Syariah

Khutbah Iblis yang Menyayat Hati 

Pada hari yang paling dahsyat dalam sejarah manusia—hari ketika seluruh makhluk dibangkitkan dari kubur, dikumpulkan di padang mahsyar, dan dihisab setiap amalnya—tidak ada lagi yang tersembunyi.

Segala dosa yang dahulu disembunyikan di dunia terbuka terang di hadapan Allah. Pada saat itulah manusia benar-benar menyadari siapa yang mereka ikuti, siapa yang mereka taati, dan siapa yang mereka jadikan pemimpin dalam kehidupan mereka.

Ketika keputusan telah ditetapkan, orang-orang beriman dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan, sementara orang-orang yang ingkar dan mengikuti jalan kesesatan digiring menuju neraka Jahannam yang menyala-nyala.

Api yang dahsyat, panas yang tak terbayangkan, dan penyesalan yang tidak lagi berguna menyelimuti hati mereka.

Pada saat itulah terjadi sebuah peristiwa yang sangat menggetarkan.

Iblis—makhluk yang sejak awal berjanji menyesatkan manusia—berdiri di atas mimbar dari api di tengah-tengah neraka.

Ia berkhutbah kepada para pengikutnya, kepada manusia yang dahulu mengikuti bisikannya, menuruti godaannya, dan menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin hidup mereka.

Khutbah itu bukan khutbah yang menenangkan. Bukan pula khutbah yang memberi harapan. Khutbah itu adalah khutbah yang membuka kenyataan pahit bahwa seluruh kehidupan mereka dahulu hanyalah sebuah tipuan.

Iblis berkata sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 22:

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Dan sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan aku hanya menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri.” (QS. Ibrahim: 22).

Baca Juga:  Cinta Rasul Bukan Sekadar Baca Shalawat 

Betapa pedihnya kata-kata itu bagi para penghuni neraka.

Mereka dahulu mengikuti bisikan Iblis ketika ia menghias maksiat agar tampak indah. Dosa terlihat ringan. Kezaliman terasa biasa.

Kebohongan dianggap wajar. Bahkan kemaksiatan sering kali dipandang sebagai kesenangan.

Iblis telah berjanji sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Aku akan menjadikan mereka memandang indah perbuatan maksiat di muka bumi. (QS. Al-Hijr: 39)

Dan benar, manusia pun terpedaya.

Banyak manusia yang dahulu menunda taubat, menunda ibadah, menunda kebaikan. Mereka merasa waktu masih panjang. Mereka merasa hidup masih lama. Mereka merasa dosa kecil tidak akan berarti apa-apa.

Namun ternyata semua itu hanyalah tipu daya.

Di neraka Jahannam, ketika semuanya telah terlambat, Iblis justru berdiri dan berkata bahwa ia tidak pernah memaksa siapa pun. Ia hanya mengajak, hanya membisikkan godaan, hanya menghias dosa agar terlihat indah.

Manusialah yang memilih untuk mengikutinya.

Manusialah yang memilih untuk menuruti hawa nafsunya.

Manusialah yang menutup telinga dari nasihat para nabi, para ulama, dan orang-orang saleh.

Di saat itu, penyesalan menguasai hati para penghuni neraka. Air mata mengalir, namun air mata itu tidak lagi memiliki arti. Teriakan meminta pertolongan tidak lagi didengar.

Permintaan untuk kembali ke dunia tidak lagi dikabulkan.

Lebih menyakitkan lagi, Iblis menegaskan bahwa ia berlepas diri dari mereka: “Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku.”

Iblis bahkan menyatakan bahwa sejak dahulu ia tidak pernah setuju manusia menyekutukan Allah atau menjadikannya sebagai pemimpin kesesatan.

Baca Juga:  Teknologi dan HP Bukan Musuh: Jadi Sarana Dakwah atau Membuka Pintu Maksiat

Betapa besar kehinaan manusia yang tertipu oleh makhluk yang bahkan tidak mau bertanggung jawab atas kesesatan mereka.

Di dunia dahulu, nasihat para ulama sering dianggap membosankan. Khutbah-khutbah agama sering tidak menyentuh hati. Ayat-ayat Al-Qur’an tidak menggugah jiwa mereka.

Namun di neraka Jahannam, khutbah Iblis justru menjadi khutbah yang paling menyentuh hati mereka—khutbah yang membuat mereka menangis, menyesal, dan menyadari kesalahan mereka.

Tetapi semuanya sudah terlambat. Penyesalan pada hari itu tidak lagi berguna.

Oleh karena itu, kisah khutbah Iblis ini bukan sekadar cerita tentang hari kiamat. Ia adalah peringatan bagi manusia yang masih hidup.

Selama napas masih ada, selama pintu taubat masih terbuka, selama matahari masih terbit dari timur, manusia masih memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Iblis hanya memiliki satu kekuatan: menggoda, dan mengajak manusia berbuat dosa, sert menghias dosa agar tampak indah.

Namun keputusan untuk melakukan dosa tetap berada di tangan manusia.

Karena itu, orang yang cerdas adalah orang yang menyadari tipu daya ini sejak di dunia.

Ia tidak menunggu sampai mendengar khutbah Iblis di neraka. Ia sudah tersentuh oleh nasihat Al-Qur’an, oleh khutbah para ulama, dan oleh peringatan dari Allah.

Semoga Allah menjaga hati kita dari bisikan Iblis, menjauhkan kita dari tipu dayanya, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat di dunia sebelum datang penyesalan di akhirat.

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang baru tersentuh oleh khutbah Iblis, ketika semuanya sudah terlambat.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait