Syariah

Ulama Aceh Dulu Berjuang untuk Menjaga Kejayaan Islam

SIGLI, Infoaceh.net – Sejarah perjuangan ulama Aceh melawan penjajahan Belanda tidak bisa dilepaskan dari semangat mempertahankan agama Islam.

Perjuangan tersebut bukan sekadar perlawanan terhadap kekuasaan kolonial, tetapi juga bagian dari upaya menjaga agama, kehormatan, dan masa depan umat Islam di Nusantara.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Dr Nurkhalis Muchtar Lc MA, Dosen Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, dalam tausiyah usai pelaksanaan salat Subuh berjamaah di Masjid Agung Al Falah Sigli, Kabupaten Pidie, Ahad pagi (1/11/2026).

Dalam tausiyahnya, Nurkhalis mengingatkan bahwa ulama Aceh pada masa penjajahan memiliki peran besar dalam menggerakkan perlawanan terhadap Belanda.

Salah satu tokoh yang menjadi simbol perjuangan tersebut adalah Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, ulama asal Pidie yang memimpin dan membangkitkan kembali perlawanan rakyat Aceh sejak 1881 hingga wafat pada 31 Januari 1891.

Menurutnya, perjuangan ulama Aceh pada masa itu memiliki landasan keagamaan yang kuat. Mereka menggerakkan masyarakat untuk mempertahankan Islam dari ancaman penjajahan Belanda yang dipandang sebagai kekuatan kolonial yang mengancam kedaulatan Kesultanan Aceh sekaligus kehidupan umat Islam.

Teungku Chik di Tiro tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai pemimpin perjuangan yang berhasil membangkitkan semangat perlawanan rakyat melalui dakwah dan seruan perang sabil.

Perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari sejarah panjang Perang Aceh yang berlangsung sejak 1873.

Berdasarkan catatan sejarah, Teungku Chik di Tiro kembali membangkitkan perlawanan terhadap Belanda pada tahun 1881 setelah aktivitas penyerangan sempat mengalami penurunan. Semangat perjuangan tersebut terus dikobarkan hingga beliau wafat pada 1891.

Perjuangan Islam dan Persatuan Nusantara

Ustaz Nurkhalis yang berasal dari Aceh Jaya ini juga menjelaskan bahwa perjuangan ulama Aceh tidak berhenti pada perlawanan fisik terhadap Belanda. Semangat tersebut terus berlanjut hingga masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:  Peukan Bada Juara Umum MTQ ke-35 Kabupaten Aceh Besar

Ia menilai, ulama Aceh pada masa lalu memiliki pandangan jauh ke depan. Mereka tidak hanya memikirkan kemerdekaan Aceh sebagai sebuah wilayah, tetapi juga mempertimbangkan nasib umat Islam di berbagai daerah Nusantara.

Dalam pandangan yang disampaikan Nurkhalis, ulama Aceh kala itu tidak memilih berdiri sendiri sebagai sebuah negara merdeka ketika perjuangan Indonesia berlangsung, padahal kesempatan saat itu sangat besar.

Mereka justru ikut bergabung dalam perjuangan bersama bangsa-bangsa di Nusantara untuk membentuk Indonesia yang merdeka.

Hal itu, menurutnya, berkaitan dengan semangat menjaga kejayaan Islam di wilayah Nusantara. Jika Aceh hanya memperjuangkan kemerdekaannya sendiri, sementara daerah-daerah lain tetap berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, perjuangan umat Islam di wilayah lain juga akan menghadapi ancaman aqidah dan akan berpindah keyakinan ke agama lain seperti misi Belanda.

Karena itu, perjuangan mempertahankan Islam dan melawan kolonialisme dipandang sebagai perjuangan yang memiliki cakupan lebih luas daripada kepentingan satu daerah.

Pandangan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah catatan sejarah mengenai sikap ulama Aceh setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Salah satu bukti penting keterlibatan ulama Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah keluarnya Maklumat Ulama Seluruh Aceh pada 15 Oktober 1945.

Maklumat tersebut ditandatangani empat ulama besar Aceh, yakni Teungku Haji Hasan Krueng Kale, Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Haji Dja’far Sidik Lamjabat, dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri.

Maklumat itu menyatakan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia merupakan perjuangan suci yang disebut Perang Sabil.

Bahkan, dalam maklumat tersebut, perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia secara tegas dihubungkan dengan perjuangan para pendahulu Aceh, termasuk Teungku Chik di Tiro dan pahlawan-pahlawan lainnya.

Seruan tersebut juga mengajak seluruh rakyat bersatu di belakang Presiden Soekarno untuk mempertahankan tanah air, agama, dan bangsa dari ancaman kembalinya penjajahan Belanda.

Baca Juga:  PKS Aceh Siapkan Relawan Tangguh, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

Dokumen Maklumat Ulama Seluruh Aceh 15 Oktober 1945 memperlihatkan bagaimana para ulama menghubungkan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan semangat perlawanan terhadap Belanda yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Dukungan ulama tersebut kemudian diwujudkan melalui pembentukan kekuatan perjuangan bersenjata.

Pada 17 November 1945, sekitar 600 ulama dan tokoh masyarakat berkumpul di Masjid Tiro, Kabupaten Pidie. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan pembentukan Barisan Mujahidin.

Selanjutnya, pada 23 November 1945, musyawarah ulama seluruh Aceh di Masjid Raya Baiturrahman memutuskan pembentukan Barisan Hisbullah di bawah pimpinan Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Dalam perkembangan berikutnya, kekuatan tersebut menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya Belanda kembali menguasai Nusantara.

Sejarah perjuangan ulama Aceh juga tidak terlepas dari peran Teungku Chik Pante Kulu yang dikenal sebagai pengarang Hikayat Prang Sabi.

Karya tersebut menjadi salah satu media penting untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda.

Melalui syair dan kisah perjuangan yang disampaikan, masyarakat diajak memahami makna pengorbanan dan keberanian dalam mempertahankan agama serta tanah air.

Sejumlah kajian sejarah mencatat bahwa Hikayat Prang Sabi memiliki pengaruh besar dalam menggerakkan rakyat Aceh untuk bergabung dalam perlawanan terhadap kolonialisme.

Peran ulama dalam perjuangan Aceh tersebut juga menjadi perhatian berbagai penelitian sejarah dan dokumentasi pemerintah.

Ustaz Dr Nurkhalis Muchtar mengajak masyarakat, khususnya generasi muda Aceh, untuk tidak melupakan sejarah perjuangan para ulama.

Menurutnya, perjuangan ulama terdahulu harus menjadi pelajaran bahwa agama, persatuan, pendidikan, dan masa depan umat merupakan bagian penting dari tanggung jawab generasi penerus.

Warisan perjuangan tersebut tidak cukup hanya dikenang melalui nama para pahlawan atau peringatan sejarah, tetapi juga perlu diwujudkan melalui penguatan ilmu pengetahuan, pendidikan Islam, persatuan, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait