Banda Aceh, Infoaceh.net — Modernisasi infrastruktur sering kali menuntut tumbal ekonomi lokal. Potret inilah yang kini terpampang nyata di Saree, sebuah kawasan perlintasan legendaris di kaki Gunung Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
Daerah yang dulunya berdenyut 24 jam sebagai “surga” persinggahan trans-Sumatera, kini perlahan meredup dan mati suri sejak beroperasinya Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh).
Pembangunan tol yang dielu-elukan mampu memangkas waktu tempuh, di sisi lain, justru memotong urat nadi perekonomian masyarakat Saree yang menggantungkan hidup dari para pelintas jalan nasional.
Saree dalam Memori: Dari Pusat Keramaian ke Ruang Sunyi
Bagi siapa saja yang pernah melintasi jalur darat dari Medan menuju Banda Aceh atau sebaliknya, Saree adalah titik wajib untuk berhenti.
Kawasan ini bukan sekadar rest area alamiah, ia adalah ruang interaksi sosial-ekonomi yang masif.
Di sinilah ribuan orang melepaskan lelah, menikmati makan siang, hingga berburu oleh-oleh khas Aceh seperti keripik singkong hangat, pisang sale, kacang rebus, hingga jagung manis.
Deretan angkutan umum legendaris seperti L300, bus antarkota, mobil pribadi hingga ratusan sepeda motor berjejer rapi menghidupkan warung-warung makan tradisional dari pagi hingga malam menjelang.
Namun, pemandangan itu kini tinggal kenangan. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, kondisi Saree saat ini sangat memprihatinkan.
Rumah Makan Legendaris Gulung Tikar: Tempat-tempat ikonik seperti Rumah Makan Seulawah Indah dan Rumah Makan Sahabat Jaya kini kosong melompong.
Pintu-pintu kayu mulai lapuk, dan bangunan yang dulu penuh tawa pengunjung kini menyisakan ruang hampa yang terbengkalai.
Infrastruktur Usaha yang Rusak: Etalase kaca tempat memajang makanan tampak berdebu, tungku-tungku besar tempat menggoreng keripik mendingin dan retak, bahkan beberapa sudut bangunan mulai ditumbuhi semak belukar hingga menjadi sarang binatang liar seperti ular.
Jalanan yang Lengang: Jalur utama di kaki Seulawah kini sunyi. Hanya satu-dua kendaraan roda empat yang melintas, sementara lalu lintas didominasi oleh pengendara roda dua lokal yang intensitasnya pun kian menurun.
Padang Tiji: Sisi Lain Koin Pembangunan
Kritik terbesar dari sebuah pembangunan wilayah adalah ketidakmampuan sistem untuk mendistribusikan kesejahteraan secara merata.
Ketika jalan tol mengalihkan arus kendaraan, pusat ekonomi pun bergeser secara radikal.
Kini, kehidupan baru justru tumbuh subur di Padang Tiji, di Kabupaten Pidie wilayah yang menjadi pintu keluar-masuk (exit/entry gate) Tol Sibanceh.
Wilayah yang dulunya relatif tenang, kini bertransformasi menjadi pusat singgah baru. Warung kopi modern seperti Pulo Hagu Kupi dan deretan kedai keripik dadakan dipadati oleh deretan mobil pribadi yang memilih efisiensi waktu tol.
Pergeseran ini membuktikan bahwa tol tidak menghilangkan daya beli masyarakat, melainkan memindahkannya secara paksa dari satu komunitas ke komunitas lain. Saree dipaksa kalah bertaruh melawan kecepatan waktu.
Kebutuhan Zaman yang Mematikan Kearifan Lokal
Melihat fenomena Saree, kita dihadapkan pada dua sisi mata uang pembangunan. Di satu sisi, Tol Sibanceh adalah pencapaian konektivitas yang mempercepat mobilitas barang dan manusia demi pertumbuhan makroekonomi Aceh.
Namun di sisi lain, ada harga mahal yang harus dibayar oleh ekonomi mikro masyarakat bawah.
Saree adalah contoh nyata dari tempat yang “pernah hidup karena kebutuhan zaman, dan kini ditinggalkan juga karena kebutuhan zaman.” Kecepatan dan efisiensi yang ditawarkan oleh jalan tol telah mereduksi esensi dari sebuah perjalanan.
Perjalanan bukan lagi tentang menikmati proses, singgah di kaki gunung, atau mencicipi kuliner lokal; perjalanan telah bergeser menjadi sekadar urusan perpindahan dari titik A ke titik B secepat mungkin.
Tragedi ekonomi Saree terjadi karena hilangnya manusia-manusia yang dulu menghidupkannya. Sebuah wilayah tidak benar-benar mati karena fisiknya hancur, ia mati ketika kehilangan interaksi dari orang-orang yang melintasinya.
Di Mana Solusi Pasca-Tol?
Kasus meredupnya Saree harus menjadi kritik keras bagi pemerintah daerah dan pengelola jalan tol. Pembangunan infrastruktur berskala besar seharusnya tidak boleh berjalan secara eksklusif tanpa memikirkan mitigasi dampak sosial bagi wilayah yang terdampak (bypass).
Masyarakat Saree tidak bisa dibiarkan mati perlahan dalam pusaran modernisasi. Diperlukan langkah-langkah konkret dan kreatif untuk menyelamatkan kawasan ini.
Revitalisasi Berbasis Pariwisata Agrowisata: Mengingat Saree memiliki tanah yang subur dan udara yang sejuk, kawasan ini harus dicitrakan ulang sebagai destinasi wisata akhir pekan (weekend gateway), bukan lagi sekadar tempat singgah darurat.
Penyediaan UMKM di Rest Area Tol: Pemerintah harus mengintervensi agar para pelaku usaha mikro asli Saree diberikan ruang khusus (Rest Area) di dalam jalur tol Sibanceh dengan tarif yang terjangkau, agar produk lokal tetap memiliki pasar.
Jika tidak ada langkah penyelamatan yang serius, Saree yang kaya akan memori sejarah perjalanan rakyat Aceh akan benar-benar hilang dari peta, terkubur oleh deru mesin kendaraan yang memburu waktu di atas aspal jalan tol.


















