Aceh

Haji Uma Cek Langsung Baut Jembatan Bailey Teupin Mane, Ini Temuan di Lapangan

Bireuen, Infoaceh.net — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, H. Sudirman atau akrab disapa Haji Uma, meninjau langsung Jembatan Bailey penghubung Bireuen–Takengon, tepatnya di Gampong Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Peninjauan tersebut dilakukan menyusul beredarnya informasi dugaan hilangnya baut jembatan karena pencurian.

“Hari ini agar isu ini tidak menjadi konsumsi liar, kami hadir langsung ke lokasi untuk mengevaluasi dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi di jembatan ini. Apakah benar ada pembongkaran mur atau baut jembatan,” ujar Haji Uma, Kamis (1/1/2026).

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Untuk memperoleh informasi yang berimbang, Haji Uma mengaku telah berdialog langsung dengan Keuchik Teupin Mane, tokoh masyarakat setempat, serta Babinsa yang bertugas di wilayah tersebut.

“Setelah kita duduk bersama dan melihat langsung kondisi jembatan, memang ada satu bagian di sisi atas yang berbeda. Ukurannya sekitar satu setengah meter dan warna catnya tidak sama dengan bagian lain. Menurut keterangan Babinsa, bagian itulah yang sebelumnya hilang dan sudah diganti,” jelasnya.

Haji Uma menilai, jika dilihat dari sisi ekonomi, dugaan pencurian baut jembatan tersebut masih menimbulkan tanda tanya.

Pasalnya, berat baut yang disebut hilang hanya sekitar dua kilogram dengan panjang sekitar 1,5 meter.

Baca Juga:  Bupati dan Ketua DPRK Aceh Besar Perjuangkan Pemekaran Aceh Raya di Rapimnas Forkonas PP DOB

“Kalau motifnya pencurian, kenapa hanya satu baut yang diambil, sementara masih banyak besi lain di jembatan ini? Kalau motifnya perusakan, kenapa mur-mur lainnya masih utuh? Ini yang perlu kita sikapi dengan bijak,” ujar senator asal Aceh itu.

Ia juga menyebutkan keterangan Babinsa yang menyatakan pelaku diduga sempat membongkar beberapa mur di bagian atas jembatan. Namun, hingga kini motif pasti dari peristiwa tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Dalam kesempatan itu, Haji Uma mengajak semua pihak tidak serta-merta menyudutkan warga setempat. Ia menegaskan selama ini masyarakat Teupin Mane justru turut menjaga keberadaan jembatan tersebut.

“Saya pikir isu ini sebaiknya disikapi dengan kepala dingin. Warga di sini selalu menjaga jembatan. Justru yang perlu dievaluasi adalah standar operasionalnya,” katanya.

Menurut Haji Uma, setiap jembatan Bailey semestinya mendapat penjagaan penuh dari pemerintah, mengingat fungsinya yang vital bagi mobilitas dan perekonomian masyarakat.

“Seharusnya setiap jembatan Bailey ada penjagaan 24 jam. Ini penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Selain mengecek dugaan pembongkaran, Haji Uma juga menyoroti aspek teknis konstruksi jembatan. Dalam inspeksi mendadak tersebut, ia menemukan sejumlah baut yang dinilai tidak sesuai standar.

Baca Juga:  Waled Nu Minta DPRA Dukung Anggaran Balai Rehabilitasi Narkoba, Desak Pemerintah Aceh Terbitkan Pergub P4GN

“Seharusnya baut ini lebih panjang dan dilengkapi mur pengunci sampai ke bawah. Tapi di beberapa titik tidak ada mur penahan. Ini terkesan hanya dipasang saja,” ujar Haji Uma saat memeriksa langsung sambungan rangka jembatan.

Ia mempertanyakan fungsi teknis baut-baut tersebut, apakah benar berperan sebagai pengunci konstruksi atau sekadar terpasang tanpa standar keamanan yang jelas.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Tak hanya itu, Haji Uma juga menyoroti minimnya pengamanan dan pengawasan di lokasi jembatan.

Berdasarkan keterangan warga, kendaraan—termasuk yang bermuatan berat—melintas tanpa pengaturan.

“Kalau mobil mau lewat, langsung lewat saja. Tidak ada petugas yang berjaga,” ungkap salah seorang warga kepada Haji Uma.

Atas temuan tersebut, Haji Uma meminta pihak terkait segera melakukan evaluasi teknis secara menyeluruh terhadap Jembatan Bailey Teupin Mane.

Ia menegaskan perlunya pemasangan baut dan mur sesuai spesifikasi teknis, pembatasan kendaraan bermuatan berat, serta penyediaan pengamanan dan pengaturan lalu lintas.

“Jembatan ini akses vital masyarakat. Aspek keselamatan tidak boleh diabaikan. Pemerintah harus segera bertindak,” pungkasnya.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait