BANDA ACEH, Infoaceh.net —Teuku Abdullah (TA) Sakti adalah salah satu penjaga ingatan panjang peradaban Aceh.
Dosen sejarah kawakan, penulis, sekaligus budayawan ini dikenal luas sebagai sosok yang setia merawat jejak masa lalu Tanah Rencong agar tidak hilang ditelan zaman.
Pada Kamis, 8 Januari 2026, di sebuah rumah yang tenang di kawasan Tanjong Selamat, Darussalam, Banda Aceh, didatangi oleh Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh Drs. M. Isa Alima untuk bersilaturahmi dengan TA Sakti dalam suasana hangat dan penuh makna.
Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu menjelma menjadi ruang tafakur yang membentang dari Aceh masa lalu, Aceh hari ini, hingga Aceh yang sedang dicita-citakan untuk masa depan.
Percakapan mengalir perlahan namun dalam, laksana sungai yang menyimpan kisah di setiap lekukannya. Dari sekian banyak topik yang dibahas, satu tema mencuat dan menyita perhatian serius: Obat Tradisional Aceh yang nyaris terlupakan, Majun Aceh.
Dalam catatan sejarah dan ingatan kolektif masyarakat, Majun Aceh pernah menjadi ramuan pengobatan yang masyhur.
Ia dikenal mujarab, diracik dari berbagai herbal murni tanpa sentuhan unsur kimia. Warisan pengobatan tradisional ini lahir dari kearifan alam dan ketelitian para leluhur Aceh, sehingga diyakini minim efek samping namun kaya manfaat.
“Ini bukan sekadar obat, ini identitas,” mengemuka dalam perbincangan tersebut.
Majun Aceh menjadi bukti bahwa Aceh pernah berdiri tegak dengan pengetahuan kesehatan yang mandiri, berakar, dan berdaulat.
Menurut TA Sakti, sudah saatnya Majun Aceh tidak hanya dikenang sebagai romantisme masa lalu, tetapi dikembangkan dan dilestarikan kembali sebagai bagian dari masa depan Aceh—Aceh yang berdaulat secara budaya sekaligus kesehatan.
Dalam lintasan sejarah yang dibahas, muncul pula nama sosok legendaris Panghab Keumire (Panglima Abdul Wahab), tokoh yang dikenal sangat ahli meracik Majun Aceh pada masanya.
Nama itu kembali dihidupkan dalam percakapan, bagaikan obor kecil yang menyala di tengah gelapnya lupa.
TA Sakti sendiri bukan sosok sembarangan dalam khazanah kebudayaan Aceh. Ia merupakan penerima Anugerah Budaya “Tajul Alam” dari Pemerintah Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V tahun 2009, sebagai bentuk pengakuan atas dedikasinya menjaga, menulis dan menyuarakan sejarah Aceh dengan jujur dan bernurani.
Silaturahmi itu pun berakhir tanpa gegap gempita, namun meninggalkan getar yang panjang. Dari ruang tamu sederhana tersebut lahir sebuah tekad: Aceh tidak boleh kehilangan ingatannya, dan tidak boleh malu terhadap warisan leluhurnya sendiri.
Majun Aceh, yang dahulu pernah berjaya, seakan sedang menunggu waktunya untuk kembali—bukan hanya sebagai obat bagi tubuh, tetapi juga sebagai penawar luka lupa bagi sebuah bangsa.
Seperti diketahui, sosok TA Sakti adalah seorang pakar budaya dan sastra Aceh. Ia lahir di Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh pada tahun 1954. Pendidikan yang ditempuhnya adalah SD Lameue, SMI Kota Bakti, SMP Negeri Beureunuen, dan SMA Negeri Sigli.
Pendidikan agama ditempuhnya di Gampong Jeumpa dan Riweuek, Kecamatan Sakti. Terakhir, ia belajar ilmu agama Islam di Dayah Titeue Meunasah Cut, Kecamatan Titeue, Pidie, di bawah asuhan Teungku Muhammad Syekh Lameulo.
Ia pernah kuliah sampai tingkat sarjana muda I di Fakultas Pertanian Unsyiah (1976) sebelum pindah ke Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM) Unsyiah, Banda Aceh (1977).
Setelah menyelesaikan kuliah tingkat sarjana muda hukum, ia melanjutkan ke jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta atas bantuan beasiswa lembaga kerja sama Indonsia-Belanda/LIPI-Jakarta.
Sewaktu pulang bersama/berkonvoi ke kampus UGM, setelah menyelesaikan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ia ditabrak mobil yang membuatnya hingga kini mengalami kesulitan berjalan.
Tahun 1999, ia meneruskan kuliah di Program Ekstensi Fakultas Hukum Unsyiah. Selama lima semester ia nonaktif karena sakit dan adanya tsunami. Akhirnya, kuliahnya selesai pada 12 Desember 2007.
Selama menjadi mahasiswa FHPM Unsyiah, ia aktif menulis di beberapa media massa yang terbit di Banda Aceh dan Medan, Sumatera Utara, seperti buletin Peunawa terbitan (Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah), Buletin KERN (Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah), Majalah Gema Ar-Raniry (Media IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh), majalah Santunan (Kanwil Depag Aceh), surat kabar Peristiwa (Banda Aceh) dan surat kabar Waspada (Medan).
Selama menjadi mahasiswa UGM Yogyakarta, ia mulai menulis di surat kabar lingkup nasional, seperti Merdeka, Pelita, Suara Karya, yang ketiganya terbit di Jakarta serta Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta).
Ketika menjadi staf pengajar di Unsyiah, ia pernah menulis di harian Serambi Indonesia, Harian Rakyat Aceh, dan Harian Aceh (ketiganya terbit di Banda Aceh), buletin Cakra (Himpunan Mahasiswa Sejarah FKIP Unsyiah), majalah Sinar Darussalam (Kampus Darussalam, Banda Aceh), majalah Panca (Kanwil Transmigrasi Aceh), majalah Puan (Lembaga BP-7, Aceh), majalah Warta Unsyiah, serta buletin Cendekia (Dinas Pendidikan NAD). Hampir semua tulisannya terkait dengan budaya dan sastra Aceh.
Sejak tahun 1992 ia telah memfokuskan diri di bidang sastra, khususnya hikayat Aceh. Sehubungan dengan kegiatan itu, hingga tahun 2009 telah 32 judul hikayat/tambeh/nadam Aceh diselesaikan, terutama dalam hal alih huruf dari huruf Jawoe – Jawi/Arab Melayu ke aksara Latin. Tahun 2003 tiga buku saku yang ditulisnya diterbitkan menjadi satu oleh Dinas Kebudayaan Aceh dengan judul Lingkongan Udep Wajeb Tajaga.
Pada tahun 2009–2010 buku itu pernah dibaca berkali-kali di AcehTV dalam acara “Ca-e Bak Jambo” pukul 20.00 s/d 22.00 WIB.
Saat ini ia menjadi dosen tetap di FKIP Jurusan Sejarah, Unsyiah, Banda Aceh. Di sela-sela kesibukannya, ia tetap aktif menulis, baik untuk seminar maupun untuk media massa yang ada di Aceh.
Keinginan sekaligus kekhawatirannya atas eksistensi hikayat tampaknya mendapat perhatian TA. Sakti. Menurutnya, peran pemerintah Aceh dalam soal kebudayaan harus lebih dioptimalkan lagi.
Ia mengusulkan agar pemerintah Aceh menjadi sponsor di media massa untuk melestarikan hikayat sehingga keberadaannya dapat terus diketahui oleh khalayak.
TA Sakti, Penjaga Ingatan Tanah Rencong yang Menghidupkan Kembali Majun Aceh
Artikel Terkait
Jangan Hanya Mengeluh Mahal dan Langka, Pabrik Semen Laweung Harus…
Menurutnya, Aceh tidak boleh selamanya bergantung pada pasokan semen dari luar daerah.…
Mahasiswa KKN USK Hadirkan Literasi Kreatif di SD Negeri Seumet, Siswa…
Mahasiswa KKN Tematik Literasi 2026 Universitas Syiah Kuala menggelar program literasi…
Wakil Bupati Pidie Lantik Pengurus FOKUSGAMPI Banda Aceh 2026–2028
Banda Aceh, Infoaceh.net — Forum Komunikasi Generasi Muda Pidie (FOKUSGAMPI) Banda Aceh…
Petugas Retribusi Wisata Iboih yang Dipecat Karena Pungli Kini…
Sabang, Infoaceh.net – Komitmen penertiban dugaan praktik pungutan liar (pungli) di…
Dua Dekade Musleni Tomyam, Kuliner Asam Pedas Ala Thailand yang Eksis…
DI tengah menjamurnya warung dan restoran yang menawarkan sensasi asam pedas ala Negeri…
Aceh Besar Hidupkan Tradisi Bubur Asyura dan Toet Apam sebagai Wisata…
Gani, Infoaceh.net — Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di halaman Dekranasda…
Dr Firmansyah Kembali Terpilih Pimpin Permasa
Menurutnya, keberhasilan musyawarah tidak hanya diukur dari banyaknya peserta maupun…
MIT Tanzil Siapkan Subsidi Pendidikan bagi Anak-anak Gampong Blang Oi
Kepala MIT Tanzil Banda Aceh Hariz Jumita mengatakan kolaborasi dengan Pemerintah Gampong…
Ghazali Abbas Ajak Mahasiswa Kawal Gas Blok Andaman Diproses di…
Banda Aceh, Infoaceh.net -- Tokoh Aceh, Ghazali Abbas Adan mengajak mahasiswa Aceh agar…
Amal Hasan: Ipelmaja Tidak Boleh Terjebak Politik Praktis
Banda Aceh, Infoaceh.net – Ketua Ketua Ikatan Keluarga Aceh Jaya (Ikajaya) Amal Hasan SE…
Asfifuddin Terpilih Aklamasi Pimpin Keluarga Ureung Pidie di Jakarta
Jakarta, Infoaceh.net – Tokoh hukum dan akademisi nasional, Dr H Asfifuddin SH MH terpilih…
Cuaca Ekstrem Terjang Aceh Utara, 51 Rumah Rusak di Cot Girek dan…
Lhoksukon, Infoaceh.net – Sebanyak 51 unit rumah warga di Kabupaten Aceh Utara mengalami…

















