BANDA ACEH, Infoaceh.net – Forum Dakwah Perbatasan (FDP) membuka program Mitra Dai Perbatasan, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat dari berbagai kalangan untuk ikut menguatkan keberadaan para dai yang bertugas di wilayah pelosok dan perbatasan Aceh serta Sumatera Utara.
Program ini menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin berkontribusi dalam dakwah perbatasan, termasuk mereka yang tidak dapat hadir secara langsung di lokasi penugasan para dai.
Program Manager FDP, Teuku Azhar Ibrahim, Senin (28/9/2026), mengatakan program Mitra Dai Perbatasan diluncurkan salah satunya karena FDP masih menghadapi keterbatasan pembiayaan untuk mempertahankan keberadaan dai di sejumlah wilayah penugasan.
“Tujuan utama program ini adalah mencari dukungan dan donasi. Kita masih mengalami kesulitan dana, termasuk untuk memenuhi kafalah dai,” kata Teuku Azhar.
Menurutnya, keberlanjutan dakwah di kawasan perbatasan tidak cukup hanya dengan mengirimkan dai. Mereka juga membutuhkan dukungan akomodasi, kebutuhan harian, transportasi, serta peningkatan kapasitas agar dapat menjalankan tugas secara efektif.
Ia mengatakan, keterbatasan anggaran juga mulai berdampak terhadap pemenuhan hak dan pengembangan kapasitas para dai.
“Maintain honor juga sudah kesulitan, padahal capacity building sangat diperlukan agar mereka bisa lebih efektif dan efisien di lapangan,” ujarnya.
Sejumlah Titik Dakwah Terpaksa Dikosongkan
Teuku Azhar mengungkapkan, keterbatasan pembiayaan bahkan menyebabkan FDP harus mengosongkan sejumlah titik dakwah yang sebelumnya direncanakan memiliki dai.
“Beberapa lokasi mestinya ada dai, sekarang terpaksa kita kosongkan. Sementara gerakan pihak seberang makin agresif,” katanya.
Sekretaris Jenderal FDP, Abizal Muhammad Yati, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan dai di kawasan perbatasan membutuhkan dukungan yang berkelanjutan.
Menurutnya, pembiayaan operasional, penguatan sumber daya manusia, serta peningkatan kapasitas dai merupakan bagian penting dari keberlangsungan dakwah di wilayah tersebut.
Para dai yang diterjunkan FDP berasal dari berbagai daerah, bahkan sebagian datang dari luar Pulau Sumatera. Mereka hadir untuk membersamai masyarakat Muslim di kawasan perbatasan, termasuk komunitas Muslim yang berada dalam posisi minoritas di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara.
Di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis, para dai menjalankan berbagai aktivitas pembinaan keagamaan. Mereka mengajarkan Al-Qur’an, mendampingi masyarakat, membangun komunikasi sosial, serta menghadirkan pembinaan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Perjuangan tersebut membutuhkan ekosistem dukungan yang kuat. Karena itu, FDP menghadirkan Mitra Dai Perbatasan sebagai jembatan antara masyarakat yang ingin berkontribusi dengan para dai yang sedang menjalankan tugas di lapangan,” ujar Abizal.
Tidak Harus Pergi ke Pelosok
Program Mitra Dai Perbatasan membawa pesan bahwa kontribusi terhadap dakwah tidak selalu mengharuskan seseorang datang langsung ke wilayah perbatasan.
Menurut Abizal M Yati, masyarakat dapat mengambil bagian melalui berbagai bentuk kontribusi, termasuk membantu memenuhi kebutuhan para dai selama menjalankan tugas di lapangan.
Dukungan tersebut antara lain dapat digunakan untuk kebutuhan akomodasi, transportasi, kebutuhan harian, hingga penguatan kapasitas dai.
FDP berharap dukungan masyarakat dapat membantu para dai lebih fokus menjalankan amanah pembinaan umat. Aktivitas dai di lapangan tidak hanya terbatas pada pengajaran keagamaan. Mereka juga berinteraksi langsung dengan masyarakat, memahami kondisi sosial setempat, membangun hubungan kemasyarakatan, serta mendampingi proses pembinaan umat.
Karena itu, menurut Abizal dukungan terhadap dai tidak semata-mata berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan personal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pelayanan dan pembinaan keagamaan kepada masyarakat di kawasan perbatasan.
Menjadi Mitra Perjuangan Dai
Bagi FDP, perjalanan seorang dai menuju wilayah perbatasan tidak pernah berdiri sendiri. Di balik keberadaan mereka di lapangan terdapat dukungan keluarga, masyarakat, serta para mitra yang ikut menguatkan perjuangan tersebut.
Tidak semua orang harus berada di pelosok untuk mengambil bagian dalam perjuangan dakwah. Ada yang berkontribusi melalui ilmu, tenaga, doa, maupun dukungan materi kepada mereka yang sedang menjalankan tugas di lapangan.
Melalui program Mitra Dai Perbatasan, masyarakat dapat menyisihkan sebagian rezekinya secara berkelanjutan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bagi FDP, kontribusi tersebut bukan semata-mata diukur dari besar kecilnya bantuan, tetapi dari keberlanjutan kepedulian terhadap para dai dan masyarakat yang mereka dampingi.
FDP berharap program Mitra Dai Perbatasan dapat mempertemukan para dai di lapangan dengan lebih banyak masyarakat yang ingin mengambil bagian dalam perjuangan dakwah. []

















