Syariah

Ketum PB HUDA Ajak Mahasantri Lulusan Ma’had Aly Pertahankan Kesederhanaan dan Keadaban

Panton Labu, Infoaceh.net — Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA), Dr Tgk H Anwar Usman MM mengingatkan para mahasantri lulusan Ma’had Aly agar tetap mempertahankan karakter kesederhanaan, keadaban dan kebersahajaan yang menjadi bagian penting dari tradisi pendidikan dayah, meskipun telah menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar akademik.

Pesan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pada Wisuda Mahasantri Ma’had Aly Malikussaleh Panton Labu, Aceh Utara Tahun Akademik 1448 H/2026 M, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Ma’had Aly Malikussaleh dan dihadiri para mahasantri dan santri, perwakilan Ma’had Aly se-Aceh, perwakilan Kanwil Kementerian Agama Aceh, Dinas Pendidikan Dayah Aceh, para ulama, serta orang tua wisudawan dan wisudawati.

Dalam orasinya, Tgk Anwar Usman yang akrab disapa Abiya Kuta Krueng menekankan bahwa gelar akademik tidak boleh membuat seseorang kehilangan karakter dan nilai-nilai yang selama ini dibangun dalam kehidupan dayah.

“Saya juga ingin mengingatkan para wisudawan tetap mempertahankan kesederhanaan, keadaban dan kebersahajaan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dayah,” ujar Abiya dalam orasinya.

Abiya mengingatkan para lulusan agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada masyarakat.

“Jangan sampai setelah memperoleh gelar akademik, saudara merasa lebih tinggi daripada masyarakat. Jangan sampai gelar membuat saudara kehilangan adab,” kata Abiya.

Menurut Abiya Kuta Krueng yang juga Pimpinan Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng Ulee Gle Pidie Jaya ini, hakikat ilmu tidak terletak pada seberapa tinggi gelar yang diperoleh seseorang, tetapi pada bagaimana ilmu tersebut melahirkan kearifan dan kebijaksanaan dalam kehidupan.

“Sebab puncak dari ketinggian ilmu adalah kearifan dan kebijaksanaan. Orang yang benar-benar berilmu akan semakin memahami keterbatasan dirinya,” katanya.

Abiya menjelaskan orang berilmu bukan hanya ditandai oleh kemampuan berbicara dan berargumentasi, tetapi juga kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam kehidupan sosial. Orang yang berilmu, lanjutnya, mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

Baca Juga:  Habib Ahmad Muhdar Alatas Ajak Jamaah Arafah Rawat Istiqamah Subuh Berjamaah

Ia mampu berbeda pendapat tanpa merendahkan orang lain, menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kelembutan, serta mempertahankan prinsip tanpa menghilangkan penghormatan kepada sesama.

Bagi kita alumni dayah, ukuran keilmuan juga tampak dalam perilaku sehari-hari. Kearifan seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berbakti kepada kedua orang tua, menghormati guru, memperlakukan masyarakat, serta menggunakan ilmu yang dimilikinya.

“Kearifan itu terlihat dari cara kita berbakti kepada kedua orang tua. Terlihat dari cara kita menghormati guru. Terlihat dari cara kita memperlakukan masyarakat. Dan terlihat dari cara kita menggunakan ilmu yang kita miliki,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PB HUDA juga mengingatkan para lulusan untuk terus menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi fondasi pendidikan dayah. Abiya juga menyebut sejumlah nilai penting yang perlu terus dipertahankan, yaitu tawassuth, tasamuh, tawazun, amar ma’ruf nahi munkar, ta’aruf, dan ta’awun.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, penting untuk membentuk lulusan yang kuat dalam prinsip tetapi tetap santun dalam pergaulan.

“Jadilah orang yang teguh dalam prinsip, tetapi tidak keras dalam sikap. Jadilah orang yang memiliki ilmu, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.” pesan Abiya.

Abiya juga berpesan agar para alumni tidak hanya mampu memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk menerima nasihat.

“Jadilah orang yang mampu memberikan nasihat, tetapi juga bersedia menerima nasihat. Dan jadilah orang yang ketika berada di tengah masyarakat, kehadirannya menghadirkan ketenangan, bukan kegaduhan,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi penting karena para lulusan Ma’had Aly nantinya akan kembali ke tengah masyarakat dengan membawa tanggung jawab keilmuan. Mereka tidak hanya akan berhadapan dengan persoalan akademik, tetapi juga dengan keragaman pandangan, perbedaan kepentingan, persoalan sosial, serta berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat.

Karena itu, ilmu yang diperoleh di dayah diharapkan tidak menjadikan seseorang semakin jauh dari masyarakat.

Baca Juga:  Gaya Hidup Mewah Sebabkan Kerusakan Alam, Ustaz Amri Fatmi Ajak Reset Akhlak

Sebaliknya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kemampuan dan kesediaannya untuk hadir memberikan ketenangan, nasihat dan solusi.

Abiya Kuta Krueng juga mengingatkan wisuda bukanlah akhir perjalanan pendidikan. Gelar yang diperoleh justru membawa amanah lebih besar. “Hari ini saudara sekalian menerima sebuah gelar. Tetapi bersama gelar itu ada amanah yang jauh lebih besar,” tegasnya.

Menurutnya, para lulusan memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik almamater, terus mengembangkan ilmu, menghormati guru, membahagiakan orang tua, dan memberikan pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, ia meminta para wisudawan tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar. “Setelah wisuda ini, jangan berhenti menjadi pembelajar. Teruslah membaca. Teruslah bertanya. Teruslah memperdalam ilmu. Teruslah mengasah kemampuan. Dan jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu.”

Lebih jauh Abiya menekankan bahwa lulusan Ma’had Aly harus mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat. Ilmu yang mereka miliki harus mampu menjawab persoalan nyata, bukan berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan di ruang kelas. Ia berharap para alumni mampu menjadi bagian dari solusi ketika masyarakat menghadapi persoalan.

“Jika masyarakat sedang bingung, jadilah bagian yang menjernihkan. Jika masyarakat sedang terpecah, jadilah bagian yang merekatkan. Jika masyarakat kehilangan arah, jadilah bagian yang menunjukkan jalan,” ujar Abiya menambahkan.

Pesan tersebut sejalan dengan pandangannya bahwa Ma’had Aly harus melahirkan lulusan yang tidak hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga mampu membaca konteks kehidupan. Ilmu agama, menurutnya, harus turun ke tengah keluarga, masyarakat, persoalan umat, dan berbagai perubahan zaman.

Pada akhirnya, Abiya berharap para lulusan Ma’had Aly Malikussaleh menjadi generasi fuqaha yang mendalam ilmunya, luas wawasannya, kuat tradisinya, terbuka pikirannya, luhur akhlaknya, serta nyata pengabdiannya.

Di akhir orasinya, Abiya juga menitipkan pesan agar para alumni menjaga nama baik almamater, menjaga kehormatan ilmu, menghormati guru, berbakti kepada orang tua, terus belajar, dan kembali kepada masyarakat dengan membawa manfaat.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait