Umum

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Ikut Kuliah Filologi Bersama Cek Midi di Rumoh Manuskrip Aceh

BANDA ACEH — Sekitar 30 mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry mengikuti Kuliah Filologi (ilmu penaskahan) bersama Tarmizi A Hamid di Rumoh Manuskrip Aceh, Gampong Ie Masen Kayee Adang Banda Aceh, Jum’at (31/3/2023).

Mahasiswa datang bersama Ketua Prodi PMI Dr Rasyidah MAg. Mereka disambut hangat oleh Tarmizi A. Hamid yang akrab disapa Cek Midi, didampingi isterinya Nurul Husna.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

“Rumoh Manuskrip Aceh yang kami dirikan secara personal ini kami dedikasikan untuk menjadi pusat pelestarian dan kajian manuskrip Aceh,” kata Cek Midi di hadapan mahasiswa.

Cek Midi memperkenalkan wawasan kajian manuskrip Melayu dan Aceh khususnya. Ratusan manuskrip yang disimpan Cek Midi itu dikumpulkan dari pedalaman Aceh.

Baca Juga:  Bupati Aceh Tengah Apresiasi Kinerja Satgas PRR, Optimis Realisasi Anggaran TKD Capai 50 Persen Akhir Oktober

“Peradaban Aceh masa lampau sangat jaya. Pelajar dari seluruh Nusantara datang khusus ke Bandar Aceh Darussalam untuk mempelajari berbagai isi kitab karya para ilmuwan Aceh, jauh sekali beda dengan zaman sekarang,” ujar Cek Midi yang sering menerima kunjungan tamu nasional dan mancanegara.

Dikatakannya, Aceh masa lampau sangat terbuka kepada ilmu pengetahuan dan ilmuwan sehingga banyak ilmuwan dari bangsa asing mengembangkan ilmu mereka di Aceh, semisal Syekh Zakaria Ansari (Haramain) Syekh Baba Daud Rumi (Turki) Syekh Nuruddin Ar-Raniry (India) dan lain-lain.

“Ilmuwan yang sangat terkenal dari Ranir, Goa Selatan India, yang sekarang namanya ditabalkan pada UIN Ar-Raniry. Aceh masa lampau tidak menganut paham primordial apalagi nepotisme dalam sebuah lembaga negara. Itulah yang menyebabkan Aceh masa lampau sangat maju,” ungkap Cek Midi.

Baca Juga:  OJK dan APH di Aceh Perkuat Sinergi Tangani Tindak Pidana Sektor Jasa Keuangan

Sementara Dr Rasyidah sangat mengagumi hasil produk budaya masa lampau Aceh dari aspek ilmu pengetahuan dan dapat dipelajari sampai sekarang.

“Semoga setelah belajar di Rumoh Manuskrip Aceh ini, mahasiswa termotivasi agar mengikuti jejak ilmuwan terdahulu yang aktif menulis dan meninggalkan karya tulis,” ujar Rasyidah.

“Kami akan membawa lagi mahasiswa ke Rumoh Manuskrip sehingga lebih banyak mahasiswa yang terbuka wawasan tentang kejayaan ilmu masa lampau,” tutup Rasyidah. (IA)

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait