Ekonomi

Resmi Pimpin BPMA, Mawardi Nur Usung Tiga Misi Besar Bangkitkan Industri Migas Aceh

Jakarta, Infoaceh.net – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia resmi melantik Mawardi Nur sebagai Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Pelantikan tersebut menjadi awal babak baru pengelolaan sektor hulu minyak dan gas bumi di Aceh yang diharapkan mampu meningkatkan produksi sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah.

Mawardi Nur bukanlah sosok baru di dunia bisnis dan pengelolaan badan usaha daerah.

Sebelum dipercaya memimpin BPMA, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA) Perseroda dan dikenal mendorong transformasi perusahaan melalui penguatan tata kelola serta ekspansi ke berbagai sektor usaha strategis.

Usai prosesi pelantikan, Mawardi menyampaikan rasa syukur sekaligus komitmennya untuk mengemban amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab.

“Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Amanah ini akan saya jalankan dengan penuh integritas dan tanggung jawab. Saya siap membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan sektor hulu migas demi kemajuan Aceh,” kata Mawardi Nur usai pelantikan.

Baca Juga:  ACF 2026 Jadi Panggung Kuliner Aceh, 100 Lebih UMKM Unjuk Cita Rasa di Taman Sulthanah Safiatuddin

Dalam kepemimpinannya, Mawardi langsung menetapkan tiga fokus utama yang akan menjadi arah kebijakan BPMA.

Pertama, meningkatkan lifting minyak dan gas bumi serta menekan biaya operasi agar sektor migas mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penerimaan negara dan pendapatan Aceh.

Kedua, mempercepat pengembangan sumur tua dan sumur masyarakat sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025.

Menurutnya, potensi tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal dapat menjadi sumber produksi baru sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja migas.

Ketiga, memperbesar porsi keterlibatan perusahaan lokal serta tenaga kerja asal Aceh dalam seluruh rantai kegiatan industri hulu migas. Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda melalui peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, serta tumbuhnya industri penunjang di daerah.

Pengalaman Mawardi memimpin PEMA menjadi salah satu modal penting dalam mengelola BPMA. Selama memimpin perusahaan daerah tersebut, ia melakukan diversifikasi usaha ke berbagai sektor, mulai dari perdagangan kopi Aceh, industri baja ringan, pembangunan infrastruktur telekomunikasi hingga sektor perikanan.

Baca Juga:  TikTok Go by Tokopedia Jadi Partner Digital ACF 2026, UMKM Kuliner Aceh Dibawa ke Pasar Lebih Luas

Berbagai langkah itu dinilai memperkuat posisi PEMA sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah.

Kini, tantangan yang dihadapi Mawardi jauh lebih besar. Selain menjaga keberlanjutan produksi migas di Aceh, ia juga dituntut mampu menarik investasi baru, mempercepat pengembangan lapangan migas yang masih memiliki potensi, serta memastikan manfaat industri migas benar-benar dirasakan oleh masyarakat Aceh.

“Kami ingin memastikan industri migas tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh melalui investasi, pemberdayaan pelaku usaha lokal, dan peningkatan kualitas SDM,” tegas Mawardi.

Dengan kepemimpinan baru di BPMA, harapan besar pun muncul agar sektor migas Aceh kembali menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah, sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai wilayah strategis penghasil minyak dan gas di Indonesia.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait