Banda Aceh, Infoaceh.net – Peta belanja pengadaan di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Tahun Anggaran 2026 memperlihatkan dominasi proyek pencahayaan destinasi wisata dan situs cagar budaya dengan nilai mencapai miliaran rupiah.
Berdasarkan penelusuran terhadap data realisasi pengadaan pemerintah, total nilai transaksi yang tercatat hingga pertengahan tahun mencapai Rp9,88 miliar dari 28 paket pekerjaan.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar anggaran terkonsentrasi pada proyek pemasangan dan pembangunan sistem pencahayaan di sejumlah objek wisata dan situs budaya yang tersebar di beberapa kabupaten.
Paket dengan nilai terbesar tercatat pada pekerjaan Pencahayaan Lampu Penerangan Tenaga Surya (PTS) Objek dan Destinasi Wisata Kabupaten Aceh Besar senilai Rp1,81 miliar. Disusul proyek Pencahayaan Objek dan Destinasi Wisata Kabupaten Pidie Jaya sebesar Rp1,72 miliar.
Selain itu, terdapat proyek Pencahayaan Situs Cagar Budaya Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah yang masing-masing bernilai lebih dari Rp1,12 miliar.
Jika digabungkan, empat paket tersebut menyerap sekitar Rp5,79 miliar atau hampir 60 persen dari total nilai pengadaan yang tercatat.
Data juga menunjukkan salah satu penyedia memperoleh dua paket besar sekaligus dengan total nilai mencapai sekitar Rp3,54 miliar. Nilai tersebut setara hampir 36 persen dari keseluruhan belanja pengadaan yang telah terealisasi pada satuan kerja tersebut.
Selain proyek fisik, Disbudpar Aceh juga mengalokasikan anggaran cukup signifikan untuk produksi konten digital, dokumentasi budaya, pengelolaan website, media sosial, hingga pembuatan video promosi kebudayaan.
Beberapa paket yang tercatat antara lain pembuatan video sejarah dan kebudayaan Aceh senilai Rp399 juta, pengelolaan website dan media sosial humas sebesar Rp349 juta, serta sejumlah paket dokumentasi adat, budaya dan warisan budaya dengan nilai ratusan juta rupiah.
Akumulasi belanja yang berkaitan dengan promosi digital, media sosial, dokumentasi dan produksi video tercatat mendekati Rp1,74 miliar.
Sementara itu, Museum Tsunami Aceh juga menjadi salah satu unit yang memperoleh sejumlah alokasi pengadaan, mulai dari konservasi koleksi, pemeliharaan labelling artefak, perbaikan bingkai koleksi, pameran temporer, museum keliling hingga pengadaan perangkat teknologi pendukung.
Dari sisi metode pengadaan, paket-paket bernilai besar umumnya dilaksanakan melalui mekanisme E-Katalog, sedangkan pekerjaan pengawasan dan perencanaan menggunakan skema pengadaan langsung.
Data yang tersedia menunjukkan konsentrasi belanja pada sejumlah paket bernilai besar, terutama pada sektor pencahayaan destinasi wisata dan situs budaya.
Informasi mengenai kebutuhan teknis, dasar perencanaan program, target manfaat, serta capaian masing-masing kegiatan merupakan kewenangan instansi terkait untuk memberikan penjelasan lebih lanjut kepada masyarakat.
Hingga berita ini ditulis, sejumlah paket masih berstatus “On Process” dan “Berlangsung” dalam sistem pengadaan pemerintah.
Disclaimer: Berita ini disusun berdasarkan data realisasi pengadaan pemerintah yang tersedia pada sistem informasi pengadaan nasional. Seluruh informasi yang disajikan merupakan hasil pengolahan data terbuka dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap pihak mana pun. Penilaian terhadap efektivitas, kualitas pekerjaan maupun kepatuhan terhadap regulasi memerlukan audit serta verifikasi dari instansi berwenang.

















