BANDA ACEH, Infoaceh.net — Sebanyak 47 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Aceh berhasil lolos kurasi dan akan ambil bagian dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) di Jakarta International Convention Center (JICC) Hall A-B, Jakarta, pada 20–23 Agustus 2026.
Keikutsertaan puluhan UMKM tersebut menjadi momentum penting bagi Aceh untuk memperkenalkan sekaligus memperluas pasar produk-produk unggulan daerah ke tingkat nasional, bahkan membuka peluang menuju pasar global.
KKI 2026 mengusung semangat penguatan ekonomi kreatif berbasis kekayaan daerah dengan menghadirkan berbagai produk UMKM dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi salah satu bagian dari upaya Bank Indonesia dalam mendorong pengembangan kapasitas, peningkatan daya saing, serta perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM.
Khusus Aceh, keikutsertaan tahun ini mengangkat tema “Beudaya Meusare Sare: Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh dan Berdaya Saing.”
Tema tersebut menggambarkan semangat kolaborasi masyarakat Aceh dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah dengan tetap mempertahankan akar budaya dan kearifan lokal. Di saat yang sama, produk-produk lokal terus didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, digitalisasi, inovasi, serta perubahan kebutuhan pasar.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan keikutsertaan Aceh dalam KKI 2026 menjadi momentum strategis untuk meningkatkan visibilitas produk UMKM Aceh sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
“KKI bukan sekadar ajang pameran produk UMKM, tetapi merupakan momentum untuk mempertemukan kekuatan ekonomi kreatif daerah dengan pasar yang lebih luas. Dengan mengangkat tema Aceh, kita ingin menunjukkan bahwa kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat Aceh dapat menjadi kekuatan ekonomi yang memiliki nilai tambah dan daya saing,” ujar Agus Chusaini, Selasa (18/8).
Menurutnya, pengembangan UMKM yang berbasis budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk tradisional.
Pelaku usaha juga perlu melakukan berbagai penguatan agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi tuntutan pasar modern.
Penguatan tersebut mencakup peningkatan kualitas produk, desain, kemasan, standardisasi, digitalisasi, hingga perluasan jejaring pemasaran.
Dengan langkah tersebut, kekayaan budaya Aceh diharapkan tidak berhenti sebagai identitas daerah semata, tetapi dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka peluang penciptaan lapangan kerja.
47 UMKM Aceh Lolos Kurasi
Dalam KKI 2026, sebanyak 47 UMKM Provinsi Aceh yang telah melalui proses kurasi akan menampilkan berbagai produk unggulan dari sejumlah subsektor ekonomi kreatif.
Produk yang dibawa antara lain wastra, fesyen, kriya, makanan dan minuman, serta berbagai produk kreatif yang mengangkat kekayaan lokal Aceh.
Kehadiran 47 UMKM tersebut menjadi bagian dari strategi promosi produk unggulan Aceh agar dapat dikenal lebih luas oleh konsumen, pelaku usaha, calon mitra bisnis, maupun jejaring pemasaran dari berbagai daerah di Indonesia.
Tidak hanya mengandalkan keunikan produk, para pelaku UMKM juga dituntut mampu menunjukkan kualitas, inovasi, desain, kemasan, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
KKI sekaligus menjadi ruang bagi UMKM Aceh untuk membangun jejaring baru dan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.
Angkat Wastra dan Identitas Budaya Aceh
Selain menampilkan produk UMKM, Aceh juga menghadirkan showcase kebudayaan yang dirancang untuk memberikan pengalaman lebih utuh kepada pengunjung mengenai kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat Aceh.
Showcase tersebut mengangkat berbagai produk kreatif khas Aceh, kesenian tradisional, serta wastra sebagai representasi identitas dan perjalanan budaya Aceh.
Wastra menjadi salah satu elemen penting dalam showcase tersebut. Kekayaan motif, teknik, material, serta cerita yang melekat pada tekstil tradisional Aceh ditampilkan bersamaan dengan pengembangannya dalam desain yang lebih kontemporer.
Wastra kemudian dipadukan dengan produk fesyen dan kriya. Hal itu menunjukkan bahwa warisan budaya tidak harus berhenti dalam bentuk tradisional, tetapi dapat terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, kebutuhan konsumen, dan selera pasar modern.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperlihatkan bahwa produk berbasis budaya memiliki peluang ekonomi yang besar apabila dikembangkan secara kreatif dan profesional.
Nuansa kebudayaan juga diperkuat melalui kesenian Aceh yang menjadi bagian dari pengalaman pengunjung selama pameran.
Seni pertunjukan, elemen visual, artefak, serta berbagai produk kreatif khas Aceh diharapkan mampu membangun narasi bahwa produk UMKM daerah tidak hanya mempunyai nilai komersial.
Di balik produk tersebut terdapat cerita, identitas, sejarah, kreativitas, serta nilai-nilai budaya yang menjadi pembeda dengan produk dari daerah lainnya.
Mendorong UMKM Aceh Naik Kelas
Bank Indonesia Provinsi Aceh berharap keikutsertaan dalam KKI 2026 tidak berhenti pada kegiatan promosi selama empat hari.
Ajang tersebut diharapkan menjadi katalis bagi peningkatan kapasitas pelaku UMKM sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.
Pelaku UMKM Aceh didorong untuk tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga mampu membangun merek, meningkatkan kualitas produk, memanfaatkan platform digital, memahami kebutuhan konsumen, serta mengembangkan jaringan bisnis.
Langkah tersebut penting mengingat persaingan produk UMKM semakin terbuka. Produk lokal tidak hanya berhadapan dengan pelaku usaha dari daerah lain, tetapi juga dengan produk yang semakin mudah masuk melalui perdagangan digital.
Karena itu, kekuatan budaya harus berjalan beriringan dengan inovasi dan kemampuan bisnis.
Melalui semangat “Beudaya Meusare Sare”, Bank Indonesia Provinsi Aceh terus mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas kreatif, akademisi, perbankan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk membangun ekosistem UMKM yang semakin kuat, inovatif, adaptif, dan berdaya saing.
Bagi Aceh, KKI 2026 juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kekayaan budaya yang dimiliki tidak hanya memiliki nilai sejarah dan identitas, tetapi dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.
Sebanyak 47 UMKM yang tampil di Jakarta diharapkan mampu menjadi representasi bahwa produk Aceh memiliki potensi untuk bersaing di pasar nasional.
Lebih jauh, momentum tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk-produk kreatif Aceh untuk menembus pasar global.
KKI 2026 akan berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di JICC Hall A-B, Jakarta.
Melalui ajang tersebut, Bank Indonesia Provinsi Aceh mengajak masyarakat untuk mengenal, mengapresiasi, dan mendukung produk-produk UMKM Aceh sekaligus ikut memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya daerah.
“Beudaya Meusare Sare”—budaya dan kreativitas Aceh, bergerak bersama menuju UMKM yang bangkit, tangguh, dan berdaya saing.

















