BANDA ACEH, Infoaceh.net – Umat Islam diajak untuk memperbanyak amal kebaikan dan meninggalkan jejak positif selama hidup agar manfaatnya tetap dirasakan setelah meninggal dunia.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr M Yasir Yusuf MA saat memberikan tausiyah Subuh dalam rangkaian Safari Subuh BBC di Masjid Jamik Baitusshalihin, Ulee Kareng, Banda Aceh, Ahad (4/10/2026), bertepatan 23 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.
Prof Yasir mengawali tausiyahnya dengan mengajak jamaah merenungkan sebuah pertanyaan penting: apa yang akan dikenang orang lain ketika seseorang sudah meninggal dunia?
Menurutnya, manusia pada akhirnya tidak akan dikenang karena berapa lama hidup, berapa banyak harta yang dimiliki, ataupun setinggi apa jabatan yang pernah diduduki. Yang akan terus diingat adalah kebaikan dan manfaat yang pernah diberikan kepada orang lain.
“Ketika kita meninggal, apa yang diingat oleh orang? Yang diingat adalah kebaikan yang pernah kita lakukan selama hidup di dunia,” ujar Prof Yasir.
Ia menjelaskan, dalam kehidupan manusia terdapat apa yang disebut atsar atau jejak. Jejak tersebut bisa berupa kebaikan yang ditinggalkan melalui keluarga, ilmu, pekerjaan, pelayanan kepada masyarakat, maupun amal sosial.
Jejak kebaikan itu bahkan dapat terus memberikan manfaat ketika orang yang melakukannya sudah tidak lagi berada di dunia.
Karena itu, Prof Yasir mengajak umat Islam untuk tidak hanya memikirkan bagaimana menjalani kehidupan hari ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan dan memikirkan warisan kebaikan yang akan ditinggalkan bagi generasi berikutnya.
Prof Yasir menyebut setidaknya tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian dalam membangun legacy atau warisan kebaikan.
Pertama, mempersiapkan al-ghad atau hari esok. Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an agar setiap orang beriman memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk menghadapi hari esok.
Menurutnya, makna hari esok tidak hanya terbatas pada masa depan manusia ketika masih hidup di dunia. Lebih jauh, al-ghad juga dapat dimaknai sebagai kehidupan setelah kematian.
“Orang beriman harus mempersiapkan hari esok. Hari esok itu bisa berarti masa depan kita di dunia dan bisa juga berarti kehidupan kita setelah meninggal dunia,” katanya.
Karena itu, persiapan masa depan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan kekayaan atau mengejar kesuksesan duniawi. Manusia juga harus mempersiapkan iman, ibadah, akhlak dan amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Prof Yasir mengingatkan, kesibukan mengejar kehidupan dunia jangan sampai membuat manusia lupa bahwa kehidupan tersebut bersifat sementara.
Jangan Tinggalkan Generasi Lemah
Pilar kedua adalah mempersiapkan generasi penerus. Prof Yasir mengingatkan pesan Allah SWT dalam QS An-Nisa ayat 9 agar manusia tidak meninggalkan generasi yang lemah.
Menurutnya, kelemahan generasi tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi. Generasi juga dapat menjadi lemah apabila kehilangan fondasi spiritual, buruk dalam akhlak, rendah dalam penguasaan ilmu pengetahuan, maupun tidak memiliki kemampuan profesional.
“Jangan kita tinggalkan generasi yang lemah. Lemah dari sisi spiritual, lemah ibadahnya, dan juga lemah dalam profesionalismenya,” jelasnya.
Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan.
Orang tua, katanya, perlu memiliki kegelisahan yang sehat terhadap masa depan anak. Kegelisahan itu bukan berarti memberikan tekanan berlebihan, melainkan kesadaran bahwa anak merupakan amanah yang harus dipersiapkan dengan baik.
Pendidikan anak juga tidak boleh hanya berorientasi pada keberhasilan akademik dan materi.
Anak harus dibekali dengan iman, akhlak, pengetahuan, keterampilan, tanggung jawab, serta kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia berada dalam pengawasan Allah SWT.
“Mendidik anak adalah investasi terbesar kita. Itu adalah salah satu bentuk legacy kita,” ujarnya.
Prof Yasir menegaskan proses pendidikan dalam keluarga tidak cukup dilakukan melalui nasihat.
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Karena itu, perilaku dan keteladanan orang tua menjadi bagian penting dari proses transfer nilai kepada generasi berikutnya.
Jika orang tua menginginkan anak yang jujur, disiplin, rajin beribadah dan peduli kepada sesama, maka nilai-nilai tersebut harus terlebih dahulu terlihat dalam kehidupan orang tua.
Tiga Warisan yang Terus Mengalir
Pilar ketiga adalah membangun amal yang manfaatnya tetap mengalir setelah seseorang meninggal dunia.
Prof Yasir mengingatkan hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.
Menurut Prof Yasir, tiga hal tersebut merupakan bentuk legacy yang memiliki nilai sangat besar dalam kehidupan seorang Muslim.
Pertama adalah anak saleh. Ia menjelaskan, anak saleh bukan sekadar anak yang sukses secara duniawi atau memiliki pendidikan tinggi. Anak saleh adalah anak yang memiliki kesadaran kepada Allah SWT dan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak sedang diawasi oleh orang tuanya.
“Anak saleh adalah anak yang takut kepada Allah, walaupun orang tuanya tidak melihat apa yang dilakukannya,” katanya.
Karena itu, pendidikan agama dan pembentukan karakter harus menjadi bagian penting dalam pendidikan anak.
Kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Prof Yasir mengatakan ilmu yang bermanfaat tidak hanya terbatas pada ilmu agama. Semua ilmu yang memberikan kemaslahatan kepada manusia dapat menjadi bagian dari warisan kebaikan apabila digunakan untuk tujuan yang benar.
Seorang guru, dosen, orang tua, maupun siapa pun yang mengajarkan pengetahuan kepada orang lain sesungguhnya sedang membangun warisan yang dapat terus hidup.
Ilmu tersebut bisa diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya dan memberikan manfaat kepada masyarakat luas.
Ketiga adalah sedekah jariah. Dalam konteks kehidupan saat ini, sedekah jariah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk wakaf. “Sekarang banyak dalam bentuk wakaf. Itu juga menjadi legacy,” ujarnya.
Wakaf yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, baik dalam bidang pendidikan, keagamaan, sosial maupun berbagai kebutuhan kemanusiaan lainnya.
Jangan Mengejar Pengakuan Manusia
Prof Yasir kemudian mengajak jamaah untuk terus memperbarui niat dalam setiap aktivitas.
Menurutnya, kebaikan yang dilakukan hendaknya dikembalikan kepada Allah SWT dan tidak semata-mata bertujuan memperoleh pujian atau pengakuan manusia.
Ia mengingatkan bahwa amal saleh yang dilakukan dengan niat yang benar akan memberikan ketenangan dan keberkahan dalam kehidupan.
Allah SWT menjanjikan hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.
Kehidupan yang baik tersebut, kata Prof Yasir, dapat berupa ketenangan hati, keberkahan rezeki, kemudahan dalam menjalani kehidupan, serta kebaikan yang tumbuh dalam keluarga dan keturunan.
Karena itu, seseorang tidak perlu terlalu sibuk memikirkan apakah kebaikannya akan dikenang atau disebut oleh manusia.
“Boleh jadi kebaikan kita tidak diingat orang, tetapi dampaknya selalu akan kembali kepada kita,” katanya.
Ia mengajak jamaah Safari Subuh untuk terus menanam kebaikan tanpa menunggu penghargaan dan pengakuan dari manusia.
“Marilah kita terus berbuat kebaikan dan meninggalkan jejak kebaikan-kebaikan itu sebagai legacy bagi generasi mendatang,” ajaknya.
Prof Yasir menegaskan, pada akhirnya kehidupan manusia bukan hanya tentang usia, kekayaan, jabatan, maupun popularitas.
Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang dapat diberikan selama hidup dan seberapa panjang dampak kebaikan tersebut setelah seseorang meninggal dunia.
Menurutnya, setiap orang memiliki ruang untuk membangun legacy. Orang tua dapat meninggalkan warisan melalui anak-anak yang saleh, pendidik melalui ilmu yang bermanfaat, sementara masyarakat dapat meninggalkan warisan melalui berbagai bentuk pelayanan dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, warisan terbaik bukanlah nama yang terpampang besar, melainkan kebaikan yang terus hidup dalam diri generasi penerus, ilmu yang terus diamalkan, serta manfaat yang terus mengalir kepada masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar umat Islam menjadikan kehidupan sebagai kesempatan untuk menanam kebaikan sebanyak-banyaknya.
Sebab, ketika seseorang meninggal dunia, harta dan jabatan akan ditinggalkan. Namun, amal kebaikan yang ikhlas, ilmu yang bermanfaat, anak saleh, dan manfaat yang terus dirasakan orang lain dapat menjadi jejak yang tetap hidup.
Jika ingin dikenang setelah meninggal, maka tinggalkanlah kebaikan selama masih hidup.


















