Banda Aceh, Infoaceh.net — Jumlah pengangguran di Aceh kembali mengalami peningkatan dalam satu tahun terakhir.
Berdasarkan data resmi yang disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria SST MSi, dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, Selasa (5/5/2026), total pengangguran di Aceh kini mencapai 156,23 ribu orang pada Februari 2026 atau bertambah sekitar 7,43 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Agus Andria menjelaskan, peningkatan jumlah pengangguran terjadi di tengah dinamika ketenagakerjaan yang menunjukkan penurunan jumlah angkatan kerja dan penduduk bekerja.
Secara keseluruhan, jumlah penduduk usia kerja (PUK) di Aceh pada Februari 2026 tercatat sebanyak 4,188 juta orang, meningkat 67 ribu orang dibanding Februari 2025.
Penduduk usia kerja mencakup seluruh individu berumur 15 tahun ke atas.
Dari total tersebut, sebanyak 2,657 juta orang termasuk dalam kategori angkatan kerja, sementara sisanya 1,531 juta orang tergolong bukan angkatan kerja.
Namun, jika dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah angkatan kerja justru mengalami penurunan sebanyak 48 ribu orang.
“Komposisi angkatan kerja terdiri dari 2,500 juta orang yang bekerja dan 156,23 ribu orang yang menganggur. Dibandingkan Februari 2025, jumlah penduduk bekerja berkurang sebanyak 56 ribu orang, sementara pengangguran meningkat 7,43 ribu orang,” ujar Agus Andria.
Penurunan juga terlihat pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), yang pada Februari 2026 tercatat sebesar 63,44 persen.
Angka ini turun 2,19 persen poin dibandingkan Februari 2025. TPAK sendiri merupakan indikator yang menunjukkan persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, partisipasi laki-laki dalam angkatan kerja masih jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan.
TPAK laki-laki tercatat sebesar 81,45 persen, sedangkan perempuan hanya 45,50 persen. Dibandingkan tahun sebelumnya, TPAK laki-laki mengalami sedikit kenaikan sebesar 0,16 persen poin, sementara perempuan justru mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 4,54 persen poin.
Dari sisi pendidikan, struktur tenaga kerja di Aceh masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan kontribusi sebesar 36,70 persen terhadap total penduduk bekerja.
Sementara itu, tenaga kerja berpendidikan tinggi—yakni lulusan Diploma hingga Strata Tiga—hanya mencapai 17,31 persen.
Meski demikian, terdapat peningkatan kontribusi tenaga kerja lulusan SMA sebesar 3,89 persen poin dan Diploma I/II/III sebesar 0,65 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebaliknya, kontribusi tenaga kerja dengan pendidikan lebih rendah maupun pendidikan tinggi justru mengalami penurunan, dengan penurunan terbesar terjadi pada kelompok berpendidikan SD ke bawah sebesar 1,91 persen poin.
Sementara itu, jika dilihat dari tingkat pendidikan, pengangguran di Aceh masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Dalam tiga tahun terakhir, kelompok ini secara konsisten menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran.
Pada Februari 2026, persentase pengangguran lulusan SMK tercatat sebesar 10,13 persen, tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya.
Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah terdapat pada lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 2,27 persen dan lulusan SD ke bawah sebesar 1,30 persen.
Kondisi ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan kejuruan dengan kebutuhan pasar kerja, sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan vokasi di Aceh.
Peningkatan jumlah pengangguran di tengah bertambahnya penduduk usia kerja menjadi sinyal penting bagi pemerintah Aceh untuk memperkuat kebijakan penciptaan lapangan kerja serta mendorong investasi yang mampu menyerap tenaga kerja secara lebih luas dan berkelanjutan.

















