Ekonomi

Firdaus Noezula Ditunjuk Jadi Dirut Baru PT PEMA Global Energi

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Firdaus Noezula ST MSi resmi ditetapkan sebagai Direktur Utama (Dirut) PT PEMA Global Energi (PGE), menggantikan Andika Mahardika yang selama ini memimpin perusahaan tersebut sejak 2023.

Penetapan Firdaus dilakukan melalui mekanisme Keputusan Pemegang Saham (KPS) pada Rabu, 19 Agustus 2026.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Firdaus yang merupakan putra Aceh Utara tersebut membenarkan penunjukan dirinya sebagai orang nomor satu di perusahaan yang mengelola Wilayah Kerja (WK) B migas di Aceh Utara.

“Benar, sudah ditetapkan oleh pemegang saham sebagai Direktur Utama PT PGE. Mohon doa dan dukungan agar bisa menjalankan amanah ini dengan baik,” ujar Firdaus, Kamis (20/8/2026).

Pergantian pucuk pimpinan tersebut menjadi perhatian karena PGE memiliki posisi strategis dalam pengelolaan sumber daya migas Aceh. Perusahaan ini merupakan bagian dari grup PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan menjadi operator WK B yang mencakup sejumlah lapangan gas di Aceh Utara.

Punya Latar Belakang Perencanaan Pembangunan

Firdaus Noezula lahir di Krueng Mane, Aceh Utara, 2 Maret 1992. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Informatika di Universitas Malikussaleh (Unimal).

Setelah itu, Firdaus melanjutkan pendidikan magister di IPB University pada bidang Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan dan menyelesaikannya pada 2023.

Sebelum dipercaya menjadi Dirut PGE, Firdaus memiliki pengalaman di bidang pemerintahan, kebijakan, organisasi dan korporasi.

Ia pernah menjadi Tenaga Ahli Bupati Aceh Utara pada 2016–2018 dan Tenaga Ahli DPR RI periode 2020–2024.

Dalam dunia korporasi, Firdaus juga pernah menjabat Komisaris Independen PT Pembangunan Aceh (PEMA). Dokumen profil PEMA yang dipublikasikan perusahaan mencatat Firdaus sebagai Komisaris Independen serta mencantumkan pengalaman sebagai Komisaris PT Karya Akselerasi Digital dan CEO Jawara Cafe & Resto Bogor.

Dengan pengalaman tersebut, Firdaus kini menghadapi tanggung jawab yang jauh lebih besar, terutama memastikan keberlanjutan operasi migas di WK B sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian Aceh.

Baca Juga:  Aceh Bidik Lebih Banyak Penerbangan dari Bandara SIM, Rute Internasional Baru Dijajaki

PT PEMA Global Energi secara resmi mengambil alih pengelolaan WK B dari Pertamina Hulu Energi North Sumatra B (PHE NSB) pada 17 Mei 2021.

Kontrak pengelolaan tersebut berlaku selama 20 tahun. PGE menjadi operator lapangan migas WK B di Aceh Utara hingga 2041.

Berdasarkan data resmi PGE, wilayah kerja perusahaan mencapai sekitar 1.336,62 kilometer persegi di Aceh Utara.

Saat ini PGE mengoperasikan lapangan gas darat yang mencakup Lapangan Arun dengan Cluster 1, Cluster 2, Cluster 3 dan Cluster 4 serta Lapangan South Lhoksukon (SLS) A dan SLS D.

Keenam klaster/lapangan tersebut mengakomodasi 58 sumur produksi. PGE juga mengelola fasilitas kondensat di bekas lokasi PT Arun NGL di Blang Lancang, Lhokseumawe, sejak 2023.

Di dalam wilayah operasi tersebut terdapat sejumlah fasilitas penting, antara lain pusat kendali operasi, gudang, landasan pesawat dan hanggar, pembangkit listrik, sistem komunikasi lapangan, bengkel pemeliharaan serta fasilitas kesehatan.

Tantangan terbesar bagi manajemen baru bukan hanya menjaga produksi, tetapi juga memastikan keberlanjutan WK B di tengah usia lapangan yang sudah tua.

Lapangan Arun ditemukan pada 1971 dan South Lhoksukon ditemukan setahun kemudian. Arun pernah berada pada masa kejayaannya dengan produksi gas mencapai sekitar 3,4 miliar kaki kubik per hari pada 1994 dan produksi kondensat mencapai 130 ribu barel per hari pada 1989. Pengapalan LNG dari Arun ke pasar internasional dimulai pada 1978.

Karena usia lapangan yang telah mencapai lebih dari lima dekade, PGE kini menghadapi kebutuhan untuk mengoptimalkan lapangan sekaligus mencari sumber cadangan baru.

Salah satu program penting yang telah disiapkan adalah pemboran eksplorasi Sumur Rayeu D-1 di Aceh Utara.

Pada April 2026, PGE bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) telah melakukan sosialisasi rencana pemboran tersebut kepada pemerintah daerah dan pemangku kepentingan di Aceh Utara. Pemboran Rayeu D-1 disebut sebagai bagian dari upaya memperpanjang masa produksi Lapangan Arun atau WK B.

Baca Juga:  Pemanfaatan Lahan KEK Arun Masih Terkendala, Pemerintah Aceh Cari Solusi

Selain eksplorasi, PGE juga tengah menjalankan program Optimasi Pengembangan Lapangan (OPL) Arun dan SLS.

BPMA pada Juni 2026 melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program tersebut. Dalam pemantauan itu terdapat tiga program utama yang menjadi perhatian, yakni pembangunan Gas Engine Generator (GEG), Gas Booster Compressor (GBC), dan Gas Processing Facility (GPF).

Program OPL Arun dan SLS tersebut ditargetkan mulai beroperasi atau onstream pada 2027.

Program ini menjadi salah satu pekerjaan rumah penting bagi Firdaus sebagai Dirut baru.

Keberhasilan proyek bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga dengan kemampuan PGE mempertahankan keberlanjutan operasi WK B, meningkatkan efisiensi dan memperbesar nilai ekonomi yang dapat diterima daerah.

WK B juga memiliki dimensi ekonomi bagi pemerintah daerah.

Pada 2023, PGE menyerahkan 10 persen Participating Interest (PI) WK B kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui BUMD PT Pase Energi NSB.

Langkah tersebut dimaksudkan agar sebagian manfaat ekonomi dari pengelolaan WK B dapat masuk ke daerah dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh Utara.

Dengan demikian, kepemimpinan baru PGE tidak hanya dituntut mengejar target produksi migas, tetapi juga memastikan pengelolaan sumber daya alam tersebut memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi Aceh.

Dalam laman resminya, PGE menetapkan visi menjadi pemimpin dalam penyediaan solusi energi bersih dan berkelanjutan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif serta memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat.

PGE juga menempatkan tata kelola perusahaan yang baik sebagai salah satu misi perusahaan.

Misi tersebut mencakup pengembangan solusi energi inovatif dan ramah lingkungan, peningkatan efisiensi dan keberlanjutan operasional, menjadi mitra yang andal bagi pelanggan, serta pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan berintegritas.

Karena itu, kepemimpinan Firdaus akan diuji pada kemampuan menerjemahkan visi tersebut ke dalam kinerja nyata di lapangan.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait