Umum

Pakar Linguistik: Istilah “Serakahnomics” Prabowo Tajam dan Sarat Kritik Moral

Infoaceh.net -Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang melontarkan istilah “Serakahnomic” untuk mengkritik kelompok tertentu yang dinilai serakah dan terus-menerus mengeruk kekayaan negara ditanggapi pakar Linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Fariz Alnizar.

Dia mengatakan bahwa istilah yang digunakan Presiden Prabowo bukan sekadar sindiran melainkan hasil kreativitas berbahasa yang menggabungkan kata ‘serakah’ dan ‘economics’.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Secara linguistik istilah serakahnomics termasuk dalam kategori neologisme karena merupakan kata baru yang lahir dari kebutuhan ekspresif untuk menjelaskan fenomena sosial-Politik secara spesifik.

“Yang secara eksplisit mengkritik praktik ekonomi yang didasarkan pada sikap serakah,” kata Fariz dilansir dari NU Online, Minggu, 27 Juli 2025.

Baca Juga:  Lewat Program Jumat Berkah, Kejari Banda Aceh Turun ke Jalan Bagikan Sembako dan Sarapan Gratis

Istilah ini merupakan strategi retoris berupa kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban, karena jawabannya sudah jelas atau tersirat dalam pertanyaan itu sendiri.

Dalam konteks politik, strategi ini bertujuan untuk menyoroti sisi negatif praktik tersebut secara ringkas dan tajam, sekaligus membingkai wacana ekonomi dengan konotasi moral yang kuat.

“Serakahnomics tidak hanya berfungsi sebagai label, tetapi juga sebagai alat framing yang membentuk persepsi publik terhadap praktik ekonomi yang dianggap eksploitatif dan merugikan masyarakat luas,” katanya.

Baca Juga:  Proyek Rehab Ruang Cathlab RSUD Sabang Disorot, Pekerja Diduga Abaikan K3

Istilah ini juga mengandung unsur disfemisme, karena penggunaan kata serakah membawa muatan nilai negatif yang keras.

“Oleh karena itu, istilah ini bukanlah eufemisme, yang biasanya berfungsi melembutkan makna, melainkan istilah yang mempertegas dan memperkuat sikap negatif,” katanya.

Dia menabahkan, efek linguistik dari istilah ini adalah membentuk sikap publik yang kritis dan waspada praktik ekonomi yang dianggap tidak adil.

“Sekaligus meningkatkan daya tarik retoris dalam wacana politik dengan bahasa yang mudah diingat dan penuh muatan emosional,” tandas Fariz.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait