Banda Aceh, Infoaceh.net — Sosok Iptu Jumadil Firdaus menjadi contoh nyata bahwa pengabdian seorang anggota Polri tak hanya terbatas pada tugas menjaga keamanan, tetapi juga merangkul masyarakat melalui pendidikan dan dakwah.
Perwira yang kini menjabat sebagai Kasubbag Binkar SDM Polresta Banda Aceh itu dikenal luas sebagai pengajar di pesantren tradisional.
Selama lebih dari satu dekade, ia konsisten mengajar dan membina santri di Pesantren atau Dayah Raudhatul Hikmah Al Waliyah Gampong Pango Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh, sebuah lembaga pendidikan Islam yang menitikberatkan pembelajaran agama secara tradisional.
Dedikasi tersebut mengantarkan Iptu Jumadil diusulkan sebagai kandidat dalam Hoegeng Awards 2026, penghargaan yang diberikan kepada anggota Polri berintegritas dan berdedikasi tinggi.
Hasvi Harizi, salah satu pengusul, mengaku mengenal Iptu Jumadil sejak dirinya menjadi santri. Ia menilai sosok sang guru tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memberi teladan dalam sikap dan akhlak.
“Keteladanan beliau itu terlihat langsung di kelas. Dari cara mengajar hingga sikap sehari-hari, kami sebagai murid benar-benar menyaksikan integritas beliau,” ujar Hasvi.
Menurutnya, Iptu Jumadil juga mengajarkan cara berinteraksi dengan masyarakat dan menyelesaikan persoalan secara bijak, menjadikannya figur yang dihormati baik di lingkungan pesantren maupun di tengah warga.
Hal senada disampaikan Rudiansyah, pengurus masjid di sekitar tempat tinggal Iptu Jumadil. Ia menyebut, sejak sebelum menjadi polisi, Jumadil Firdaus sudah aktif dalam kegiatan keagamaan dan kepemudaan.
“Beliau sering menjadi imam dan mengisi tausiyah. Pembawaannya tenang dan mengayomi, sehingga masyarakat tidak merasa takut, bahkan anak-anak pun nyaman berdiskusi dengan beliau,” kata Rudi.
Ketertarikan Iptu Jumadil terhadap dunia pendidikan sudah tumbuh sejak masa sekolah. Ia mulai mengajar mengaji saat masih duduk di bangku SMA hingga kuliah.
Setelah resmi menjadi anggota Polri pada 2005, ia tetap melanjutkan pengabdian sosialnya dengan menjadi pengasuh anak yatim korban tsunami di asrama bantuan Kerajaan Johor, Malaysia, hingga 2012.
Sejak itu, ia aktif mengajar di pesantren pada malam hari sepulang dinas kepolisian. Materi yang diajarkan beragam, mulai dari tajwid, tadarus Al-Qur’an hingga kitab berbahasa Arab, mengikuti kurikulum yang ditetapkan pesantren.
Meski tidak mengeluarkan ijazah formal, sistem pendidikan di pesantren tersebut berjalan berdampingan dengan sekolah umum. Para santri tetap bersekolah di pagi hari, lalu mengikuti pengajian pada malam hari.
Mengajar sebagai Ibadah
Bagi Iptu Jumadil, konsistensi mengajar selama lebih dari 12 tahun bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari ibadah.
Ia mengaku terinspirasi dari pesan orang tua dan guru untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan. Baginya, profesi sebagai polisi dan pengajar adalah dua bentuk pengabdian yang saling melengkapi.
“Pengabdian ini adalah bagian dari ibadah. Saya hanya berharap ridha Allah SWT,” ujarnya.
Selain aktif mengajar, Iptu Jumadil juga dikenal dengan program sosial yang pernah digagasnya saat menjabat Kapolsek Banda Raya, yakni “Berkah Seuribee” (sehari seribu).
Program tersebut mengajak anggota untuk menyisihkan seribu rupiah setiap hari. Dari sekitar 30 anggota, terkumpul dana lebih dari satu juta rupiah per bulan yang kemudian disalurkan kepada fakir miskin dan anak yatim.
“Ini bentuk kepedulian sederhana, tapi dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Kiprah Iptu Jumadil menunjukkan bahwa figur polisi humanis masih sangat relevan dan dibutuhkan. Melalui pendekatan agama, pendidikan, dan sosial, ia berhasil membangun kedekatan dengan masyarakat—sekaligus menghadirkan wajah Polri yang lebih bersahaja dan mengayomi.

















