangan tetap positif, tingginya impor gas menunjukkan bahwa Aceh masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan kemandirian energi.

Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri di tengah besarnya potensi migas yang dimiliki daerah tersebut serta harapan masyarakat agar sumber daya energi Aceh dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kebutuhan dalam negeri.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait