Banda Aceh, Infoaceh.net – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang dalam periode tertentu telah mencapai lebih dari 30 persen dinilai menjadi cerminan masih rapuhnya ketahanan energi nasional.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi di tengah gejolak pasar energi global.
Serikat Pekerja Pertamina Unit Pemasaran I (SPP UPMS I) menilai fluktuasi harga energi yang terjadi saat ini tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan bisnis atau mekanisme pasar semata.
Lebih dari itu, kenaikan harga energi menjadi pengingat bahwa sektor energi nasional masih sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal yang berada di luar kendali pemerintah maupun masyarakat.
Ketua Umum SPP UPMS I, Irsal, mengatakan ketahanan energi merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keberlanjutan pembangunan nasional.
Karena itu, setiap gejolak harga energi harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat fondasi sektor energi Indonesia.
“Situasi ini harus menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat fondasi energi nasional. Ketahanan energi bukan hanya soal ketersediaan pasokan, tetapi juga bagaimana negara mampu menjaga akses energi yang andal, berkelanjutan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Irsal, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, energi memiliki peran strategis dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketika harga BBM mengalami kenaikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan bermotor, tetapi juga merambat ke sektor transportasi, logistik, industri, perdagangan, hingga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok.
Kondisi tersebut, kata Irsal, menunjukkan bahwa Indonesia perlu terus memperkuat ketahanan energinya agar tidak terlalu rentan terhadap perubahan harga minyak dunia maupun berbagai faktor global lainnya yang dapat memengaruhi stabilitas energi nasional.
SPP UPMS I menilai penguatan sektor energi harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Langkah-langkah strategis yang perlu mendapat perhatian antara lain peningkatan produksi energi domestik, pembangunan dan modernisasi infrastruktur energi, optimalisasi kapasitas kilang nasional, penguatan sistem distribusi energi, serta percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan.
Selain itu, organisasi pekerja tersebut juga menekankan pentingnya penyempurnaan tata kelola sektor migas agar lebih efektif, transparan, dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Tata kelola yang baik dinilai menjadi kunci untuk menciptakan sistem energi yang lebih kuat, efisien, dan mampu menghadapi berbagai tantangan global.
“Indonesia memiliki sumber daya energi yang besar. Yang diperlukan adalah bagaimana sumber daya tersebut dapat dikelola secara optimal untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan mendukung kemandirian energi nasional,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor energi nasional, SPP UPMS I juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pekerja Pertamina Patra Niaga yang terus menjalankan tugasnya dengan profesional dan penuh dedikasi dalam melayani kebutuhan energi masyarakat.
Menurut Irsal, para pekerja Pertamina Patra Niaga merupakan garda terdepan yang setiap hari memastikan distribusi energi tetap berjalan aman, andal, dan berkelanjutan hingga ke berbagai daerah di Indonesia.
Peran tersebut menjadi sangat penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
“Pekerja Pertamina Patra Niaga berada di garis depan pelayanan energi nasional. Mereka memastikan distribusi energi tetap berjalan dengan baik agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa gangguan,” ujarnya.
SPP UPMS I juga mengajak seluruh pekerja terus menjaga integritas, profesionalisme, dan solidaritas dalam menghadapi berbagai tantangan yang berkembang di sektor energi.
Semangat pengabdian kepada masyarakat harus tetap menjadi landasan utama dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai bagian dari perusahaan energi nasional.
Lebih lanjut, organisasi pekerja tersebut mengingatkan bahwa tantangan sektor energi ke depan diperkirakan akan semakin kompleks.
Selain menghadapi ketidakpastian ekonomi global, Indonesia juga harus mempersiapkan diri menghadapi proses transisi energi menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Karena itu, momentum kenaikan harga Pertamax saat ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan tentang pentingnya memperkuat kedaulatan energi nasional.
Dengan tata kelola yang semakin baik, pemanfaatan sumber daya energi yang optimal, serta kolaborasi seluruh elemen bangsa, Indonesia diyakini mampu membangun sistem energi yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.
“Energi merupakan aset strategis bangsa. Karena itu diperlukan komitmen dan langkah nyata dari seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan energi nasional tetap berada dalam koridor kepentingan rakyat dan menjadi fondasi bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan,” tutup Irsal.

















