Komunitas

Jagoan Dimenangkan, Karena Sudah Setor Rp1,1 Miliar?

Di sebuah pulau wisata yang dalam reportase ini kita sebut Pulau Konoha, ada sebuah kisah menarik tentang gedung tua, proyek bernilai miliaran rupiah, tender terbuka, seorang bos berkacamata bulat, ajudan kepercayaan, dan seorang pengusaha yang konon sudah menyiapkan “tiket masuk” senilai Rp1,1 miliar.

Tentu saja, semua ini hanya cerita. Setidaknya demikian yang harus ditegaskan sejak awal. Namun dalam dunia satire Pulau Wisata Konoha, cerita semacam ini selalu menarik untuk dikisahkan.

Sebab, di negeri antah-berantah itu, kadang-kadang proses tender bukan hanya soal siapa yang paling memenuhi persyaratan teknis dan administrasi, melainkan juga tentang siapa yang paling dekat dengan “orang dalam”.

Kisah bermula dari sebuah mess yang berdiri di pusat ibu kota Provinsi Konoha, Mandasyeh. Gedung bertingkat tersebut sudah lama berdiri seperti monumen ketidakselesaian.

Pembangunannya tersendat dan nyaris terlupakan. Padahal lokasinya cukup strategis, berada di pusat perdagangan Mandasyeh. Banyak orang beranggapan gedung tersebut sebenarnya lebih masuk akal jika dicarikan investor untuk dikembangkan menjadi hotel atau fasilitas komersial.

Tetapi pemerintah Pulau Konoha memiliki pandangan berbeda. Di bawah kepemimpinan Bos Besar Berkacamata Bulat, gedung tersebut harus dirampungkan. Bukan sekadar bangunan, tetapi harus menjadi kebanggaan masyarakat Pulau Konoha. Maka disiapkanlah anggaran sekitar Rp11 miliar lebih.

Tender pun diumumkan secara terbuka. Di atas kertas, semuanya terlihat normal. Ada dokumen tender, ada persyaratan, ada peserta, ada evaluasi, ada pemenang. Tetapi di balik panggung resmi itulah cerita satire ini mulai bergerak.

Dalam kisah rekaan ini, Bos Besar Berkacamata Bulat tidak bergerak sendirian. Ia disebut menggunakan orang kepercayaannya, seorang ajudan yang dalam cerita ini diberi nama Be Khi’ng. Tugasnya sederhana, tetapi tidak sederhana untuk dilakukan: mencari pengusaha yang bersedia menjadi “jagoan”.

Bukan sekadar pengusaha yang memiliki kemampuan mengerjakan proyek, tetapi pengusaha yang juga dianggap sanggup memenuhi “komitmen” tertentu. Angkanya? Rp1,1 miliar. Konon, angka tersebut menjadi semacam “tiket masuk” untuk mendapatkan proyek senilai Rp 11 miliar lebih.

Be Khi’ng kemudian mencari relasi lama yang dianggap memiliki kedekatan dengan sang Bos Besar Berkacamata. Nama pengusaha senior yang dalam cerita ini disebut Maknyus kemudian muncul. Sayangnya, Maknyus telah meninggal dunia. Namun usaha yang pernah dibangunnya tidak ikut dikuburkan. Perusahaan kemudian diteruskan oleh anaknya, yang dalam reportase satire ini diberi nama Si Harus.

Baca Juga:  Akankah Toke Sendal Jadi Korban Berikutnya Bos Besar Kacamata?

Di sinilah lobi mulai dimainkan. Menurut alur cerita fiksi ini, Be Khi’ng kemudian mendekati Si Harus. Pesannya tidak berputar-putar. Si Harus diminta menyanggupi “setoran” sebesar Rp1,1 miliar sebagai bagian dari kesepakatan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut.

Si Harus dikisahkan menyanggupinya. Maka terjadilah transaksi. Di Pulau Wisata Konoha, uang pun berpindah tangan. Setelah itu, dunia kembali terlihat normal. Tender berjalan sebagaimana mestinya. Dokumen diperiksa, peserta dievaluasi, nilai penawaran dibandingkan. Semua berlangsung dalam suasana yang secara administratif tampak sangat profesional.

Namun ada satu masalah: jagoan Bos Besar Berkacamata tidak menang. Dan di sinilah cerita mulai berubah.

Konon, Bos Besar Berkacamata tidak menerima kenyataan tersebut. Bagaimana mungkin? Bukankah “tiket” sudah diberikan? Bukankah jagoannya sudah dipersiapkan? Mengapa kemudian peserta lain justru dinyatakan sebagai pemenang?

Dalam dunia satire Konoha, kekalahan tersebut rupanya dianggap sebagai kesalahan yang harus segera diperbaiki. Bos Besar kemudian disebut memanggil Si Kep, seorang pejabat yang dalam cerita ini dijuluki Kepala Konstruksi. Instruksinya sederhana: cari jalan agar pemenang tender dibatalkan.

Alasannya? Tentu saja harus ada. Di dunia administrasi, hampir semua keputusan selalu bisa dicari alasan formalnya. Tinggal bagaimana alasan tersebut dirangkai agar terlihat masuk akal.

Si Kep pun bergerak. Dalam cerita ini, ilmu “menyenangkan atasan” disebut masih sangat dikuasainya. Ia tidak banyak bertanya. Tidak pula terlalu lama berpikir tentang konsekuensi yang mungkin muncul di kemudian hari. Yang penting, perintah Bos Besar harus dilaksanakan.

Maka tender proyek senilai Rp11 miliar lebih tersebut akhirnya dibatalkan.

Tender yang sebelumnya sudah menghasilkan pemenang kembali masuk ke arena. Alasan administratif menjadi tameng, dokumen menjadi senjata, regulasi menjadi panggung. Sementara di balik semuanya, lobi terus berjalan.

Be Khi’ng kembali memainkan perannya. Si Harus harus menang. Tidak boleh gagal untuk kedua kalinya. Sebab, menurut logika satire Pulau Konoha, terlalu banyak hal yang sudah dipertaruhkan. Dan ketika sebuah “jagoan” sudah ditetapkan, maka jagoan harus menang. Apa pun jalannya, apa pun putarannya, apa pun konsekuensinya.

Akhirnya, dalam kisah fiksi ini, hasil yang diharapkan pun tercapai. Si Harus memenangkan tender. Bos Besar Berkacamata tersenyum. Be Khi’ng lega. Si Kep mungkin merasa tugasnya selesai. Dan angka Rp1,1 miliar yang sebelumnya disebut-sebut sebagai “tiket masuk” pun seolah menemukan ujung ceritanya. Setidaknya dalam dunia satire.

Baca Juga:  Bupati Al-Farlaky Raih SMSI Aceh Award: Kepala Daerah Populer Penanganan Bencana Wilayah Terisolir

Kini tinggal satu babak yang jauh lebih penting: pelaksanaan pekerjaan. Sebab memenangkan tender adalah satu hal. Menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas baik, tepat waktu, sesuai spesifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah perkara lain.

Di Pulau Konoha, sejumlah orang mulai berbisik. Benarkah Si Harus mampu menyelesaikan proyek sebesar itu? Apakah perusahaan tersebut memiliki kemampuan teknis, modal kerja, tenaga ahli, peralatan, dan pengalaman yang memadai? Ataukah kemenangan tender hanya menjadi awal dari persoalan yang lebih besar?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban. Sebab proyek belum selesai. Dan masyarakat Pulau Wisata Konoha tentu memiliki hak untuk melihat hasil akhirnya.

Jika gedung tersebut kelak berdiri megah, kokoh, dan berkualitas, mungkin seluruh kisah tentang “setoran Rp1,1 miliar” hanya akan menjadi bahan tertawaan dalam sebuah cerita satire.

Tetapi jika proyek bermasalah, mangkrak, terlambat, atau kualitasnya tidak sesuai harapan, maka pertanyaan yang lebih besar tentu akan muncul: siapa sebenarnya yang memenangkan tender? Perusahaan yang paling layak? Atau jagoan yang sejak awal sudah dipilih oleh Bos Besar?

Dan pertanyaan paling menggelitik dalam kisah Pulau Konoha: jika benar ada Rp1,1 miliar yang disetor untuk mendapatkan proyek Rp11 miliar lebih, itu sebenarnya uang muka, biaya lobi, atau harga sebuah kemenangan?

Tentu saja, sekali lagi, semua ini hanyalah fiksi dan satire. Tetapi satire terkadang punya cara sendiri untuk mengingatkan kita bahwa transparansi dalam pengadaan bukan sekadar soal dokumen yang lengkap.

Sebab masyarakat bukan hanya ingin melihat siapa yang menang tender. Masyarakat juga ingin tahu: apakah yang menang memang yang paling layak, atau hanya yang paling dekat dengan kekuasaan?

Catatan Penulis: Reportase ini sepenuhnya merupakan karya fiksi dan satire. Seluruh nama tokoh, jabatan, tempat, dialog, angka, hubungan antartokoh, serta rangkaian peristiwa merupakan bagian dari dunia rekaan Pulau Konoha dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap individu, pejabat, lembaga, perusahaan, maupun pihak tertentu.

Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, jabatan, perusahaan, peristiwa, ataupun keadaan dengan dunia nyata, hal tersebut merupakan kebetulan semata. Tulisan ini dibuat sebagai karya jurnalistik-satire untuk menggambarkan secara fiktif dinamika kekuasaan, lobi, dan proses pengadaan dalam sebuah negeri rekaan.

Penulis Riandi Armi, anggota aktif PWI Kota Sabang sebagai Penasihat.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait