Aceh Timur, Infoaceh.net – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama TNI Angkatan Darat memperkuat sinergi pengamanan Wilayah Kerja (WK) PT Medco E&P Malaka (Blok A) di Aceh Timur.
Langkah tersebut merupakan implementasi Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BPMA dan TNI AD untuk memastikan keamanan objek vital nasional (Obvitnas) sektor hulu migas tetap terjaga.
Stabilitas keamanan dinilai menjadi faktor penting dalam menjamin keberlangsungan investasi energi yang menopang ketahanan energi nasional.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, keberlangsungan operasi migas tidak hanya bergantung pada aspek teknis produksi.
Gangguan sosial, penyebaran informasi yang tidak akurat, hingga potensi konflik di sekitar wilayah operasi dapat berdampak langsung terhadap iklim investasi dan kelancaran produksi.
Pada pekan lalu juga telah dilaksanakan kunjungan lapangan dan Monitoring Evaluasi (Monev) Kinerja Pembinaan Teritorial (Binter).
Turut hadir Kepala Divisi Formalitas Hubungan Eksternal dan Sekuriti KKKS BPMA Irham M. Amin, Pabandya-3/Min Wasev Kerma Spaban VII Kermater Letkol Arm Khoirul Cahyadi, Waaster Kasdam Iskandar Muda Letkol Kav Makhyar, Dandim 0104 Aceh Timur Letkol Inf Fiska Bagus Tri Sunaryanto, Danyon 111/Karma Bhakti Letkol Inf Arlin Juniaman Zai, Kasiter Korem 011/Lilawangsa Mayor Inf M. Indra Syaputra atau yang mewakili, Manager Field Relations dan Security PT Medco E&P Malaka Maulidar Putra, serta para Danramil di wilayah kerja Blok A.
Dalam kesempatan itu, rombongan meninjau langsung kondisi lapangan sekaligus mengevaluasi efektivitas pelaksanaan pembinaan teritorial yang selama ini menjadi salah satu instrumen menjaga stabilitas kawasan operasi migas.
Kepala Divisi Formalitas Hubungan Eksternal dan Sekuriti KKKS BPMA, Irham M. Amin, mengatakan Blok A Medco merupakan salah satu objek vital nasional yang memerlukan pola pengamanan terpadu melalui kolaborasi antara BPMA, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan perusahaan.
Menurutnya, monitoring lapangan penting dilakukan agar seluruh pihak memahami kondisi riil di lapangan sekaligus mampu mendeteksi potensi kerawanan sejak dini.
“Kami berharap melalui kegiatan ini kita dapat melihat langsung situasi di lapangan sehingga berbagai potensi persoalan dapat diantisipasi secara bersama-sama,” ujar Irham, Sabtu (25/7).
Ia menambahkan, komunikasi sosial yang dijalankan para Babinsa memiliki peran strategis dalam membangun hubungan harmonis dengan masyarakat serta mencegah berkembangnya informasi yang dapat memicu keresahan.
Sementara Waaster Kasdam Iskandar Muda Letkol Kav Makhyar menegaskan TNI akan terus mengoptimalkan fungsi Koramil dalam melakukan deteksi dini terhadap berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Menurutnya, setiap isu yang berkembang harus segera direspons melalui pendekatan persuasif agar tidak berkembang menjadi konflik yang dapat mengganggu operasional objek vital nasional.
“Koramil harus mampu membaca setiap perkembangan situasi. Pencegahan jauh lebih efektif daripada penyelesaian konflik ketika persoalan sudah membesar. Karena itu komunikasi dan kolaborasi menjadi kunci,” katanya.
Pabandya-3/Min Wasev Kerma Spaban VII Kermater Letkol Arm Khoirul Cahyadi juga menekankan pentingnya kekompakan seluruh pemangku kepentingan.
Ia mengibaratkan sinergi antara BPMA, TNI, Polri, dan Medco seperti formasi burung yang terbang membentuk huruf “V”, di mana setiap unsur memiliki peran menjaga keseimbangan dan kekuatan tim.
Menurutnya, pengamanan objek vital nasional bukan semata menjaga fasilitas migas, tetapi juga melindungi aset strategis negara yang berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
Selain itu, ia mendorong agar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat sehingga kehadiran industri migas mampu memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar.
Kegiatan monitoring tersebut kembali menegaskan bahwa menjaga industri migas tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi merupakan kerja bersama antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat.
Namun demikian, tantangan menjaga kondusivitas kawasan migas tidak cukup hanya dengan memperkuat aspek keamanan. Transparansi, komunikasi yang terbuka, penyelesaian persoalan sosial secara adil, serta pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang tepat sasaran menjadi faktor yang sama pentingnya.
Sebab, investasi akan tumbuh kuat bukan hanya karena kawasan aman, tetapi juga karena masyarakat merasa menjadi bagian dari pembangunan yang dihadirkan oleh industri migas di daerahnya.


















