BANDA ACEH, Infoaceh.net — Kelangkaan semen yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Di saat ribuan rumah dan infrastruktur masih membutuhkan percepatan rehabilitasi pascabanjir, harga semen justru melonjak tajam hingga hampir dua kali lipat dari harga normal.
Di berbagai daerah, semen yang sebelumnya dijual sekitar Rp60.000 hingga Rp65.000 per sak kini mencapai Rp100.000 hingga Rp120.000 per sak. Kondisi tersebut membuat masyarakat, pelaku usaha konstruksi, hingga kontraktor lokal kesulitan memperoleh material dengan harga yang wajar.
Ironisnya, situasi ini terjadi di Aceh, provinsi yang menjadi lokasi berdirinya salah satu produsen semen terbesar, PT Solusi Bangun Andalas (SBA), yang beroperasi di Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Fenomena ini memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas distribusi semen di daerah penghasilnya sendiri.
Akademisi dan analis kebijakan publik Universitas Syiah Kuala, Dr. Nasrul Zaman, Senin (3/8), menilai kondisi tersebut sebagai ironi yang tidak semestinya terjadi.
“Ini seperti pepatah tikus mati di lumbung padi. Aceh memiliki pabrik semen, tetapi masyarakat justru kesulitan memperoleh semen dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.
Menurut Nasrul, lonjakan harga memang dapat dijelaskan melalui mekanisme ekonomi berupa meningkatnya permintaan akibat masifnya pembangunan dan rehabilitasi pascabencana. Namun, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan pembenar jika kelangkaan terus berlangsung dalam waktu lama.
Ia menilai pemerintah perlu memastikan apakah pasokan semen untuk kebutuhan Aceh benar-benar mencukupi atau justru sebagian besar dialihkan ke luar daerah sehingga kebutuhan masyarakat lokal terabaikan.
“Kalau hanya karena permintaan meningkat, tentu harga bisa naik. Tetapi ketika terjadi kelangkaan berkepanjangan, pemerintah harus melihat lebih dalam apakah ada persoalan distribusi, pengaturan pasokan, atau bahkan praktik spekulasi di tingkat perdagangan,” katanya.
Nasrul juga mengingatkan perlunya pengawasan terhadap kemungkinan adanya penimbunan maupun permainan harga oleh oknum tertentu yang memanfaatkan tingginya kebutuhan masyarakat pascabencana.
Menurutnya, apabila praktik-praktik semacam itu dibiarkan, masyarakat akan menjadi pihak yang paling dirugikan, terutama warga korban banjir yang sedang berupaya membangun kembali rumah mereka.
Pemulihan Pascabencana Terancam
Kelangkaan semen tidak hanya berdampak pada masyarakat yang ingin memperbaiki rumahnya. Sejumlah proyek rehabilitasi fasilitas umum, pembangunan hunian, hingga pekerjaan konstruksi pemerintah juga terancam mengalami keterlambatan.
Pelaku jasa konstruksi mengaku kesulitan menyusun anggaran karena harga material berubah sangat cepat.
Kenaikan harga semen otomatis meningkatkan biaya pembangunan secara keseluruhan dan berpotensi mengganggu target penyelesaian berbagai proyek pemulihan pascabencana.
Jika kondisi ini terus berlangsung, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Aceh yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah dikhawatirkan berjalan lebih lambat, sementara masyarakat yang terdampak bencana harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan hunian dan fasilitas yang layak.
Pemerintah Aceh Diminta Turun Tangan
Nasrul mendesak Pemerintah Aceh tidak hanya menunggu mekanisme pasar bekerja, tetapi segera melakukan intervensi agar pasokan kembali normal dan harga dapat dikendalikan.
Beberapa langkah yang dinilai mendesak antara lain melakukan evaluasi terhadap rantai distribusi semen, memanggil produsen beserta distributor utama untuk memastikan kebutuhan Aceh diprioritaskan, serta melakukan pengawasan intensif terhadap distribusi di lapangan.
Selain itu, Satgas Pangan bersama instansi terkait diminta melakukan inspeksi mendadak ke gudang-gudang distributor guna mengantisipasi praktik penimbunan yang dapat memperparah kelangkaan.
Apabila ditemukan adanya pelaku usaha yang dengan sengaja memainkan harga atau menahan stok demi memperoleh keuntungan berlebihan, aparat penegak hukum diminta mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pemerintah harus hadir. Jangan sampai masyarakat yang sedang bangkit dari bencana justru dibebani dengan harga bahan bangunan yang tidak terkendali,” tegas Nasrul.
Kelangkaan semen di Aceh menjadi ujian bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan barang strategis. Di tengah semangat percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir, ketersediaan material bangunan merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Publik kini menunggu langkah konkret Pemerintah Aceh untuk memastikan masyarakat tidak menjadi korban dari buruknya tata niaga distribusi maupun praktik-praktik spekulatif yang berpotensi memperlambat pemulihan daerah.
Aceh yang dikenal sebagai daerah penghasil semen seharusnya mampu menjamin kebutuhan masyarakatnya sendiri.
Tanpa intervensi yang cepat dan tepat, ironi “lumbung semen tetapi masyarakat kesulitan membeli semen” berpotensi menjadi potret kegagalan pengendalian distribusi barang strategis di daerah sendiri.

















