Luar Negeri

Amerika Serikat Diskriminatif dan Rasis Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2026

WASHINGTON, Infoaceh.net – Piala Dunia 2026 yang seharusnya menjadi pesta olahraga terbesar dan paling inklusif di muka bumi justru dibayangi tuduhan diskriminasi, rasisme terselubung dan arogansi politik Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama.

Bahkan sebelum bola pertama ditendang pada 12 Juni 2026, turnamen yang digadang-gadang menjadi simbol persatuan dunia itu telah memunculkan berbagai kontroversi terkait penolakan visa, penahanan pemain dan ofisial, pembatasan perjalanan, hingga perlakuan tidak setara terhadap peserta dan suporter dari negara-negara Global South.

ADVERTISMENT
Pelantikan Panglima Kodam Iskandar Muda

Alih-alih menjadi panggung persaudaraan antarbangsa, Piala Dunia 2026 dinilai banyak pihak telah berubah menjadi cerminan ketimpangan global, di mana negara-negara berkembang kembali diperlakukan sebagai tamu kelas dua di hadapan negara-negara Barat.

Global South Dipersulit, Negara Barat Dimudahkan

Sejumlah laporan menunjukkan bahwa tim, ofisial, media dan pendukung dari Asia, Afrika, Timur Tengah, serta Amerika Latin menghadapi hambatan masuk ke Amerika Serikat yang jauh lebih berat dibandingkan peserta dari Eropa Barat maupun Amerika Utara.

Proses visa yang berbelit, biaya administrasi yang mahal, pemeriksaan keamanan yang berlebihan, hingga risiko penolakan masuk tanpa alasan yang jelas menjadi momok bagi ribuan orang yang ingin menghadiri turnamen terbesar dunia tersebut.

Kasus Paling Menonjol Menimpa Iran

Sejumlah ofisial tim nasional Iran dilaporkan gagal memperoleh visa Amerika Serikat sehingga tim harus memindahkan sebagian agenda persiapan ke Meksiko dan melakukan perjalanan lintas batas menjelang pertandingan.

Tidak hanya Iran, sejumlah pendukung Timnas Maroko juga dilaporkan mengalami penolakan masuk ke Amerika Serikat meski memiliki dokumen perjalanan yang lengkap.

Situasi serupa menimpa Irak. Striker andalan Timnas Irak, Aymen Hussein, dilaporkan sempat ditahan selama tujuh jam oleh agen Bea Cukai dan Patroli Perbatasan Amerika Serikat di Bandara O’Hare, Chicago.

Fotografer tim nasional Irak, Talal Salah, bahkan akhirnya dilarang masuk ke Amerika Serikat.

Yang lebih memprihatinkan, wasit asal Somalia, Omar Artan, yang telah ditunjuk untuk bertugas pada turnamen tersebut dilaporkan tidak mendapatkan izin masuk ke wilayah Amerika Serikat.

Penolakan terhadap seorang perangkat pertandingan resmi FIFA memicu gelombang kritik luas dari berbagai kalangan sepak bola internasional.

Video Senegal Picu Kemarahan Dunia

Kontroversi semakin membesar setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan anggota tim nasional Senegal menjalani pemeriksaan keamanan yang dianggap berlebihan setelah tiba di Amerika Serikat.

Video tersebut memicu perdebatan mengenai dugaan profiling rasial dan diskriminasi terhadap warga negara Afrika yang datang ke AS.

Banyak pengamat menilai perlakuan semacam itu bertentangan dengan semangat FIFA yang selama ini mengusung slogan anti-rasisme dan kesetaraan.

Baca Juga:  APH Didesak Ungkap Dugaan Mark Up Harga Komputer dan Buku Cepat Belajar Al-Qur’an Disdik Aceh

Kritik semakin tajam ketika diketahui terdapat puluhan negara yang masuk dalam daftar pembatasan perjalanan Amerika Serikat.

Tercatat sebanyak 39 negara terkena larangan perjalanan penuh maupun sebagian. Dari jumlah itu, 19 negara menghadapi penghentian penerbitan visa secara menyeluruh.

Ironisnya, empat negara yang masuk dalam daftar tersebut yakni Iran, Haiti, Pantai Gading, dan Senegal merupakan peserta Piala Dunia 2026.

Pemerintahan Presiden Donald Trump beralasan kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan nasional.

Namun bagi banyak pihak, kebijakan itu justru memperlihatkan bagaimana kepentingan politik dalam negeri Amerika Serikat telah mengintervensi sebuah ajang olahraga global.

FIFA Dinilai Bungkam

Di tengah gelombang kritik tersebut, FIFA justru memilih bersikap pasif. Organisasi sepak bola dunia itu menegaskan bahwa urusan visa dan izin masuk sepenuhnya menjadi kewenangan negara tuan rumah.

Sikap FIFA memicu kekecewaan banyak kalangan karena badan sepak bola dunia tersebut dianggap gagal melindungi prinsip universalitas olahraga.

Padahal FIFA selama bertahun-tahun mengampanyekan slogan “Football Unites The World” atau sepak bola mempersatukan dunia.

Namun ketika peserta resmi, ofisial, wasit, jurnalis, hingga suporter mengalami kesulitan memasuki negara tuan rumah, FIFA dinilai lebih memilih diam daripada berhadapan dengan pemerintah Amerika Serikat.

Kritikus menilai standar ganda FIFA semakin terlihat jelas. Ketika negara-negara berkembang menjadi tuan rumah, isu HAM dan diskriminasi selalu menjadi sorotan utama FIFA maupun media Barat.

Sebaliknya ketika masalah serupa muncul di Amerika Serikat, respons FIFA cenderung lunak dan defensif.

Piala Dunia untuk Orang Kaya

Masalah berikutnya adalah biaya yang sangat mahal. Piala Dunia 2026 disebut-sebut sebagai salah satu turnamen termahal dalam sejarah sepak bola modern.

Kelompok suporter internasional memperkirakan biaya menghadiri turnamen kali ini bisa mencapai lima kali lipat dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022.

Harga tiket pertandingan yang melambung tinggi, biaya hotel yang mahal, ongkos penerbangan internasional, transportasi antarkota, serta pengurusan visa membuat perjalanan ke Amerika Serikat menjadi kemewahan yang sulit dijangkau sebagian besar warga dunia.

Bagi masyarakat di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Pakistan, Nigeria, Mesir, Maroko atau negara-negara Amerika Latin, biaya tersebut hampir mustahil dipenuhi.

Akibatnya, stadion-stadion Piala Dunia berpotensi lebih banyak dipenuhi kelompok berpenghasilan tinggi dan penonton lokal dibandingkan basis suporter tradisional yang selama ini menjadi denyut kehidupan turnamen.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Piala Dunia 2026 masih menjadi milik seluruh dunia atau hanya milik kalangan elite global?

Baca Juga:  PSSI Minta Kongres PSSI Aceh Dihentikan Sementara

Iklim Ketakutan

Kelompok-kelompok hak asasi manusia juga memperingatkan munculnya “iklim ketakutan” di sekitar penyelenggaraan turnamen.

Penegakan hukum imigrasi yang semakin agresif di Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran bagi banyak pengunjung internasional.

Bukan hanya wisatawan asing yang merasa khawatir. Komunitas migran yang telah lama tinggal di Amerika Serikat juga mengaku waswas terhadap kemungkinan operasi pengawasan di sekitar stadion, fan zone dan lokasi keramaian lainnya.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengurangi partisipasi publik dalam perayaan Piala Dunia 2026.

Padahal salah satu kekuatan terbesar sepak bola adalah kemampuannya menyatukan berbagai bangsa, agama, ras, dan budaya dalam satu ruang yang sama.

Ketika sebagian kelompok merasa tidak aman untuk hadir, maka esensi universal Piala Dunia ikut terkikis.

Bayang-Bayang Konflik Global

Piala Dunia 2026 juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran turut memberikan dampak langsung terhadap penyelenggaraan turnamen.

Selain persoalan visa bagi ofisial Iran, distribusi tiket bagi suporter negara tersebut dilaporkan mengalami gangguan yang memicu protes keras dari federasi sepak bola Iran.

Kasus ini memperlihatkan bahwa politik internasional ternyata masih memiliki kekuatan besar untuk menentukan siapa yang dapat menikmati pesta olahraga dunia dan siapa yang tidak.

Olahraga yang selama ini diklaim netral ternyata tidak sepenuhnya bebas dari pengaruh kepentingan politik global.

“Piala Dunia yang Penuh Kekacauan”

Mantan striker Timnas Inggris dan Arsenal, Ian Wright, menjadi salah satu figur sepak bola yang secara terbuka mengkritik situasi tersebut.

Wright menyebut berbagai insiden yang terjadi menjelang turnamen sebagai sesuatu yang memalukan bagi sepak bola dunia.

“Saya baru saja membaca bahwa wasit Somalia ditolak masuk. Setiap beberapa jam ada cerita baru, ada fans yang ditolak, pemain yang ditolak, ofisial yang ditolak, jurnalis yang ditolak, sekarang wasit,” katanya.

Ia kemudian melontarkan kritik yang menggambarkan situasi menjelang turnamen.

“Ini adalah Piala Dunia yang penuh kekacauan,” ujar Wright.

Pernyataan tersebut menggambarkan semakin meluasnya kekhawatiran bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadapi tantangan teknis penyelenggaraan, tetapi juga krisis moral terkait kesetaraan dan akses bagi seluruh peserta dunia.

Jika berbagai persoalan ini terus berlanjut, maka sejarah mungkin akan mencatat Piala Dunia 2026 bukan sebagai perayaan sepak bola terbesar sepanjang masa, melainkan sebagai turnamen yang memperlihatkan bagaimana batas-batas politik, diskriminasi, dan ketimpangan global berhasil mengalahkan semangat persatuan yang selama ini menjadi jiwa olahraga paling populer di planet ini.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait