JOMBANG, Infoaceh.net — Kabar membanggakan datang dari Aceh. Ulama kharismatik asal Samalanga, Bireuen, Tgk H Nuruzzahri Yahya atau akrab disapa Waled Nu, terpilih sebagai salah satu dari sembilan anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Waled Nu yang saat ini menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, berhasil memperoleh 477 suara, menempatkannya di posisi kedua perolehan suara terbanyak dari 34 nama ulama yang masuk dalam tabulasi nasional.
Penetapan sembilan anggota AHWA tersebut dilakukan melalui proses rekapitulasi tabulasi nasional perolehan suara calon anggota AHWA di Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Ahad malam (30/8/2026).
Proses penghitungan berlangsung secara terbuka melalui enam bilik penghitungan suara. Dari seluruh proses tersebut tercatat 4.703 suara masuk dari berbagai tingkatan kepengurusan NU.
Hasil tersebut sekaligus menempatkan nama ulama Aceh di jajaran sembilan ulama yang dipercaya menjadi bagian dari AHWA pada Muktamar ke-35 NU.
Waled Nu Raih 477 Suara
Dalam rekapitulasi nasional, KH Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, menjadi ulama dengan perolehan suara tertinggi, yakni 485 suara.
Posisi kedua ditempati KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) dengan 477 suara.
Perolehan suara tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan peserta muktamar terhadap sosok ulama asal Aceh tersebut.
Sementara itu, tujuh ulama lainnya yang masuk dalam sembilan besar adalah AG Dr KH Baharuddin HS, MA dengan 392 suara, KH Miftachul Akhyar dengan 350 suara, KH Afifuddin Muhajir dengan 339 suara, KH Anwar Iskandar dengan 326 suara, KH Anwar Manshur dengan 303 suara, Prof Dr KH Said Aqil Sirodj dengan 273 suara, dan Dr KH Abun Bunyamin, MA dengan 268 suara.
Dengan demikian, sembilan ulama yang terpilih sebagai anggota AHWA Muktamar ke-35 NU adalah:
1. KH Nurul Huda Djazuli – 485 suara
2. KH Nuruzzahri Yahya – 477 suara
3. AG Dr KH Baharuddin HS MA – 392 suara
4. KH Miftachul Akhyar – 350 suara
5. KH Afifuddin Muhajir – 339 suara
6. KH Anwar Iskandar – 326 suara
7. KH Anwar Manshur – 303 suara
8. Prof Dr KH Said Aqil Sirodj – 273 suara
9. Dr KH Abun Bunyamin MA – 268 suara
Diusulkan dari Struktur NU
Pemilihan anggota AHWA merupakan bagian penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU. Nama-nama calon anggota AHWA sebelumnya diusulkan melalui struktur organisasi NU, mulai dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang berada di berbagai negara.
Secara keseluruhan, terdapat 34 nama ulama yang masuk dalam tabulasi nasional.
Selain sembilan nama yang akhirnya terpilih, sejumlah ulama sepuh dan tokoh penting NU juga masuk dalam bursa pencalonan. Di antaranya KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), Prof Dr KH Ma’ruf Amin, serta Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim.
Penghitungan suara dilakukan melalui enam panel dengan rincian: Bilik 1: 642 suara, Bilik 2: 864 suara, Bilik 3: 855 suara, Bilik 4: 936 suara, Bilik 5: 718 suara, Bilik 6: 688 suara. Total keseluruhannya mencapai 4.703 suara.
Terpilihnya Waled Nu menjadi anggota AHWA Muktamar ke-35 NU juga menjadi catatan penting bagi Aceh. Sosok ulama yang dikenal luas tersebut memiliki nama lengkap Tgk H Nuruzzahri Yahya.
Waled Nu lahir di Desa Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada 1951. Ia menempuh pendidikan dasar di Samalanga dan kemudian melanjutkan pendidikan ke berbagai dayah selama belasan tahun.
Dalam perjalanan pendidikannya, Waled Nu juga pernah menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang semakin memperkuat hubungan keilmuan dan tradisi pesantren antara Aceh dan Jawa.
Di Aceh, Waled Nu dikenal sebagai salah satu ulama yang aktif dalam pengembangan pendidikan keagamaan dan organisasi NU. Ia dipercaya menjalankan amanah sebagai Rais Syuriah PWNU Aceh serta memimpin Dayah Ummul Ayman Samalanga, Bireuen.
Perhatiannya tidak hanya tertuju pada pengembangan pendidikan agama, tetapi juga pada persoalan sosial, khususnya pendidikan anak dan kepedulian terhadap anak yatim.
Waled Nu turut mendirikan yayasan dan panti asuhan yang kemudian berkembang hingga memberikan akses pendidikan kepada para santri dan anak-anak binaan sampai jenjang perguruan tinggi.
Masuknya Waled Nu ke dalam jajaran sembilan anggota AHWA Muktamar ke-35 NU menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Aceh, khususnya kalangan dayah dan warga Nahdliyin.
Perolehan 477 suara sekaligus menunjukkan bahwa kiprah dan kapasitas ulama Aceh tersebut mendapatkan pengakuan luas di lingkungan NU secara nasional.
Bagi Aceh, keterpilihan Waled Nu bukan hanya menyangkut posisi dalam struktur keagamaan NU, tetapi juga menjadi representasi tradisi keulamaan Aceh yang selama ini memiliki hubungan erat dengan tradisi pesantren dan perkembangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.
Dengan amanah tersebut, Waled Nu kini berada di antara sembilan ulama yang dipercaya menjalankan peran strategis dalam dinamika kepemimpinan dan arah keumatan NU ke depan.
Keterpilihan ini sekaligus mempertegas bahwa suara dan tradisi keulamaan Aceh memiliki tempat penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama di tingkat nasional.


















