Banda Aceh, Infoaceh.net – PT Pembangunan Aceh (PEMA) terus mempercepat realisasi pembangunan pabrik baja ringan di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Kabupaten Aceh Besar.
Proyek strategis tersebut diproyeksikan menjadi salah satu tonggak penting dalam mendorong industrialisasi Aceh, memperkuat kemandirian sektor konstruksi, sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat.
Pembangunan pabrik baja ringan itu merupakan hasil kerja sama PT PEMA dengan PT Indo Surya Gavalum (ISG) Group melalui perusahaan patungan PT Aceh Global Steel.
Kehadiran industri tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan material konstruksi di Aceh, tetapi juga menjadi pemicu lahirnya ekosistem industri manufaktur yang lebih maju dan berdaya saing.
Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, mengatakan pembangunan pabrik tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengoptimalkan potensi Kawasan Industri Aceh Ladong sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di provinsi paling barat Indonesia.
Menurutnya, selama ini kebutuhan baja ringan di Aceh masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Kondisi tersebut berdampak pada tingginya biaya distribusi, lamanya waktu pengiriman, hingga meningkatnya harga material konstruksi di tingkat konsumen.
“Kawasan Industri Aceh Ladong kami siapkan menjadi pusat pertumbuhan industri baru yang produktif, modern, dan kompetitif. Kerja sama ini bukan sekadar membangun sebuah pabrik, tetapi membangun fondasi industri konstruksi Aceh agar mampu memenuhi kebutuhan daerah, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar Aceh, sekaligus menarik investasi lanjutan ke Aceh,” ujar Mawardi Nur kepada wartawan pekan lalu.
Ia menjelaskan, pembangunan pabrik baja ringan menjadi salah satu proyek prioritas PT PEMA dalam mengembangkan sektor industri pengolahan yang memiliki nilai tambah tinggi. Investasi tersebut diharapkan mampu mempercepat hilirisasi industri sekaligus memperkuat struktur ekonomi Aceh yang selama ini masih didominasi sektor primer.
Pada tahap awal, pabrik akan dibangun di atas lahan seluas lima hektare di Kawasan Industri Aceh Ladong. Fasilitas produksi itu dirancang memiliki kapasitas hingga 2.000 ton baja ringan per bulan, sehingga mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pasar Aceh serta wilayah sekitarnya.
Produksi baja ringan dari pabrik tersebut nantinya akan menyasar berbagai kebutuhan pembangunan, mulai dari sektor perumahan, gedung pemerintahan, fasilitas publik, hingga proyek-proyek infrastruktur yang terus berkembang di Aceh.
Selain meningkatkan kapasitas produksi dalam daerah, proyek tersebut juga membawa misi transfer teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. PT PEMA bersama mitra industrinya akan menghadirkan teknologi produksi modern serta program peningkatan kompetensi bagi tenaga kerja lokal agar mampu bersaing di sektor manufaktur.
Langkah ini dinilai penting karena pembangunan industri tidak hanya membutuhkan investasi fisik, tetapi juga peningkatan kualitas tenaga kerja sehingga mampu mengoperasikan teknologi modern secara profesional.
Dalam jangka panjang, Kawasan Industri Aceh Ladong dirancang berkembang menjadi klaster industri baja ringan yang terdiri atas empat pabrik terintegrasi. Pengembangan kawasan tersebut diharapkan menciptakan rantai pasok industri yang lebih kuat, mulai dari produksi bahan baku hingga produk jadi.
Konsep kawasan industri terintegrasi itu diyakini mampu meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat daya saing industri nasional, sekaligus menarik investor baru untuk mengembangkan berbagai sektor manufaktur lainnya di Aceh.
Tidak hanya berdampak pada sektor industri, pembangunan pabrik baja ringan juga diproyeksikan memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah. Aktivitas industri akan mendorong tumbuhnya usaha pendukung, jasa logistik, transportasi, perdagangan, hingga sektor usaha mikro dan kecil di sekitar kawasan industri.
Selain itu, proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Aceh, baik pada tahap konstruksi maupun saat operasional pabrik berjalan.
“Setiap investasi yang kami hadirkan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami ingin industri ini membuka lapangan kerja baru bagi putra-putri Aceh, menggerakkan pelaku usaha dan jasa pendukung, serta menciptakan multiplier effect yang berkelanjutan bagi perekonomian daerah. Inilah komitmen PT PEMA sebagai Badan Usaha Milik Aceh dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Mawardi.
PT PEMA menilai keberadaan industri pengolahan seperti pabrik baja ringan merupakan langkah penting dalam memperkuat fondasi ekonomi Aceh.
Dengan semakin banyaknya industri yang beroperasi di Kawasan Industri Aceh Ladong, ketergantungan terhadap produk dari luar daerah diharapkan dapat berkurang, sementara nilai tambah ekonomi dapat dinikmati langsung oleh masyarakat Aceh.
Keberhasilan proyek ini juga diharapkan menjadi sinyal positif bagi investor nasional maupun internasional bahwa Aceh memiliki iklim investasi yang semakin kondusif, didukung ketersediaan kawasan industri, potensi sumber daya, serta komitmen pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui percepatan pembangunan pabrik baja ringan tersebut, PT PEMA optimistis Kawasan Industri Aceh Ladong akan berkembang menjadi salah satu pusat industri strategis di kawasan barat Indonesia sekaligus menjadi penggerak baru bagi peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi Aceh di masa mendatang.

















