Ekonomi

Petugas Retribusi Iboih Perlu Diajarkan Etika Pelayanan Wisata

Sabang, Infoaceh.net — Buntut dari video yang viral di media sosial TikTok yang diunggah akun @anu8406, publik menyoroti dugaan adanya ucapan tidak pantas yang dilontarkan oleh oknum petugas pemungut retribusi kepada pengunjung.

Peristiwa tersebut memicu reaksi karena dinilai mencederai citra pelayanan wisata di Sabang yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan masyarakat yang ramah dan terbuka terhadap wisatawan.

Meski tindakan itu tidak dapat digeneralisasi mewakili karakter masyarakat Sabang secara keseluruhan, namun dampaknya berpotensi membentuk persepsi negatif di mata pengunjung.

Ketua Komisi IV DPRK Sabang, Muhammad Ridwan, menyayangkan sikap oknum petugas pemungut retribusi yang videonya tengah menjadi perhatian publik.

Baca Juga:  Pelayaran Krueng Geukueh – Penang, PT PEMA Siap Jalankan Penugasan Pemerintah Aceh

Ridwan menjelaskan, potensi pariwisata Sabang telah memiliki nama besar, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.

Karena itu, kualitas pelayanan dan cara berkomunikasi dengan wisatawan harus menjadi perhatian serius.

“Gaya komunikasi petugas saat berhadapan dengan wisatawan harus mencerminkan karakter masyarakat sadar wisata yang ramah, santun dan solutif,” ujar Ridwan.

Ia menegaskan, petugas yang berada di titik pelayanan merupakan wajah pertama yang dilihat wisatawan ketika datang ke destinasi.

Sikap, tutur kata, dan cara melayani akan menentukan pengalaman serta kesan pengunjung terhadap daerah tersebut.

“Petugas di lapangan adalah garda terdepan di kawasan destinasi. Karena itu, cara berkomunikasi dengan wisatawan harus benar-benar mencerminkan sikap pelaku wisata yang profesional. Harus ada keramahan dan kesadaran bahwa kenyamanan pengunjung adalah prioritas utama,” katanya.

Baca Juga:  Bongkar Dinamo Genset dan Grader: Satu Pelaku Pencurian Diamankan di Sabang, 3 Kabur

Ridwan mengingatkan posisi Sabang sebagai salah satu etalase pariwisata unggulan Aceh dipertaruhkan dalam setiap interaksi, sekecil apa pun.

Menurutnya, apabila petugas pelayanan tidak menjalankan prinsip Sapta Pesona, khususnya unsur ramah tamah dan tertib, maka citra positif daerah yang dibangun selama bertahun-tahun dapat rusak hanya karena tindakan segelintir oknum.

Karena itu, evaluasi tidak cukup berhenti pada pergantian petugas, tetapi juga perlu diikuti pembinaan etika pelayanan, penguatan budaya sadar wisata, serta standar komunikasi yang jelas agar kejadian serupa tidak terulang.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait