BANDA ACEH, Infoaceh.net – Pemerintah Kota Banda Aceh menghadirkan konsep perpustakaan di ruang terbuka melalui program Banda Aceh Outdoor Library yang akan dipusatkan di Taman Bustanussalatin.
Program ini dirancang menjadi ruang literasi, kreativitas, seni, budaya, dan interaksi masyarakat dengan kapasitas perencanaan sekitar 2.000 pengunjung.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, secara resmi melakukan soft launching Banda Aceh Outdoor Library di Pustaka Wilayah Aceh, Sabtu (7/11/2026).
Soft launching tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengenalan program sebelum perpustakaan luar ruangan itu nantinya digelar di Taman Bustanussalatin, Banda Aceh.
Program ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kota Banda Aceh dengan Seoul Metropolitan Government, Korea Selatan, melalui Seoul ODA Challenge Project 2026.
Banda Aceh terpilih bersama Kota San Salvador Centro di El Salvador dari sejumlah kota di dunia untuk mendapatkan dukungan pengembangan outdoor library.
Melalui program tersebut, Pemerintah Kota Seoul memberikan dukungan teknis serta pengadaan peralatan untuk membantu pengembangan perpustakaan luar ruangan di Banda Aceh.
Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan, program tersebut menjadi kesempatan bagi Banda Aceh untuk memperluas akses literasi masyarakat melalui pendekatan yang lebih terbuka dan menyenangkan.
Menurutnya, kegiatan membaca tidak harus selalu dilakukan di dalam gedung perpustakaan. Ruang terbuka dan taman kota juga dapat menjadi tempat masyarakat menikmati buku sekaligus melakukan berbagai kegiatan edukatif dan kreatif.
“Melalui program ini, kita ingin bagaimana buku dan kegiatan membaca semakin dekat dengan masyarakat. Membaca tidak harus selalu dilakukan di dalam gedung perpustakaan. Membaca juga bisa dilakukan di taman, di ruang terbuka, bersama keluarga, bersama teman, sambil menikmati suasana kota,” ujar Illiza.
Banda Aceh Terpilih dalam Program Seoul ODA Challenge 2026
Illiza menjelaskan, terpilihnya Banda Aceh dalam Seoul ODA Challenge Project 2026 membuka peluang bagi pemerintah kota untuk mengembangkan konsep perpustakaan luar ruangan yang telah diterapkan di Seoul.
Program tersebut tidak hanya memberikan dukungan peralatan, tetapi juga mencakup pembelajaran mengenai pengelolaan dan operasional outdoor library.
Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengirimkan tiga perwakilan untuk mengikuti pelatihan selama satu minggu di Seoul.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta mempelajari secara langsung bagaimana konsep perpustakaan luar ruangan dirancang, dikelola, dan dioperasikan.
“Kita juga mempelajari secara langsung bagaimana konsep Outdoor Library dirancang, dikelola, dan dioperasikan,” kata Illiza.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi Pemerintah Kota Banda Aceh dalam mengembangkan program yang sesuai dengan karakter masyarakat dan kebutuhan literasi di daerah.
Kerja sama ini sekaligus menjadi bagian dari hubungan internasional antara Banda Aceh dan Seoul dalam pengembangan ruang publik serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.
Banda Aceh Outdoor Library nantinya akan berlokasi di Taman Bustanussalatin.
Dalam perencanaan awal bersama Pemerintah Kota Seoul, kawasan taman tersebut dirancang untuk dapat menampung sekitar 2.000 pengunjung.
Konsep perpustakaan luar ruangan ini menggabungkan kegiatan membaca dengan suasana alam, rekreasi keluarga, seni, budaya, dan aktivitas komunitas.
Masyarakat nantinya dapat menikmati buku sambil berada di ruang terbuka, mengikuti kegiatan edukatif, serta berinteraksi dengan pengunjung lainnya.
Kehadiran outdoor library juga diharapkan memberikan alternatif bagi masyarakat untuk menikmati ruang publik dengan kegiatan yang lebih produktif.
Taman Bustanussalatin tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga dirancang sebagai ruang belajar dan berkegiatan bagi berbagai kelompok masyarakat.
Anak-anak, keluarga, pelajar, mahasiswa, generasi muda, hingga komunitas dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengikuti berbagai kegiatan literasi dan kreativitas.
Banda Aceh Outdoor Library dirancang berlangsung selama delapan pekan, mulai 31 Oktober hingga 20 Desember 2026.
Selama periode tersebut, program akan menghadirkan 16 hari aktivasi dengan sedikitnya 40 kegiatan yang mencakup literasi, kreativitas, budaya, keluarga, dan komunitas. Pelaksanaannya melibatkan lebih dari 50 komunitas dan mitra.
Illiza mengatakan, outdoor library tidak hanya menyediakan buku untuk dibaca masyarakat, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar dan hiburan.
“Masyarakat yang datang tidak hanya datang untuk membaca buku. Ada kegiatan mendongeng, mewarnai, permainan tradisional, bedah buku, bedah film, pertunjukan seni, lokakarya budaya, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya,” sebut wali kota.
Berbagai kegiatan tersebut dirancang untuk menjangkau masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Anak-anak dapat mengikuti kegiatan mendongeng, mewarnai, dan permainan tradisional yang mendorong kreativitas serta kecintaan terhadap membaca.
Keluarga dapat menikmati waktu bersama melalui aktivitas edukatif dan rekreatif, sementara generasi muda memiliki kesempatan mengikuti kegiatan seni, budaya, diskusi, serta berbagai aktivitas komunitas.
Dengan melibatkan lebih dari 50 komunitas dan mitra, program ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan kegiatan literasi di Banda Aceh.
Seoul Kembangkan Taman Menjadi Ruang Budaya
Kepala Divisi Pembangunan Seoul Metropolitan Government, Mr Park Chang-hyun, menjelaskan bahwa konsep outdoor library telah dikembangkan Pemerintah Kota Seoul untuk meningkatkan kebahagiaan dan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan membaca di tengah kota.
Menurut Park, perpustakaan luar ruangan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati waktu luang dalam kehidupan sehari-hari sekaligus berinteraksi melalui kegiatan budaya dan seni.
Konsep tersebut memungkinkan taman dan ruang publik berkembang menjadi tempat yang tidak hanya digunakan untuk rekreasi, tetapi juga menjadi pusat kegiatan budaya masyarakat.
“Kota Metropolitan Seoul telah menjadikan kawasan taman menjadi ruang budaya dan kemudian membentangkannya menjadi platform global melalui konektivitas dan perluasannya, kini telah mencapai hingga ke Banda Aceh,” ujar Park.
Ia mengatakan, perpustakaan di ruang terbuka merupakan tempat bagi siapa saja untuk menikmati buku sambil merasakan suasana alam dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Park berharap program tersebut dapat memberikan semangat baru bagi kehidupan masyarakat Banda Aceh.
“Perpustakaan di ruang terbuka adalah tempat bagi siapa pun dapat membuka buku sambil menikmati alam dan berbagi kebahagiaan satu sama lain, dan semoga dapat memberikan semangat bagi kehidupan masyarakat Banda Aceh,” katanya.
Anak-anak dan Generasi Muda Diharapkan Menemukan Inspirasi
Park juga menyampaikan harapannya agar Taman Bustanussalatin menjadi ruang yang memberikan pengalaman positif bagi anak-anak, keluarga, dan generasi muda.
Menurutnya, lingkungan taman yang hijau dan suasana terbuka dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati kegiatan membaca dengan cara berbeda.
Melalui buku, anak-anak dan generasi muda diharapkan dapat mengenal dunia lebih luas, memperoleh pengetahuan baru, serta mengembangkan impian mereka.
“Nantinya di Taman Bustanussalatin, di bawah pepohonan yang tumbuh hijau menyatu dengan lingkungan, kami berharap anak-anak, keluarga, dan generasi muda dapat menjelajahi dan mempelajari dunia yang lebih luas melalui buku serta mengembangkan impian mereka,” katanya.
Park menegaskan, Pemerintah Kota Seoul akan terus menjalin kerja sama berkelanjutan dengan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mendukung pengembangan program tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Illiza, Wakil Wali Kota, serta seluruh jajaran pemerintah daerah yang telah mendukung terwujudnya Banda Aceh Outdoor Library.
“Terima kasih kepada Ibu Illiza, Bapak Wakil Wali Kota, beserta seluruh jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh atas dukungan dan upaya yang telah diberikan untuk menghadirkan Banda Aceh Outdoor Library,” ucapnya.
Park berharap perpustakaan luar ruangan tersebut dapat terus berkembang dalam jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan antara Seoul dan Banda Aceh.
“Kami berharap perpustakaan outdoor ini dapat terus hidup dalam jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan yang kokoh antara Seoul dan Banda Aceh,” ujarnya.
Illiza berharap Banda Aceh Outdoor Library tidak berhenti setelah pelaksanaan program selama delapan pekan.
Ia berkomitmen mendorong pengembangan program tersebut menjadi agenda literasi berkelanjutan yang dapat dilaksanakan minimal dua kali dalam setahun.
Menurutnya, keberlanjutan outdoor library menjadi penting agar manfaat program dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang, terutama setelah revitalisasi Taman Bustanussalatin selesai.
Pemerintah Kota Banda Aceh berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca, memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan, serta mendorong tumbuhnya aktivitas edukatif dan kebudayaan di ruang publik.
Selain itu, keberadaan outdoor library juga diharapkan memberikan manfaat bagi pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat.
Illiza melihat, meningkatnya kunjungan masyarakat ke Taman Bustanussalatin dapat membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk mereka.
“Kehadiran masyarakat di Taman Bustanussalatin tentu akan membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi, di mana pelaku UMKM dapat ikut memasarkan produk mereka,” ujar Illiza.
Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi pengembangan literasi, tetapi juga mendorong aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi di kawasan taman.
Pemko Banda Aceh Apresiasi Dukungan Pemerintah Seoul
Illiza menyampaikan terima kasih kepada Seoul Metropolitan Government, Tim HanGlobal, serta seluruh pihak yang telah mendukung terwujudnya Banda Aceh Outdoor Library.
Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi kesempatan bagi Banda Aceh untuk mengembangkan ruang publik yang lebih bermanfaat dan memberikan pengalaman baru bagi masyarakat.
Pemerintah Kota Banda Aceh berharap dukungan dan kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat sehingga outdoor library berkembang menjadi salah satu agenda unggulan literasi kota.
“Dan atas nama Pemerintah dan masyarakat Kota Banda Aceh, kami menyampaikan terima kasih kepada Seoul Metropolitan Government, Tim HanGlobal, serta seluruh pihak yang mendukung terwujudnya Banda Aceh Outdoor Library ini,” ujar Illiza.
Melalui program tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap Taman Bustanussalatin dapat menjadi ruang publik yang menghadirkan pengalaman membaca, belajar, berkreasi, dan berinteraksi bagi masyarakat.
Banda Aceh Outdoor Library menjadi salah satu upaya memperluas akses literasi melalui pendekatan ruang terbuka sekaligus memperkuat kerja sama internasional antara Banda Aceh dan Seoul.
Dengan kapasitas perencanaan sekitar 2.000 pengunjung, 16 hari aktivasi, sedikitnya 40 kegiatan, serta keterlibatan lebih dari 50 komunitas dan mitra, program ini diharapkan mampu menghidupkan suasana Taman Bustanussalatin sebagai ruang literasi dan kreativitas masyarakat Banda Aceh.

















