Banda Aceh, Infoaceh.net – Persaingan usaha yang semakin kompetitif membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak lagi cukup mengandalkan modal dan produk berkualitas.
Pemerintah Kota Banda Aceh menilai kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), menjadi faktor penting agar usaha mampu bertahan dan berkembang.
Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal saat menutup Program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) 2026 di The Pade Hotel, Minggu (20/7/2026).
Menurut Illiza, perubahan perilaku konsumen berlangsung sangat cepat. Karena itu, pelaku UMKM dituntut terus meningkatkan pengetahuan, mengikuti perkembangan teknologi, dan mampu membaca kebutuhan pasar.
“Produk yang berkualitas memang penting, tetapi kemampuan pelaku usahanya untuk terus belajar jauh lebih menentukan keberlanjutan bisnis. Dunia usaha terus berubah dan UMKM harus mampu mengikuti perubahan itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, promosi hanya menjadi pintu awal untuk menarik perhatian konsumen. Kepercayaan pelanggan justru dibangun melalui kualitas produk, pelayanan, serta konsistensi pelaku usaha dalam menjaga standar usahanya.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Banda Aceh, saat ini terdapat 47.497 UMKM yang menjadi penopang ekonomi masyarakat dengan menyerap sekitar 66.417 tenaga kerja. Besarnya kontribusi tersebut, kata Illiza, membuktikan bahwa usaha mikro memiliki peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat ekosistem pengembangan UMKM melalui berbagai program peningkatan kapasitas. Mulai dari Banda Aceh Academy, platform pemasaran digital Usaha Teman, penguatan Dekranasda, hingga penyediaan ruang promosi melalui IKM Center Ulee Lheue, festival daerah, dan kegiatan Car Free Day.
Illiza juga mengajak Bank Indonesia, lembaga keuangan, dan sektor perbankan memperluas kolaborasi agar pelaku UMKM lebih mudah memperoleh akses pembiayaan sehingga mampu meningkatkan kapasitas usahanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menjelaskan WUBI merupakan program pembinaan berkelanjutan yang dirancang untuk mencetak wirausaha yang lebih adaptif dan kompetitif.
Sebanyak 90 peserta mengikuti tahap awal program tahun ini. Dari jumlah tersebut, 50 peserta akan dipilih mengikuti masa inkubasi selama dua bulan dengan materi pengembangan bisnis, digitalisasi usaha, pemanfaatan AI, strategi pemasaran, hingga pendampingan intensif bersama mentor dan alumni WUBI.
Menurut Agus, keberhasilan peserta tidak hanya diukur dari peningkatan omzet, tetapi juga kemampuan menciptakan inovasi, memperluas pasar, serta memanfaatkan teknologi dalam menjalankan usahanya.
Di akhir kegiatan, Illiza mengajak seluruh peserta menjadikan pelatihan sebagai titik awal untuk terus berinovasi dan membawa produk-produk Aceh bersaing di pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.


















