Luar Negeri

Demo Besar “No Kings” di AS, 8 Juta Orang Turun ke Jalan Menentang Donald Trump

WASHINGTON, Infoaceh.net — Gelombang demonstrasi besar mengguncang Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026), ketika sekitar 8 juta warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” untuk menentang kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Aksi ini disebut sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan demonstrasi tersebar di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian — dari kota-kota besar hingga wilayah kecil.

Para demonstran memprotes gaya kepemimpinan Trump yang dinilai semakin otoriter, serta kebijakan luar negeri yang dianggap menyeret AS ke dalam konflik dengan Iran.

Di New York City, puluhan ribu orang memadati jalanan. Aktor senior Robert De Niro turut hadir, kembali melontarkan kritik keras terhadap Trump yang ia sebut sebagai ancaman bagi demokrasi dan kebebasan.

Aksi serupa juga terjadi dari Atlanta hingga San Diego, bahkan meluas ke wilayah utara seperti Alaska.

“Tidak ada negara yang bisa berjalan tanpa persetujuan rakyat,” ujar seorang veteran militer, Marc McCaughey, saat berunjuk rasa di Atlanta.

Di ibu kota Washington DC ribuan orang memadati kawasan National Mall sambil membawa spanduk bertuliskan “Trump Must Go Now” dan “Fight Fascism”.

Sementara itu, Trump dilaporkan menghabiskan akhir pekan di Florida.

Gelombang Protes Kian Membesar

Gerakan “No Kings” bukanlah aksi pertama. Demonstrasi serupa telah berlangsung sejak pertengahan 2025 dan terus membesar:

Juni 2025: jutaan orang turun ke jalan bertepatan dengan ulang tahun Trump

Oktober 2025: sekitar 7 juta demonstran terlibat

Maret 2026: melonjak hingga 8 juta orang

Aksi ini mencerminkan polarisasi tajam di AS. Di satu sisi, Trump tetap mendapat dukungan kuat dari basis gerakan “Make America Great Again”.

Namun di sisi lain, gelombang penolakan terhadapnya juga semakin besar.

Kritik Tajam: Dari Militer hingga Lingkungan

Para pengunjuk rasa menyoroti sejumlah kebijakan kontroversial Trump, antara lain:

Penggunaan dekrit eksekutif yang dianggap berlebihan.

Dugaan politisasi Departemen Kehakiman.

Dukungan terhadap energi fosil dan penolakan isu perubahan iklim.

Pendekatan militeristik dalam kebijakan luar negeri.

Naveed Shah dari organisasi veteran Common Defense menilai situasi saat ini semakin mengkhawatirkan.

“Pemerintahan ini membawa kami lebih dalam ke perang. Di dalam negeri, kami melihat warga sipil terbunuh dan komunitas imigran menjadi sasaran,” ujarnya.

Negara bagian Minnesota menjadi salah satu titik fokus utama demonstrasi, terutama di kota kembar Minneapolis dan St. Paul yang belakangan menjadi pusat perdebatan nasional terkait kebijakan imigrasi.

Politisi progresif Bernie Sanders turut berpidato dalam aksi tersebut, mengecam keras kepemimpinan Trump.

“Kita tidak akan menerima presiden yang merusak Konstitusi dan supremasi hukum setiap hari,” tegasnya.

Musisi legendaris Bruce Springsteen ikut menyuarakan kritik melalui lagu protes yang ia bawakan di St. Paul. Lagu tersebut didedikasikan untuk dua warga sipil yang tewas akibat tindakan aparat federal.

Gelombang protes juga meluas ke luar negeri, dengan aksi solidaritas berlangsung di berbagai kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma.

Di tengah meningkatnya tekanan publik, tingkat popularitas Trump dilaporkan turun di bawah 40 persen. Situasi ini menjadi tantangan serius menjelang pemilihan paruh waktu (midterm) pada November mendatang, yang dapat menentukan kontrol Partai Republik di Kongres.

Gelombang “No Kings” kini bukan sekadar aksi protes, tetapi telah menjadi simbol perlawanan luas terhadap arah politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait