Aceh

Aceh Berduka, Mantan Gubernur Abu Doto Zaini Meninggal Dunia

Banda Aceh, Infoaceh.net – Kabar duka menyelimuti masyarakat Aceh. Mantan Gubernur Aceh periode 2012-2017, dr. Zaini Abdullah atau akrab disapa Abu Doto, meninggal dunia pada Sabtu (13/6/2026) di usia 86 tahun.

Abu Doto menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh sekitar pukul 12.40 WIB, menjelang pelaksanaan Shalat Zuhur.

Kabar wafatnya tokoh yang memiliki peran penting dalam perjalanan perdamaian Aceh tersebut dengan cepat menyebar dan menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh, keluarga besar Gerakan Aceh Merdeka (GAM), serta berbagai kalangan yang pernah berjuang bersama dirinya.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia dr. Zaini bin Abdullah dalam umur 86 tahun, mantan Gubernur Aceh periode 2012-2017, hari ini Sabtu, 13 Juni 2026, pukul 12.40 WIB di RSUDZA Banda Aceh,” demikian informasi yang beredar dan telah dikonfirmasi pihak keluarga.

Informasi tersebut dibenarkan oleh Ustaz Muzakir Hamid, adik ipar almarhum yang juga pernah menjabat sebagai staf khusus Gubernur Aceh.

Menurut Muzakir, jenazah Abu Doto dimandikan terlebih dahulu di RSUDZA Banda Aceh sebelum dibawa pulang ke kediamannya di kawasan Geuceu, Banda Aceh.

Selanjutnya, setelah pelaksanaan Shalat Ashar, jenazah akan dibawa ke Masjid Raya Baiturrahman untuk dishalatkan secara berjamaah bersama masyarakat Aceh yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu tokoh penting dalam sejarah Aceh tersebut.

Usai dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman, jenazah akan diberangkatkan menuju kampung halamannya di Gampong Teurubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, untuk dimakamkan.

Abu Doto sebelumnya juga sempat menjalani perawatan di RSUDZA Banda Aceh selama beberapa lama, dan kemudian dibawa pulang ke rumah.

Baca Juga:  DPRA Minta Aparat Keamanan Tak Agresif Tangani Pengibaran Bendera Bulan Bintang

Tokoh Perdamaian Aceh

Kepergian Abu Doto tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi rakyat Aceh yang mengenalnya sebagai sosok dokter, pejuang, diplomat, dan pemimpin daerah.

Zaini Abdullah lahir pada 1939 dan menempuh pendidikan kedokteran hingga kemudian dikenal luas sebagai salah satu tokoh GAM yang memiliki peran strategis dalam perjuangan politik Aceh.

Selama bertahun-tahun, Abu Doto menetap di Swedia bersama sejumlah tokoh GAM lainnya. Ia mendampingi Deklarator GAM Tgk Hasan Tiro yang juga bermukim di Swedia.

Di masa konflik Aceh, ia dipercaya menjadi Menteri Kesehatan GAM dan aktif dalam berbagai aktivitas diplomasi internasional yang berkaitan dengan perjuangan rakyat Aceh.

Namanya semakin dikenal ketika menjadi salah satu juru runding utama GAM dalam proses perdamaian yang berlangsung di Helsinki, Finlandia.

Dalam perundingan yang dimediasi oleh mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari tersebut, Abu Doto memainkan peran penting bersama para tokoh GAM lainnya hingga akhirnya lahir Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005.

Kesepakatan bersejarah itu mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Aceh dan membuka lembaran baru bagi pembangunan serta perdamaian di Tanah Rencong.

Bagi banyak kalangan, Abu Doto merupakan salah satu figur yang turut mengantarkan Aceh menuju era damai dan pemerintahan yang lebih demokratis.

Menjadi Gubernur Aceh Tahun 2012

Setelah perdamaian tercapai, Abu Doto kembali ke Aceh dan aktif dalam dunia politik. Pada Pemilihan Kepala Daerah Aceh tahun 2012, ia berpasangan dengan Muzakir Manaf (Mualem) dan berhasil memenangkan kontestasi politik tersebut.

Baca Juga:  Bukan Sekadar Pemberi Sanksi, Muhammad Zairin Ingin DKP PWI Aceh Jadi Ruang Pembinaan Wartawan

Pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf kemudian memimpin Aceh untuk periode 2012-2017.

Selama masa kepemimpinannya, berbagai program pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan penguatan pelaksanaan kekhususan Aceh terus dijalankan.

Sebagai seorang dokter, Abu Doto juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap sektor kesehatan dan pelayanan publik.

Meski menghadapi berbagai tantangan dalam pemerintahan, sosoknya tetap dikenang sebagai pemimpin yang sederhana, tenang, dan memiliki kedekatan dengan masyarakat.

Ucapan Duka Mengalir

Sejak kabar wafatnya tersebar, ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan mulai berdatangan. Tokoh politik, ulama, mantan kombatan GAM, pejabat pemerintah, hingga masyarakat umum menyampaikan rasa kehilangan atas kepergian Abu Doto.

Banyak pihak menilai almarhum merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah modern Aceh yang telah memberikan kontribusi besar dalam perjuangan politik, proses perdamaian, dan pembangunan daerah.

Kepergiannya meninggalkan jejak sejarah yang tidak akan mudah dilupakan oleh masyarakat Aceh.

Abu Doto dikenang sebagai seorang dokter yang memilih jalan pengabdian untuk rakyatnya, seorang diplomat yang ikut memperjuangkan perdamaian, dan seorang pemimpin yang pernah mengemban amanah sebagai Gubernur Aceh.

Masyarakat Aceh kini kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun, jasa dan pengabdian Abu Doto akan tetap tercatat dalam perjalanan sejarah Aceh, terutama dalam mengantarkan daerah ini menuju perdamaian yang dinikmati hingga saat ini.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilaf dan dosanya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait