Banda Aceh, Infoaceh.net – Menjelang masa purnatugasnya pada 20 Juni 2026, Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah meluncurkan buku berjudul “Polda Aceh Meutuah: Sabe Ta Jaga Aceh Mulia” dalam sebuah acara yang berlangsung di Gedung Landmark BSI Aceh, Rabu (3/6/2026).
Peluncuran buku tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan pengabdian Irjen Pol Marzuki Ali Basyah di Aceh.
Buku ini tidak hanya merekam pengalaman dan pemikirannya selama memimpin Polda Aceh, tetapi juga memuat gagasan strategis mengenai pembangunan keamanan dan ketertiban masyarakat yang berakar pada nilai-nilai budaya, adat istiadat, serta kearifan lokal Aceh.
Melalui semangat “Sabe Ta Jaga Aceh Mulia”, buku tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga marwah, keharmonisan sosial, serta kemuliaan Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhususan dalam aspek adat, budaya, dan agama.
Dalam pemaparannya, Kapolda Aceh menjelaskan bahwa konsep “Polda Aceh Meutuah” merupakan manifestasi komitmen Polri untuk menghadirkan pelayanan yang humanis, profesional, berintegritas, dan dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan menjaga keamanan dan ketertiban tidak hanya bergantung pada aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat.
“Keistimewaan Aceh terletak pada kekuatan nilai agama, adat, dan budaya yang diwariskan oleh para pendahulu. Melalui semangat Polda Aceh Meutuah dan Sabe Ta Jaga Aceh Mulia, kita ingin membangun kesadaran bersama bahwa menjaga Aceh yang aman dan bermartabat adalah tanggung jawab seluruh masyarakat,” ujar Marzuki Ali Basyah.
Ia menegaskan bahwa pendekatan keamanan yang mengedepankan kearifan lokal telah menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga stabilitas daerah. Menurutnya, hubungan harmonis antara kepolisian dan masyarakat merupakan modal utama dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif.
Kapolda berharap buku yang diluncurkan tersebut dapat menjadi referensi sekaligus sumber inspirasi bagi berbagai kalangan, baik aparat pemerintah, akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap pembangunan daerah dan keamanan berbasis budaya.
“Semoga buku ini bisa bermanfaat dan menjadi sumbangsih bagi Aceh nantinya,” kata Marzuki.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun, yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku yang ditulis oleh Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Menurut Nasir, buku tersebut tidak hanya mendokumentasikan perjalanan pengabdian Kapolda Aceh, tetapi juga merekam berbagai gagasan dan pemikiran yang relevan dalam upaya menjaga keamanan, ketertiban, dan pembangunan sosial masyarakat Aceh.
Ia menilai konsep Polda Aceh Meutuah mencerminkan paradigma kepolisian modern yang tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga menempatkan diri sebagai mitra masyarakat dalam menciptakan kesejahteraan dan ketenteraman sosial.
“Kami memahami bahwa konsep Polda Aceh Meutuah mencerminkan visi kepolisian yang tidak hanya berperan sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra dan pengayom masyarakat dalam mewujudkan keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan,” ujar Nasir.
Menurut Sekda, buku tersebut menjadi catatan penting yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai sumber pembelajaran mengenai kepemimpinan, pengabdian, serta strategi pembangunan keamanan yang mengedepankan pendekatan budaya dan nilai-nilai lokal.
Nasir juga berharap gagasan yang tertuang dalam buku tersebut dapat terus dikembangkan oleh berbagai pihak sehingga menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga perdamaian dan kemajuan Aceh.
Peluncuran buku berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan antusiasme. Acara tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, anggota Komisi III DPR RI, sejumlah bupati dan wali kota, pejabat utama Polda Aceh, para kapolres se-Aceh, akademisi, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen lainnya.
Kehadiran berbagai unsur pemerintahan, legislatif, akademisi, dan tokoh masyarakat menunjukkan dukungan terhadap penguatan sinergi antara kepolisian dan masyarakat dalam menjaga keamanan daerah.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas isi buku serta berbagai gagasan terkait pembangunan keamanan di Aceh.
Dalam forum tersebut, para peserta memberikan pandangan dan masukan mengenai pentingnya memperkuat kolaborasi antara aparat keamanan, pemerintah, ulama, akademisi, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di masa mendatang.
Buku “Polda Aceh Meutuah: Sabe Ta Jaga Aceh Mulia” diharapkan menjadi salah satu warisan pemikiran yang dapat memperkuat literasi publik sekaligus meneguhkan semangat kebersamaan dalam menjaga Aceh sebagai daerah yang aman, damai, maju, dan bermartabat.
Peluncuran buku ini juga menjadi penanda akhir masa pengabdian Irjen Pol Marzuki Ali Basyah sebagai Kapolda Aceh, sekaligus meninggalkan jejak pemikiran yang menekankan bahwa keamanan bukan semata tugas aparat, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat Aceh untuk menjaga daerahnya tetap mulia sebagaimana cita-cita yang diusung dalam semangat “Sabe Ta Jaga Aceh Mulia”.


















