Umum

Anggota DPRA Tgk Agam Ungkap Pengakuan Anaknya Dipukul Senior di Poltekpel Malahayati

ACEH BESAR, Infoaceh.net — Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Nazaruddin alias Tgk Agam, mengungkapkan bahwa anaknya pernah mengaku mengalami kekerasan selama menjalani pendidikan di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh.

Pengakuan tersebut disampaikan Tgk Agam saat mendatangi keluarga Muhammad Rasya Fadilah (19) di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Ahad (27/9/2026).

Rasya merupakan mahasiswa baru Poltekpel Malahayati yang berasal dari Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Ia meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan.

Tgk Agam mengatakan, pengalaman yang dialami anaknya menjadi salah satu alasan dirinya meminta aparat penegak hukum mengusut secara menyeluruh kasus yang menimpa Rasya.

Menurutnya, aparat perlu memastikan secara jelas apa yang terjadi terhadap Rasya sejak menjalani pendidikan hingga mendapatkan perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Kasus ini harus diusut tuntas. Jangan sampai ada informasi yang terlewat. Kita ingin semuanya terang berdasarkan fakta dan bukti,” ujar Tgk Agam.

Anaknya Mengaku Dipukul Senior

Tgk Agam kemudian menceritakan pengakuan anaknya yang juga pernah menjalani pendidikan di Poltekpel Malahayati.

Baca Juga:  Nazaruddin Bantah Lakukan Kekerasan: Saya Berusaha Menghindar, Bukan Memukul

Ia menyebut anaknya pernah mengaku dipukul oleh seorang senior berinisial A.

Menurut Tgk Agam, persoalan tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada pihak kampus. Namun, berdasarkan cerita yang diterimanya dari sang anak, tindakan kekerasan tersebut disebut kembali terjadi.

“Sebelum kejadian yang menimpa Muhammad Rasya Fadilah, anak saya juga pernah dipukul oleh seniornya. Anak saya mengatakan, ‘Ayah, saya dipukul, saya tidak sanggup lagi,’” ungkapnya.

Bahkan, kata Tgk Agam, anaknya mengaku dipukul hingga sekitar 16 kali. Pukulan tersebut disebut mengenai bagian rusuk dan sejumlah bagian tubuh lainnya.

Meski demikian, seluruh keterangan tersebut masih merupakan pengakuan yang disampaikan Tgk Agam berdasarkan cerita anaknya dan perlu diverifikasi melalui pemeriksaan resmi.

Tgk Agam meminta aparat tidak hanya berfokus pada penyebab medis meninggalnya Rasya, tetapi juga menelusuri kondisi mahasiswa tersebut selama mengikuti pendidikan.

Ia menilai keterangan dari teman, senior, pengasuh, tenaga pendidik, maupun pihak lain yang mengetahui aktivitas Rasya penting diperiksa untuk mengetahui rangkaian kejadian secara utuh.

“Anak kami diantar ke sana untuk dididik, bukan untuk dipukul,” tegasnya.

Menurut dia, apabila dalam proses penyelidikan ditemukan adanya tindakan kekerasan atau pelanggaran hukum, pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga:  Perempuan Korban Dugaan Penganiayaan Anggota DPRA di Sabang Minta Perlindungan LPSK

Sebaliknya, Tgk Agam juga meminta agar seluruh pihak tidak membuat kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan aparat keluar.

Kasus meninggalnya Muhammad Rasya Fadilah masih dalam penanganan aparat penegak hukum.

Penyebab pasti kematian serta dugaan adanya kekerasan yang berkaitan dengan kondisi Rasya sebelum meninggal masih menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan resmi pihak berwenang.

Munculnya pengakuan Tgk Agam mengenai pengalaman anaknya membuat dugaan persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan Poltekpel Malahayati turut menjadi perhatian.

Karena itu, pengusutan secara menyeluruh dinilai penting untuk memastikan apakah dugaan tersebut merupakan kejadian yang berdiri sendiri atau terdapat persoalan yang lebih luas dalam pola pembinaan mahasiswa.

Poltekpel Malahayati merupakan perguruan tinggi vokasi bidang pelayaran di bawah Kementerian Perhubungan yang berlokasi di Kabupaten Aceh Besar.

Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan resmi mengenai kronologi lengkap kasus Muhammad Rasya Fadilah, hasil pemeriksaan penyebab kematiannya, serta langkah yang akan dilakukan pihak berwenang dan institusi pendidikan terkait dugaan kekerasan tersebut.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait