BANDA ACEH, Infoaceh.net — Kecerdasan intelektual dan tingginya pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas karakter seseorang. Ilmu pengetahuan baru memiliki makna ketika diamalkan, membentuk akhlak, dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Karena itu, pendidikan dan kepemimpinan organisasi perlu menempatkan pembentukan karakter serta persatuan sebagai landasan utama.
Hal tersebut disampaikan Dr Tgk Rusli Daud SHI MAg, yang akrab disapa Waled Rusli, dalam kegiatan Beut Bak Warkop NU Kota Banda Aceh di Mykopi, Gampong Ateuk Jawo, Banda Aceh, Jum’at malam (6/11/2026).
Menurut Waled Rusli, kemajuan teknologi dan terbukanya akses informasi telah membuat ilmu pengetahuan semakin mudah diperoleh. Namun, kemudahan tersebut belum tentu mengantarkan seseorang pada kebenaran hakiki. Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada kemampuan manusia menginternalisasi pengetahuan menjadi karakter dan perilaku yang baik.
Ia mengatakan, pendidikan tidak semestinya berhenti pada proses transfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Pendidikan juga harus membangun kepribadian, menanamkan nilai moral, dan menumbuhkan kesadaran untuk mengamalkan ilmu.
Banyaknya pengetahuan yang dikuasai seseorang, menurut dia, tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan pendidikan apabila tidak menghasilkan kemanfaatan.
Waled Rusli mengaitkan pentingnya pembentukan karakter dengan tujuan kerasulan Nabi Muhammad SAW, yakni menyempurnakan kemuliaan akhlak sebagaimana terkandung dalam ungkapan liutammima makarimal akhlaq. Akhlak, katanya, mencakup hubungan manusia dengan Allah SWT serta hubungan antarsesama makhluk.
Kedua dimensi hubungan tersebut harus berjalan seimbang. Seseorang mungkin memiliki kekayaan, gelar akademik, atau kedudukan keagamaan yang tinggi, tetapi hal itu tidak dengan sendirinya menjamin kualitas hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia.
Tanpa adab dan karakter yang baik, keunggulan intelektual justru berisiko kehilangan makna sosialnya.
Dalam konteks itu, Waled Rusli mengemukakan pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai pembagian ulama menjadi ulama khair dan ulama su’.
Pembedaan tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa keilmuan perlu dinilai dari orientasi dan pengamalannya. Ilmu seharusnya melahirkan keteladanan dan kebaikan, bukan sekadar menjadi sumber pengakuan atau status sosial.
Persoalan karakter, lanjutnya, juga relevan dalam kehidupan organisasi, termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Egoisme pengurus dan pimpinan kerap menjadi penghambat ketika kepentingan pribadi atau perbedaan pemikiran lebih diutamakan daripada tujuan bersama.
Situasi semacam itu dapat menciptakan jarak di antara sesama pengurus meskipun mereka berada dalam satu organisasi.
Ia juga menyoroti pengaruh lingkungan pergaulan dalam pembentukan karakter. Keluarga dan pendidikan formal memang memiliki peran penting, tetapi interaksi sosial turut menentukan cara seseorang berpikir dan bertindak.
Karena itu, lingkungan pergaulan perlu menjadi perhatian dalam membangun pribadi yang beradab dan bertanggung jawab.
Menurut Waled Rusli, organisasi tidak dapat berkembang jika hanya bergantung pada kemampuan seorang pemimpin atau segelintir pengurus. Kemajuan memerlukan keterlibatan kolektif, kesediaan menyatukan pandangan, dan kemampuan mengelola perbedaan.
Perbedaan gagasan semestinya menjadi bahan pertimbangan untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik, bukan alasan untuk saling menjauh.
Ia mengingatkan pentingnya prinsip al-ittihad atau persatuan sebagai kekuatan dalam menjalankan organisasi. Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui kerja bersama, bukan sekadar menjadi slogan.
Setiap pengurus harus bersedia mengendalikan ego dan menempatkan kepentingan organisasi serta kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi.
Waled Rusli mengajak pengurus dan warga NU membangun gerakan secara kolektif dan berjamaah. Organisasi, baik NU maupun lembaga kemasyarakatan lainnya, membutuhkan kesamaan visi, koordinasi, dan komitmen untuk bergerak dalam satu arah.
Pesan utama dari pemaparannya adalah bahwa kemajuan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kecakapan pemimpin atau keluasan pengetahuan para pengurus.
Kualitas akhlak, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, dan kesanggupan menjaga persatuan merupakan modal yang tidak kalah penting. Ilmu harus diwujudkan dalam amal, sedangkan persatuan harus menjadi kekuatan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

















