Kesehatan & Gaya Hidup

PMI Aceh Gelar Mukerprov, Sudirman Said Ingatkan Netralitas dan Pengabdian 

Aceh Besar, Infoaceh.net — Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh menggelar Musyawarah Kerja Provinsi (Mukerprov) Tahun 2026 di Hotel Hijrah, Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Senin (11/5/2026).

Forum tahunan tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penguatan komitmen organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan di Aceh.

Mukerprov yang mengusung tema “Menegakkan Solidaritas, Memperkuat Kinerja, Meneguhkan Pengabdian” itu dihadiri sekitar 80 peserta dari seluruh PMI kabupaten/kota se-Aceh, pengurus provinsi, unit donor darah, serta sejumlah pejabat pemerintah daerah.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Bidang Organisasi PMI Aceh, H. Teuku Ibrahim, mengatakan kegiatan tersebut merupakan amanah organisasi yang telah diputuskan dalam Mukerprov sebelumnya di Takengon.

Menurutnya, forum ini penting untuk menyusun arah kebijakan PMI agar tetap adaptif terhadap perkembangan situasi kebencanaan dan kebutuhan masyarakat.

Dalam laporannya, Teuku Ibrahim turut mengenang pengalaman para relawan PMI saat bertugas menangani banjir di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Ia menggambarkan beratnya perjuangan relawan yang harus bekerja dalam keterbatasan, mulai dari akses komunikasi yang terputus hingga minimnya logistik.

“Dalam kondisi serba terbatas, bahkan tanpa makanan yang cukup, semangat kemanusiaan tetap menjadi kekuatan utama kami. Kami bergerak ke sana kemari mencari bantuan demi masyarakat terdampak,” ujarnya.

Ia menegaskan semangat kemanusiaan menjadi modal utama PMI untuk terus hadir di tengah masyarakat, terutama saat situasi darurat terjadi.

“Musyawarah kerja ini bukan hanya evaluasi, tetapi juga menjadi forum koordinasi dan penyusunan program agar PMI tetap relevan dengan tantangan kemanusiaan ke depan,” katanya.

Baca Juga:  Cegah Stunting Sejak Dini, Farid Nyak Umar Kawal Gizi Anak di Banda Aceh

Ketua PMI Aceh, Murdani Yusuf, dalam arahannya menekankan bahwa PMI tetap memiliki posisi strategis meskipun kini banyak lembaga lain turut bergerak di bidang kemanusiaan dan kebencanaan.

Menurutnya, PMI memiliki mandat khusus yang tidak dapat digantikan, terutama dalam pelayanan donor darah dan penanganan korban konflik maupun pengungsi.

“PMI harus selalu siap hadir paling cepat saat bencana dan menjadi yang terakhir meninggalkan lokasi. Itu komitmen kita dalam melayani kemanusiaan,” tegas Murdani.

Ia mengingatkan seluruh pengurus dan relawan agar menjadikan PMI sebagai ruang pengabdian, bukan tempat mencari keuntungan materi.

“Kalau bergabung di PMI, jangan pernah berharap mencari uang. Niatkan untuk kemanusiaan. Kalau ada rezeki itu bonus, tapi yang utama adalah pengabdian,” ujarnya.

Selain itu, Murdani menyoroti perlunya penguatan publikasi organisasi agar masyarakat semakin mengetahui berbagai aksi nyata PMI di lapangan.

“Kerja-kerja kemanusiaan PMI harus disampaikan lebih luas agar masyarakat tahu apa yang telah dilakukan PMI selama ini,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Organisasi PMI Pusat, Sudirman Said, menegaskan pentingnya menjaga netralitas organisasi di tengah berbagai dinamika sosial dan politik.

Ia mengaku memiliki pengalaman emosional saat pernah terjebak dalam situasi bencana di wilayah tengah Aceh dan menyaksikan langsung bagaimana masyarakat menaruh kepercayaan besar kepada PMI.

“PMI harus tetap menjadi organisasi yang netral dan dipercaya. Dalam situasi konflik sekalipun, masyarakat merasa aman berhubungan dengan PMI,” ujarnya.

Menurut Sudirman, netralitas menjadi fondasi penting bagi PMI agar dapat diterima semua pihak dan tetap fokus pada misi kemanusiaan.

Baca Juga:  42 Ribu Warga Berobat Akibat Rokok di Banda Aceh, Kuras Anggaran Kesehatan Rp113,7 Miliar

“PMI harus tetap menjadi organisasi yang dipercaya masyarakat. Netralitas adalah kekuatan utama kita dalam menjalankan misi kemanusiaan,” tegasnya.

Ia juga menekankan tiga hal utama yang wajib dimiliki pengurus PMI, yakni jiwa sosial, amanah, dan kesiapan meluangkan waktu untuk pengabdian.

Mewakili Gubernur Aceh, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus menyebut PMI sebagai mitra strategis pemerintah dalam bidang kesehatan dan kemanusiaan, terutama terkait penyediaan darah dan penanganan kondisi darurat.

“PMI merupakan mitra strategis pemerintah di bidang kemanusiaan dan kesehatan. Kami berharap sinergi ini terus diperkuat, terutama dalam menjamin ketersediaan darah dan penanganan kondisi darurat di tengah masyarakat,” katanya.

Ferdiyus menambahkan, penguatan kapasitas relawan dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi kunci penting menghadapi tantangan kemanusiaan ke depan.

Bupati Aceh Besar Muharram Idris atau Syech Muharram menilai PMI merupakan organisasi kemanusiaan yang memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar sejak masa awal kemerdekaan Indonesia.

“PMI adalah organisasi yang lahir dari semangat kemanusiaan, hadir membantu korban bencana, pelayanan donor darah, hingga berbagai aksi sosial lainnya,” ujar Muharram.

Namun demikian, ia mengingatkan eksistensi PMI saat ini menghadapi tantangan besar karena hadirnya banyak organisasi kemanusiaan baru. Karena itu, ia berharap PMI dapat kembali menjadi organisasi paling dipercaya masyarakat.

“Kita berharap PMI kembali berjaya. Di hati masyarakat, PMI punya tempat tersendiri. Dulu, ketika berbicara kemanusiaan, yang terlintas hanya PMI. Sekarang banyak lembaga lain, tapi PMI harus tetap menjadi yang terdepan,” tegasnya.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait