ACEH BESAR, Infoaceh.net — Teknologi dan handphone bukanlah musuh manusia. Media sosial juga bukan sesuatu yang harus dijauhi. Keduanya hanyalah alat yang dapat menjadi sarana kebaikan maupun keburukan, tergantung bagaimana manusia menggunakannya.
Pesan tersebut disampaikan Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar Cot Irie, Aceh Besar, Dr Tgk Ikhram M Amin SS MPd dalam khutbah Jum’at di Masjid Al-Ikhlas Ie Alang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, Jum’at (28/8/2026), bertepatan 15 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Tgk Ikhram mengibaratkan teknologi seperti pisau. Pisau dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat digunakan untuk melukai. Begitu pula uang yang dapat digunakan untuk bersedekah, namun bisa pula digunakan untuk maksiat.
Demikian juga dengan lisan. Ia dapat digunakan untuk berzikir, menyampaikan nasihat dan menebarkan kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber penghinaan dan permusuhan.
“Demikian pula handphone,” tegasnya.
Menurut Tgk. Ikhram, perkembangan teknologi seharusnya tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Dengan perangkat yang sama, seseorang dapat membaca Al-Qur’an, mendengarkan kajian, bersilaturahmi, mengajarkan ilmu hingga berdakwah.
Namun, pada perangkat yang sama pula seseorang dapat menyaksikan sesuatu yang haram, menyebarkan fitnah, membuka aib orang lain, menghina sesama, menyebarkan berita palsu hingga menghabiskan waktu tanpa manfaat.
Kehilangan Ketenangan karena Layar
Ia mengingatkan bahwa salah satu persoalan masyarakat saat ini bukan sekadar kecanduan terhadap teknologi, tetapi hilangnya ketenangan karena terlalu sibuk mengikuti kehidupan orang lain melalui media sosial.
Bangun tidur langsung mencari handphone. Sebelum tidur kembali melihat layar. Saat makan, tangan masih menggenggam perangkat. Bahkan ketika berkumpul bersama keluarga, perhatian justru tersedot ke dunia digital.
Orang tua yang berada di hadapan kita terkadang kalah mendapatkan perhatian dibandingkan layar handphone.
“Duduk bersama orang tua tetapi matanya tertuju kepada layar,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut bahkan terkadang terbawa hingga ke masjid. Secara fisik seseorang berada di rumah Allah, tetapi pikirannya masih disibukkan dengan berbagai informasi, notifikasi dan persoalan dari dunia digital.
Padahal, waktu manusia sangat terbatas. Hari yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Satu menit yang hilang tidak dapat dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun. Begitu pula satu jam yang telah berlalu tidak mungkin dikembalikan. Terlebih lagi umur manusia.
“Maka masalah sebenarnya bukan pada teknologi. Masalahnya adalah hati manusia yang menggunakan teknologi tersebut,” tegas Tgk. Ikhram.
Ia menjelaskan, apabila hati seseorang takut kepada Allah, teknologi dapat menjadi sarana menuju kebaikan. Sebaliknya, ketika hati semakin jauh dari Allah, teknologi dapat berubah menjadi pintu menuju berbagai keburukan dan maksiat.
Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan penggunaan teknologi sebagai bagian dari amal kebaikan.
Jari Jangan Menjadi Jalan Keburukan
Tgk. Ikhram mengajak umat Islam untuk menjadikan jari-jari mereka sebagai sarana menulis dan menyebarkan kebaikan.
Layar handphone, katanya, hendaknya menjadi pintu menuju ilmu, sementara media sosial dijadikan sebagai ladang amal.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menyebarkan informasi hanya karena sesuatu sedang viral.
“Mari kita berhenti menyebarkan sesuatu hanya karena viral,” pesannya.
Menurutnya, tidak semua sesuatu yang viral harus dikomentari dan tidak semua informasi harus diteruskan kepada orang lain.
Umat Islam juga diminta berhenti mencampuri kehidupan orang lain, membuka aib saudara, serta menulis sesuatu dalam keadaan marah.
Sebab, satu kalimat yang ditulis ketika emosi dapat menimbulkan persoalan panjang dan menjadi penyesalan di kemudian hari.
Jejak Digital dan Catatan Amal
Dalam khutbah tersebut, Tgk. Ikhram juga mengingatkan umat Islam bahwa tulisan di dunia digital memiliki jejak.
Apa yang dihapus dari layar belum tentu hilang dari jejak digital. Lebih jauh, setiap perbuatan manusia juga memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah.
“Apa yang kita hapus dari layar belum tentu terhapus dari catatan amal. Apa yang kita hapus dari handphone belum tentu terhapus dari catatan malaikat. Apa yang kita lupakan belum tentu dilupakan oleh Allah. Karena itu, marilah kita berhati-hati,” pesannya.
Ia kemudian mengingatkan jamaah untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol “kirim”.
Ada sejumlah pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri: apakah informasi tersebut benar, apakah baik, apakah bermanfaat, apakah diperlukan, dan apakah Allah ridha apabila tulisan tersebut dibaca oleh-Nya?
Jika jawabannya tidak, maka jangan dikirim. Jika masih ragu, jangan disebarkan. Jika berpotensi menimbulkan fitnah, tinggalkan.
Menurut Tgk. Ikhram, kemampuan menahan diri merupakan salah satu bentuk kekuatan seorang muslim.
Seorang muslim yang kuat bukanlah orang yang mampu mengatakan segala sesuatu yang ingin dikatakannya. Sebaliknya, kekuatan juga terlihat ketika seseorang mampu menahan ucapan dan tindakannya ketika mengetahui bahwa hal tersebut dapat membawa keburukan.
Kasi Pendidikan dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar itu kemudian mengajak umat Islam menjaga tiga perkara penting dalam kehidupan sehari-hari, yakni lisan, jari dan hati.
Lisan harus dijaga agar tidak menyakiti orang lain. Jari harus dijaga agar tidak digunakan untuk menyebarkan keburukan.
Sedangkan hati harus dijaga agar tidak dipenuhi iri, dengki, kesombongan dan kebencian.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak dengan sendirinya menentukan baik atau buruknya perilaku manusia.
Teknologi hanyalah alat. Pada akhirnya, manusia sendirilah yang menentukan ke mana alat itu diarahkan.
Karena itu, di tengah derasnya arus informasi dan semakin kuatnya kehidupan digital, umat Islam dituntut bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki hati yang mampu mengendalikan teknologi tersebut.
“Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bijak,” demikian doa yang disampaikan Tgk. Ikhram.


















