● Angkat Jejak Bencana dan Semangat Kemanusiaan
BANDA ACEH, Infoaceh.net – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh menggelar roadshow pameran foto jurnalistik berskala nasional bertajuk “Prahara Pulau Emas” di Museum Tsunami Aceh, Kota Banda Aceh, mulai 3 – 8 Agustus 2026.
Pameran yang terbuka secara gratis untuk masyarakat ini menghadirkan dokumentasi visual tentang bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025.
Kegiatan tersebut merupakan inisiatif PFI Pusat yang berkolaborasi dengan Yayasan Riset Visual mataWaktu dan didukung oleh PLN.
Sebanyak 140 karya foto hasil bidikan 45 pewarta foto dari berbagai daerah dipamerkan untuk memberikan gambaran utuh mengenai dampak bencana, proses penyelamatan, hingga upaya pemulihan yang dilakukan masyarakat dan pemerintah.
Selama enam hari pelaksanaan, masyarakat dapat mengunjungi pameran di Museum Tsunami Aceh setiap pukul 09.00 hingga 16.30 WIB tanpa dipungut biaya.
Pameran ini dijadwalkan dibuka Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, serta dihadiri Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, bersama jajaran pengurus PFI dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua PFI Aceh, M. Anshar, mengatakan pameran tersebut bukan sekadar menampilkan foto-foto bencana, tetapi menjadi ruang refleksi bersama untuk membangun kesadaran publik mengenai pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Foto jurnalistik bukan sekadar gambar, melainkan dokumen sejarah yang menyimpan ingatan kolektif sebuah bangsa. Melalui ‘Prahara Pulau Emas’, kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa di balik setiap bencana selalu ada kisah tentang ketangguhan, solidaritas, dan nilai kemanusiaan yang kuat,” ujarnya, Ahad (2/8/2026).
Menurut Anshar, karya-karya yang dipamerkan tidak dimaksudkan untuk membangkitkan trauma masyarakat yang pernah menjadi korban bencana.
Sebaliknya, foto-foto tersebut diharapkan menjadi media edukasi sekaligus pengingat bahwa setiap bencana menyimpan pelajaran penting bagi semua pihak.
Kurasi pameran juga menampilkan berbagai sisi kemanusiaan yang muncul di tengah bencana.
Selain memperlihatkan kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor, pengunjung akan disuguhkan potret perjuangan para relawan, aparat, dan masyarakat yang saling membantu, termasuk upaya pemulihan infrastruktur penting seperti jaringan listrik yang menjadi penopang kehidupan para penyintas.
Narasi visual tersebut menggambarkan bahwa proses bangkit setelah bencana merupakan hasil kerja sama banyak pihak, mulai dari warga, relawan, pemerintah, hingga perusahaan yang terlibat dalam percepatan pemulihan.
Pada hari pembukaan, PFI Aceh juga menggelar Diskusi Pameran Foto “Prahara Pulau Emas” yang menghadirkan dua tokoh fotografi nasional, yakni pendiri Yayasan Riset Visual mataWaktu Oscar Motuloh dan pewarta foto senior Harian Kompas yang juga menjadi kurator pameran, Danu Kusworo.
Diskusi ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, komunitas fotografi, jurnalis, maupun masyarakat umum yang ingin memahami lebih jauh proses penciptaan foto jurnalistik, etika peliputan bencana, hingga peran fotografi dalam mendokumentasikan sejarah dan membangun kesadaran publik terhadap risiko kebencanaan.
Banda Aceh menjadi kota kedua dalam rangkaian roadshow nasional “Prahara Pulau Emas”. Sebelumnya, pameran telah digelar di pelataran Cagar Budaya Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, pada 27–30 Juli 2026.
Setelah dari Aceh, seluruh karya foto akan melanjutkan perjalanan ke Kota Medan, Sumatera Utara, sebagai lokasi penutup rangkaian pameran.
Melalui pameran ini, PFI berharap masyarakat tidak hanya melihat dokumentasi peristiwa bencana, tetapi juga memahami pentingnya membangun budaya sadar bencana, memperkuat mitigasi, serta menjaga semangat gotong royong dan solidaritas kemanusiaan yang selalu hadir di tengah situasi krisis.

















