Syariah

Harta dan Anak, Perhiasan Dunia yang Bisa Berubah Menjadi Fitnah

ACEH BESAR, Infoaceh.net – Al-Qur’an memberikan pandangan yang seimbang tentang harta dan keturunan. Keduanya merupakan perhiasan kehidupan dunia yang menjadi nikmat bagi manusia, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi ujian dalam kehidupan beragama.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Umum sekaligus Guru Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Siem, Aceh Besar, Ustaz Dr H Muakhir Zakaria MA dalam khutbah Jum’at di Masjid Darul Hasani Miruek Taman, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Jum’at (18/9/2026), bertepatan 6 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.

Menurut Ustaz Muakhir, hubungan antara perhiasan dan fitnah pada harta serta anak dapat dipahami melalui satu prinsip. Harta dan anak merupakan nikmat yang Allah Swt. titipkan kepada manusia.

Keduanya dapat menjadi perhiasan apabila mengantarkan seseorang kepada ketaatan, tetapi dapat berubah menjadi fitnah apabila justru menjauhkannya dari Allah.

“Jika keduanya membawa kita kepada ketaatan kepada Allah, maka keduanya menjadi nikmat dan perhiasan. Namun jika keduanya membawa kita kepada kemaksiatan kepada Allah, maka keduanya berubah menjadi fitnah dan bencana bagi kita,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Al-Kahfi ayat 46:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

Ustaz Muakhir menjelaskan, ayat tersebut menggambarkan harta dan anak sebagai dua bentuk perhiasan dunia yang sangat dicintai manusia. Keduanya memiliki manfaat besar dalam kehidupan, tetapi tidak boleh ditempatkan sebagai tujuan akhir.

Mengutip penjelasan Imam Al-Qurthubi, ia menyebut harta dan anak disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia karena pada harta terdapat keindahan sekaligus manfaat, sedangkan anak memberikan kekuatan dan dukungan.

Harta dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berbagai kepentingan manusia. Sementara anak dapat memberikan kebahagiaan, ketenteraman, kekuatan, menjadi penerus keturunan, sekaligus menjadi penolong bagi orang tua.

Baca Juga:  Cinta Rasul Bukan Sekadar Baca Shalawat 

Namun, Al-Qur’an juga mengingatkan sisi lain dari kedua nikmat tersebut.
Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Taghabun ayat 15:

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

Menurut Imam Ath-Thabari, harta dan anak merupakan ujian bagi manusia. Allah memberikan keduanya untuk menguji apakah manusia menunaikan hak Allah atas nikmat tersebut dan menaati perintah-Nya, atau justru menjadi lalai karena terlalu sibuk mengurus harta dan keluarga.

Imam Al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa kata fitnah dalam ayat tersebut bermakna ujian atau cobaan.

Ustaz Muakhir menjelaskan, harta dan keturunan secara khusus disebutkan dalam ayat tersebut karena keduanya memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap hati manusia.

Seseorang bisa bekerja keras siang dan malam untuk mengumpulkan harta. Setelah berhasil mendapatkannya, muncul pula rasa takut kehilangan kekayaan tersebut.
Demikian pula dengan anak. Orang tua dapat melakukan berbagai hal demi menjamin masa depan anak-anaknya.

Persoalan muncul ketika kecintaan kepada keluarga membuat seseorang mengabaikan batas-batas yang telah ditetapkan agama.
“Bahkan terkadang seseorang bisa tergoda untuk melanggar aturan halal dan haram dengan alasan demi keluarga dan anak-anak,” jelasnya.

Menurut dia, kekeliruan dalam memandang hakikat harta dan keturunan dapat menjadi salah satu akar munculnya berbagai persoalan dalam kehidupan manusia.
Karena itu, orientasi terhadap keduanya perlu diluruskan.

Pertama, harta bukan tujuan akhir kehidupan. Allah menyebut harta sebagai perhiasan kehidupan dunia, bukan sebagai tujuan hidup manusia. Perhiasan berfungsi memperindah kehidupan, tetapi tidak seharusnya menguasai hati.

Ketika seseorang menjadikan harta sebagai tujuan utama, menurut Ustaz Muakhir, batas antara yang halal dan haram dapat semakin kabur. Dari sinilah keserakahan dapat berkembang menjadi berbagai bentuk penyimpangan, seperti penipuan, suap, penggelapan hingga korupsi.

“Korupsi pada hakikatnya bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga krisis amanah dan penyakit moral. Seseorang yang mengambil harta yang bukan haknya telah mengorbankan kejujuran demi perhiasan dunia yang sementara,” ungkapnya.

Baca Juga:  Plt. Sekda Lepas 81 Orang Kafilah Aceh Ikuti MTQ ke-31 Tingkat Nasional

Ia menegaskan bahwa harta seharusnya menjadi sarana untuk menjalankan kehidupan dan berbuat kebaikan, bukan sesuatu yang mengendalikan manusia hingga mengorbankan prinsip agama dan moral.

Kedua, anak merupakan amanah, bukan sekadar kebanggaan. Menurut Ustaz Muakhir, orang tua tidak cukup hanya menginginkan anak sukses secara akademik, memiliki pekerjaan yang baik, kaya atau memiliki status sosial tinggi.
Lebih dari itu, anak harus dibekali iman, ilmu, akhlak dan rasa tanggung jawab.

Orang tua yang hanya mengejar prestasi, kekayaan dan status sosial anak tanpa membangun moral dan integritasnya berpotensi melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan, tetapi lemah dalam karakter.

Karena itu, keberhasilan pendidikan anak tidak semata-mata diukur dari pencapaian duniawi. Pendidikan agama, akhlak dan tanggung jawab harus menjadi bagian penting dalam membentuk masa depan generasi.

Ketiga, ayat tersebut mengingatkan manusia untuk mengubah orientasi hidup.
Setelah menyebut harta dan anak sebagai perhiasan dunia, Allah Swt. menegaskan bahwa amal-amal kebajikan yang kekal jauh lebih baik di sisi-Nya.

Dengan demikian, harta dan anak bukan sesuatu yang harus dijauhi. Keduanya justru dapat menjadi jalan menuju kebaikan apabila dikelola berdasarkan iman dan ketaatan.

Harta dapat digunakan untuk membantu sesama, memenuhi kewajiban, membangun pendidikan, berwakaf, bersedekah dan berbagai amal lainnya.

Begitu pula anak dapat menjadi sumber pahala apabila dididik menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Artinya yang harus menjadi ukuran keberhasilan,” pungkas Ustaz Muakhir.

Pesan khutbah tersebut pada akhirnya mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan hidup seorang Muslim bukan semata-mata seberapa banyak harta yang dikumpulkan atau seberapa tinggi pencapaian anak-anaknya.

Tetapi sejauh mana seluruh nikmat tersebut menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan menghadirkan amal saleh yang manfaatnya terus berlanjut.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait